Kota Administrasi Jakarta Pusat Eric PZ Lumbun | Dalam pandangan Wakil Wali Kota Administrasi Jakarta Pusat Eric PZ Lumbun, ekonomi kreatif perlu terus didorong agar keberadaannya tidak berhenti sebagai ruang berekspresi. Kegiatan kreatif memang memberi tempat bagi masyarakat untuk menyampaikan gagasan dan menghasilkan karya, tetapi potensi tersebut perlu diarahkan sehingga dapat terhubung dengan kesempatan ekonomi. Dengan demikian, pengembangan ekonomi kreatif tidak hanya berkenaan dengan aktivitas penciptaan karya, melainkan juga dengan upaya menjadikan kreativitas sebagai bagian dari kegiatan usaha yang membuka manfaat bagi masyarakat. Dorongan itu penting untuk menjaga agar ruang berekspresi dapat berkembang sekaligus memberikan jalan bagi munculnya peluang produktif yang dapat dirasakan oleh masyarakat dalam kehidupan ekonomi.
Tujuan yang disampaikan Eric mencakup pembukaan peluang usaha, penciptaan lapangan kerja, serta kontribusi nyata terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat. Ketiga hal tersebut menegaskan bahwa kegiatan kreatif diharapkan memiliki hubungan dengan kebutuhan dan kesempatan ekonomi, bukan semata-mata menjadi wadah untuk menampilkan ekspresi. Peluang usaha memberi ruang bagi kreativitas untuk dikembangkan dalam bentuk kegiatan yang bernilai ekonomi. Pada saat yang sama, berkembangnya kegiatan tersebut diharapkan dapat membuka lapangan kerja. Melalui arah itu, ekonomi kreatif dapat berperan dalam memberi kontribusi yang nyata bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat. Pernyataan ini menempatkan manfaat bagi warga sebagai bagian penting dari tujuan pengembangan, tanpa memisahkan kreativitas dari peluang ekonomi.
Mendorong ekonomi kreatif, dalam kerangka pandangan tersebut, berarti memberi perhatian pada potensi karya dan gagasan sekaligus pada kemungkinan pemanfaatannya untuk kegiatan usaha dan kesempatan kerja. Penekanan ini tidak mengurangi peran ekspresi kreatif, tetapi memperluas harapan atas manfaat yang dapat dihasilkan. Ekonomi kreatif diharapkan mampu menghubungkan ruang berekspresi dengan peluang usaha, lalu mendukung penciptaan lapangan kerja dan memberikan kontribusi kepada pertumbuhan ekonomi masyarakat. Arah yang diutarakan Eric tersebut merupakan tujuan pengembangan, bukan ukuran dampak yang telah dicapai. Dengan menjaga fokus pada tujuan itu, pengembangan ekonomi kreatif dapat dipahami sebagai upaya agar kreativitas tidak berhenti pada ekspresi, melainkan juga membuka manfaat ekonomi.
Penguatan ekosistem ekonomi kreatif di Jakarta Pusat memerlukan kerja sama yang melibatkan pemerintah, lembaga pendidikan, komunitas, dan pelaku industri. Setiap pihak memiliki peran yang saling melengkapi. Pemerintah dapat membuka ruang koordinasi dan mendukung lingkungan yang kondusif, sementara sekolah dan perguruan tinggi membantu membekali peserta didik dengan pengetahuan serta dasar keterampilan. Komunitas turut menghubungkan warga dengan kegiatan kreatif, sedangkan pelaku industri memahami kebutuhan pasar dan dinamika profesi sehari-hari.
Kolaborasi tersebut penting karena pengembangan ekonomi kreatif tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menghasilkan karya. Pelaku juga perlu memahami cara mengembangkan gagasan, bekerja bersama, menjangkau konsumen, dan menyesuaikan diri dengan perubahan. Pertukaran perspektif unsur pemerintah, pendidikan, komunitas, dan industri dapat membantu mengenali kebutuhan yang berbeda serta mempertemukan potensi lokal dengan peluang yang tersedia. Dengan demikian, dukungan terhadap sektor kreatif dapat lebih dekat dengan kondisi dan kapasitas masyarakat Jakarta Pusat.
Generasi muda perlu memperoleh ruang untuk belajar langsung dari praktisi. Pengalaman pelaku industri dapat memberi gambaran nyata tentang proses kerja, tantangan, standar profesional, dan cara sebuah ide berkembang menjadi produk atau layanan. Interaksi seperti ini juga membantu anak muda menghubungkan pembelajaran di kelas dengan kebutuhan di lapangan. Mereka dapat mengajukan pertanyaan, mengamati praktik kerja, dan memahami bahwa karier kreatif membutuhkan kreativitas sekaligus ketekunan, kemampuan berkomunikasi, serta sikap terbuka terhadap masukan.
