KABUPATEN MALANG, JAWA TIMUR — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 Oktober 2026, Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur Said Abdullah memimpin kegiatan bakti sosial bertajuk “Pertalian Cinta DPD PDI Perjuangan Jawa Timur Bersama Masyarakat Kabupaten Malang”. Kegiatan tersebut digelar pada Jumat, 9 Oktober, di halaman kantor DPC PDI Perjuangan Kabupaten Malang, Desa Mojosari, Kecamatan Kepanjen. Agenda ini menjadi wujud kepedulian partai terhadap masyarakat sekaligus ruang untuk memperkuat hubungan sosial di wilayah Kabupaten Malang.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan tersebut memadukan sejumlah agenda yang saling berkaitan. Bakti sosial menjadi bagian utama melalui penyaluran sembako dan santunan bagi anak yatim. Bantuan itu disalurkan sebagai bentuk perhatian serta kepedulian kepada masyarakat yang membutuhkan. Kehadiran kegiatan sosial ini menegaskan bahwa kerja politik tidak hanya berlangsung dalam ruang organisasi, tetapi juga diwujudkan melalui kegiatan yang memberi manfaat secara langsung.
Selain penyaluran bantuan, agenda tersebut turut mencakup pembangunan sarana pendidikan. Unsur ini memperlihatkan perhatian terhadap pentingnya dukungan bagi lingkungan belajar dan pengembangan pendidikan masyarakat. Pembangunan sarana pendidikan ditempatkan sebagai bagian dari rangkaian kegiatan yang memiliki manfaat jangka panjang, sehingga bakti sosial tidak berhenti pada bantuan kebutuhan sehari-hari, tetapi juga menyentuh penguatan fasilitas pendidikan.
Kegiatan di Kabupaten Malang itu juga menjadi momentum konsolidasi internal PDI Perjuangan. Pertemuan yang dihadiri jajaran partai dan masyarakat tersebut mempertemukan pelaksanaan program sosial dengan penguatan koordinasi organisasi. Melalui agenda bersama itu, partai menjalankan kepedulian sosial sekaligus menjaga soliditas internal. Dengan memadukan bantuan sosial, pembangunan sarana pendidikan, dan konsolidasi, kegiatan “Pertalian Cinta” mencerminkan rangkaian kerja partai yang berorientasi pada hubungan dengan masyarakat serta penguatan organisasi.
Kegiatan bakti sosial yang digelar PDI Perjuangan Jawa Timur di Malang menghadirkan dua agenda utama, yaitu pembagian 1.000 paket sembako bagi kaum marhaen dan pemberian santunan kepada anak yatim. Pembagian sembako tersebut menjadi bentuk perhatian kepada masyarakat yang membutuhkan dukungan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sementara itu, santunan anak yatim menegaskan kepedulian terhadap kelompok yang juga memerlukan perhatian dan dukungan bersama.
Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Malang, Didik Gatot Subroto, yang akrab disapa Sam Didik, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan wujud kepedulian kepada masyarakat. Menurutnya, perhatian perlu diberikan terutama kepada kelompok yang membutuhkan dukungan. Kaum marhaen dan anak yatim menjadi kelompok yang mendapat perhatian dalam agenda sosial tersebut. Kehadiran kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat hubungan partai dan masyarakat melalui aksi nyata yang menyentuh kebutuhan sosial.
Bagi Sam Didik, bakti sosial tidak semata-mata dimaknai sebagai pembagian bantuan materi. Kegiatan tersebut juga menjadi upaya untuk merawat kebersamaan dan mempertahankan semangat gotong royong di tengah masyarakat. Pembagian 1.000 paket sembako serta santunan kepada anak yatim mencerminkan nilai kepedulian yang diwujudkan secara langsung, sekaligus mengingatkan pentingnya saling membantu. Dengan demikian, agenda sosial itu tidak hanya berfokus pada bantuan yang disalurkan, tetapi juga pada penguatan rasa kebersamaan dan kepedulian terhadap sesama.
