AWG Peringati 1.000 Hari Konflik Gaza, Desak Perlindungan Warga Sipil dan Akses Pendidikan

AWG Peringati 1.000 Hari Konflik Gaza, Desak Perlindungan Warga Sipil dan Akses Pendidikan

JAKARTA – Suasana di seberang Kedutaan Besar Amerika Serikat, Jalan Medan Merdeka Selatan, Gambir, Jakarta Pusat, Jumat (3/7/2026) sore, kembali diwarnai aksi solidaritas untuk Palestina. Puluhan peserta yang tergabung dalam Aqsa Working Group (AWG) menggelar aksi Jumat rutin edisi ke-51 dengan mengangkat tema “Hentikan Genosida: Kembalikan Hak Hidup dan Pendidikan Anak-anak Palestina.”

Kegiatan yang berlangsung sekitar pukul 16.00 hingga 17.20 WIB itu diikuti sekitar 40 peserta. Mereka datang membawa berbagai atribut berupa bendera Palestina, bendera Merah Putih, spanduk, poster, serta perangkat pengeras suara untuk menyampaikan aspirasi secara terbuka. Selama kegiatan berlangsung, situasi di sekitar lokasi terpantau berjalan tertib dan kondusif.

Sebelum aksi resmi dimulai, para peserta sudah mulai berdatangan sejak pukul 15.15 WIB. Mereka mempersiapkan perlengkapan aksi secara bertahap hingga jumlah massa terus bertambah. Menjelang pukul 16.00 WIB, peserta membentuk lingkaran sebagai titik utama kegiatan sebelum rangkaian acara dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Aqila Azkaa Hakim.

Momentum aksi kali ini bertepatan dengan penyebutan 1.000 hari sejak dimulainya konflik bersenjata di Gaza yang menjadi fokus utama penyampaian aspirasi peserta. Sejumlah poster yang dibawa massa memuat tulisan seperti “1000 Days of Genocide”, “1000 Hari Genosida, Dunia Gagal Hentikan Genosida oleh Zionis”, hingga ajakan untuk terus menggelar aksi solidaritas bagi Palestina sampai Masjid Al Aqsa dinyatakan terbebaskan.

Sekretaris Jenderal AWG, Ustaz Yusuf Maulana, dalam sambutannya mengatakan bahwa aksi yang telah memasuki edisi ke-51 merupakan bentuk konsistensi para relawan dalam menjaga kepedulian terhadap kondisi masyarakat Palestina. Menurutnya, perjalanan panjang aksi mingguan tersebut tidak terlepas dari berbagai tantangan, namun seluruh peserta tetap berupaya hadir sebagai bentuk dukungan moral.

Ia juga menyoroti situasi kemanusiaan di Gaza yang menurutnya telah memasuki fase yang sangat memprihatinkan. Dalam penyampaiannya disebutkan bahwa ribuan warga sipil menjadi korban meninggal dunia, puluhan ribu lainnya mengalami luka-luka maupun dinyatakan hilang, sementara sebagian besar infrastruktur di wilayah tersebut mengalami kerusakan berat. Kondisi tersebut, kata dia, menjadi pengingat agar masyarakat internasional tidak berhenti memberikan perhatian terhadap penderitaan warga Palestina.

Memasuki sesi orasi, sejumlah pembicara menyampaikan pandangan dari berbagai perspektif. Meilina Fitrianti mengajak masyarakat untuk terus menjaga solidaritas terhadap Palestina melalui doa dan aksi damai. Ia menilai perjuangan yang dilakukan setiap pekan merupakan bentuk kepedulian yang harus terus dipelihara meski konflik telah berlangsung dalam waktu yang panjang.

Dalam orasinya, Meilina juga menyoroti berbagai dampak yang menurutnya ditimbulkan akibat konflik berkepanjangan, mulai dari jatuhnya korban sipil hingga kerusakan lingkungan. Ia menyebut keberadaan pohon-pohon zaitun yang telah tumbuh selama ratusan bahkan ribuan tahun di Palestina turut mengalami kerusakan sehingga menambah panjang daftar dampak yang dirasakan masyarakat setempat.

Sementara itu, aktivis hak asasi manusia Elzafira lebih banyak menekankan persoalan pendidikan di Jalur Gaza. Ia menyampaikan bahwa sektor pendidikan menjadi salah satu bidang yang mengalami dampak serius akibat konflik berkepanjangan. Menurut data yang ia paparkan dalam orasi, sebagian besar fasilitas pendidikan mengalami kerusakan berat sehingga ratusan ribu pelajar kehilangan kesempatan mengikuti proses belajar mengajar secara normal.

Ia menjelaskan bahwa kondisi tersebut telah berlangsung selama beberapa tahun terakhir dan berimbas pada terganggunya akses pendidikan bagi anak-anak usia sekolah. Selain kerusakan bangunan sekolah, situasi keamanan yang belum kondusif juga disebut menjadi faktor yang menghambat penyelenggaraan pendidikan secara tatap muka.

Rangkaian aksi kemudian dilanjutkan dengan pembacaan pernyataan sikap yang disampaikan Ustaz Moch Edo Abdillah. Isi pernyataan tersebut menegaskan kembali sikap AWG yang menyerukan penghentian kekerasan, perlindungan terhadap warga sipil, serta pemulihan hak-hak dasar masyarakat Palestina, termasuk hak memperoleh pendidikan dan kehidupan yang aman.

Di sela kegiatan, peserta beberapa kali mengangkat poster dan bendera Palestina sambil menyuarakan seruan solidaritas. Aksi berlangsung tanpa adanya tindakan yang mengganggu ketertiban umum. Arus lalu lintas di sekitar kawasan Medan Merdeka Selatan tetap dapat berjalan dengan pengawasan aparat keamanan yang berjaga di sekitar lokasi.

Menjelang berakhirnya kegiatan, seluruh peserta mengikuti doa bersama sebagai penutup rangkaian aksi. Doa dipimpin sekitar pukul 17.16 WIB sebagai bentuk harapan agar konflik segera berakhir dan masyarakat sipil memperoleh perlindungan serta kehidupan yang lebih baik.

Sekitar pukul 17.20 WIB, koordinator aksi menyatakan kegiatan selesai. Massa kemudian membubarkan diri secara bertahap sambil membawa kembali atribut yang digunakan selama aksi berlangsung. Tidak terlihat adanya insiden maupun gangguan keamanan hingga seluruh peserta meninggalkan lokasi.

Aksi Jumat rutin yang digelar AWG tersebut kembali menjadi wadah penyampaian aspirasi secara damai terkait isu kemanusiaan di Palestina. Selain menyerukan penghentian kekerasan, kegiatan juga menyoroti pentingnya perlindungan terhadap hak hidup, akses pendidikan bagi anak-anak, serta meningkatnya kepedulian masyarakat internasional terhadap dampak konflik yang masih berlangsung di Gaza.

Pewarta: Abdul Latif

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *