Kabupaten Kotawaringin Barat | Kotyo, warga Raja Seberang, Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), kehilangan kebun sawit dan kebun lainnya setelah dilalap api. Kebakaran masih terjadi sepanjang Oktober. Puluhan hektare lahan pribadi warga hangus tak bersisa.
Data lain dalam laporan menunjukkan Kotyo menyebut karhutla tahun ini sebagai yang terparah sejak 2007. Karhutla bencana terparah sejak 2007, kebun saya sudah ludes terbakar. Sekitar 3 hektare kebun sawit punya saya," kata Kotyo, Minggu (11/10/2026). Dalam periode yang sama, tercatat 23.779 titik panas. Pada periode 1-11 Oktober 2026, tercatat 7.956 titik panas dengan luas lahan terbakar mencapai 176,27 hektare.
Informasi lain yang berkaitan dengan peristiwa tersebut mencakup Warga pemilik kebun turut merasakan dampak langsung dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masif di Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Penanganan berkelanjutan diperlukan untuk mencegah api meluas dan menekan risiko kebakaran berulang," katanya. Namun, bagi warga yang kebunnya sudah terbakar, padamnya api bukan berarti persoalan selesai. Tanaman yang rusak atau mati dapat menghilangkan hasil kebun, sementara pemulihan membutuhkan waktu dan bergantung pada tingkat kerusakan lahan.
Berdasarkan rekapitulasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kobar dan data SiPongi Kementerian Kehutanan, luas lahan terbakar di wilayah tersebut sejak 1 Januari hingga 11 Oktober 2026 mencapai 2.830,18 hektare. Kondisi ini menunjukkan wilayah tersebut turut menghadapi dampak kebakaran yang meluas. Upaya pengendalian kebakaran tersebar di enam kecamatan, yakni Arut Selatan, Arut Utara, Kotawaringin Lama, Kumai, Pangkalan Banteng, dan Pangkalan Lada. Angka tersebut merupakan bagian dari catatan kumulatif sejak awal tahun. Di Kelurahan Raja Seberang, lokasi tempat tinggal Kotyo, tercatat 348 titik panas dan sekitar 50 hektare lahan terbakar selama periode 1-11 Oktober. Kepala Pelaksana BPBD Kobar, Samuel, mencatat sebanyak 562 kegiatan penanganan karhutla telah dilakukan sejak awal Januari hingga 11 Oktober 2026. Khusus selama 1-11 Oktober, terdapat 69 kegiatan penanganan dengan luas penanganan tercatat 176,27 hektare. Dengan luas lahan terbakar mencapai 2.830,18 hektare sejak awal tahun, pencegahan kebakaran dan perlindungan terhadap lahan milik masyarakat menjadi tantangan penting di Kobar. Bencana tahun ini bukan sekadar catatan kebakaran, melainkan kehilangan kebun yang selama ini menjadi bagian dari kehidupannya," pungkasnya.
Baca juga: Kebakaran Terjadi di Savana Pengol TNBTS | LIRA Soroti Dugaan Tambang dan Pabrik HS Salam Magelang: Jangan Tunggu Tragedi Terjadi | Tindakan Cepat Atasi Kebakaran Lahan di Sota