Rangkaian bakti sosial PDI Perjuangan Jawa Timur di Malang tidak hanya diisi dengan penyaluran sembako dan santunan bagi anak yatim. Agenda tersebut juga ditandai dengan peletakan batu pertama pembangunan Sekolah Tahfidz Alqur’an Puan Maharani oleh Said Abdullah. Pembangunan sarana pendidikan ini menjadi bagian penting dari kegiatan karena menghadirkan manfaat yang diharapkan dapat dirasakan masyarakat dalam jangka panjang, khususnya dalam mendukung pembelajaran keagamaan dan pembentukan karakter generasi muda.
Sekolah Tahfidz Alqur’an Puan Maharani diharapkan menjadi ruang pendidikan yang mampu memperluas akses anak-anak untuk mempelajari Alqur’an secara terarah. Kehadiran fasilitas tersebut juga dapat memperkuat peran masyarakat dalam menyiapkan generasi yang memiliki pengetahuan, kedisiplinan, dan kepedulian sosial. Dengan demikian, pembangunan ini tidak berhenti sebagai seremoni peletakan batu pertama, tetapi menjadi langkah awal bagi tersedianya sarana yang terus memberi manfaat bagi warga di masa mendatang.
Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kabupaten Malang sekaligus Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Malang, Abdul Qodir atau Adeng, menjelaskan makna istilah “pertalian cinta” yang digunakan dalam rangkaian kegiatan tersebut. Menurutnya, pertalian cinta bukan sekadar tema acara, melainkan ikatan batin yang lahir dari ketulusan, diwujudkan melalui kepedulian, dan dibuktikan dengan pengabdian kepada sesama. Nilai itu, sebagaimana ditekankan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati, perlu hadir dalam tindakan nyata. Adeng mengaitkan prinsip tersebut dengan sikap Said Abdullah yang dinilai konsisten berbuat tulus dan menunjukkan kepedulian kepada masyarakat. Melalui pembangunan sekolah tahfidz serta kegiatan sosial lainnya, kepedulian itu dipandang tidak hanya disampaikan dalam pernyataan, tetapi diwujudkan melalui kontribusi yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Rangkaian kegiatan tersebut kemudian dilanjutkan dengan agenda konsolidasi internal yang menghadirkan seluruh pengurus Pimpinan Anak Cabang (PAC) PDI Perjuangan se-Kabupaten Malang. Pertemuan ini menjadi ruang untuk memperkuat soliditas organisasi sekaligus menyatukan langkah perjuangan seluruh struktur partai di Kabupaten Malang. Melalui konsolidasi, setiap unsur kepengurusan dapat menyelaraskan program, mempererat komunikasi, serta memastikan kerja-kerja kerakyatan berjalan secara terarah dan berkesinambungan.
Adeng menyampaikan bahwa keberpihakan kepada wong cilik merupakan bagian penting dari napas ideologis PDI Perjuangan. Menurutnya, ideologi tidak cukup hanya dipahami sebagai gagasan, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Perhatian kepada kaum marhaen, santunan bagi anak yatim, serta pembangunan sarana pendidikan merupakan contoh konkret dari upaya menerjemahkan nilai perjuangan ke dalam kerja sosial. Sikap tersebut juga menegaskan bahwa keberadaan partai harus senantiasa dekat dengan kebutuhan rakyat dan hadir ketika masyarakat memerlukan dukungan.
Dengan demikian, kegiatan di Malang memuat tiga unsur utama, yakni kepedulian sosial, pembangunan sarana kemasyarakatan, dan penguatan organisasi. Ketiganya saling melengkapi sebagai bagian dari pengabdian politik yang berorientasi pada kesejahteraan rakyat. Konsolidasi internal memastikan seluruh struktur memiliki semangat dan arah yang sama, sementara kegiatan sosial serta pembangunan fasilitas kemasyarakatan menghadirkan manfaat yang dapat dirasakan langsung. Perjuangan yang berakar pada ideologi perlu dijalankan dengan ketulusan, kepedulian, dan pengabdian nyata kepada sesama, terutama kepada masyarakat kecil yang menjadi bagian penting dari amanat perjuangan partai.