Selain berbagi pengalaman, proses belajar perlu memberi kesempatan untuk mengasah keterampilan melalui praktik. Anak muda dapat mengenali kekuatan diri, mencoba pendekatan baru, dan membangun kepercayaan diri dalam menghasilkan karya. Wawasan mengenai peluang usaha dan profesi juga penting agar mereka memahami beragam jalur yang tersedia, mulai dari bekerja di industri hingga merintis usaha kreatif. Pemahaman tersebut dapat mendorong pilihan yang lebih terarah dan realistis. Ketika kolaborasi berlangsung secara terbuka, ekosistem kreatif Jakarta Pusat berpotensi menjadi lebih inklusif, terhubung, dan responsif terhadap perkembangan kebutuhan masyarakat maupun industri.
Eric mengapresiasi penyelenggaraan lokakarya film dan fesyen dalam Pusatphoria 2026 karena kegiatan tersebut membuka ruang belajar kreatif bagi generasi muda, terutama siswa-siswi sekolah menengah kejuruan di Jakarta Pusat. Menurutnya, pelatihan yang mempertemukan peserta dengan praktik di bidang ekonomi kreatif dapat membantu mereka mengenali peluang karier sekaligus mengembangkan keterampilan yang sesuai dengan minat dan pendidikan.
Pusatphoria 2026 diselenggarakan oleh Suku Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Jakarta Pusat untuk memperingati Hari Ekonomi Kreatif Nasional. Acara ini dirancang sebagai wadah pengenalan dan pengembangan beragam potensi kreatif daerah. Sejumlah subsektor dihadirkan, yakni musik, fesyen, kuliner, dan film. Ragam tersebut mencerminkan luasnya bidang ekonomi kreatif dan memberi pengunjung kesempatan untuk melihat karya, proses, serta peluang yang tersedia pada masing-masing sektor.
Di rangkaian kegiatan, lokakarya film dan fesyen menjadi bagian yang secara khusus melibatkan peserta muda. Sebanyak 100 orang mengikuti pelatihan tersebut, dengan sasaran utama siswa SMK yang mengambil program keahlian terkait. Keterlibatan siswa dari jurusan yang relevan diharapkan membuat materi lokakarya lebih dekat dengan pembelajaran yang mereka jalani, sekaligus memberi pengalaman yang dapat melengkapi pengetahuan di sekolah.
Lokakarya film memberi peserta kesempatan untuk mengenal proses kreatif di balik produksi karya audiovisual, sedangkan pelatihan fesyen memperkenalkan pendekatan dalam mengembangkan gagasan menjadi karya yang dapat ditampilkan. Melalui aktivitas praktik dan pertukaran pengetahuan, siswa dapat memahami bahwa proses kreatif memerlukan ide, keterampilan teknis, kerja sama, serta kepekaan terhadap kebutuhan audiens.
Apresiasi Eric terhadap kegiatan ini juga menyoroti pentingnya kolaborasi pemerintah, pelaku industri, dan lembaga pendidikan. Pertemuan tersebut dapat memperluas akses siswa terhadap wawasan praktis dan membantu menghubungkan pembelajaran dengan kebutuhan sektor kreatif. Dengan menghadirkan musik, fesyen, kuliner, dan film dalam satu perhelatan, Pusatphoria 2026 tidak hanya merayakan Hari Ekonomi Kreatif Nasional, tetapi juga mendorong tumbuhnya minat dan kapasitas calon pelaku kreatif di Jakarta Pusat.
Kepala Suku Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Jakarta Pusat, Shinta Nindyawati, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut menjadi wadah kolaborasi edukatif sekaligus ruang apresiasi bagi pelaku industri kreatif. Dua fungsi itu menempatkan kegiatan bukan hanya sebagai kesempatan untuk menampilkan karya, tetapi juga sebagai ruang untuk bertukar pengetahuan dan membangun hubungan antarpelaku. Melalui pertemuan dalam suasana kolaboratif, para peserta dapat saling mengenal, berbagi pengalaman, serta memperoleh perspektif baru mengenai proses kreatif. Apresiasi terhadap karya dan gagasan juga memberi pengakuan atas kontribusi pelaku industri dalam menghidupkan ekosistem kreatif di Jakarta Pusat.
Penekanan pada sisi edukatif menunjukkan bahwa pengembangan ekonomi kreatif membutuhkan ruang untuk belajar dan berinteraksi. Kolaborasi dapat membuka peluang bagi pelaku untuk memahami pendekatan yang berbeda, sementara kegiatan apresiasi membantu karya mereka memperoleh perhatian. Keduanya saling melengkapi: proses berbagi pengetahuan memperkaya gagasan, dan pengakuan terhadap karya mendorong pelaku untuk terus mengembangkan potensi. Dalam konteks tersebut, kegiatan ini menjadi sarana yang mempertemukan unsur pembelajaran dan penghargaan tanpa membatasi ekspresi kreatif. Kehadiran ruang semacam ini penting agar pelaku dapat terlibat, menyampaikan gagasan, serta membangun jejaring melalui interaksi yang terbuka.
Shinta juga menyampaikan komitmen Pemerintah Kota Jakarta Pusat untuk mendukung ekonomi kreatif melalui penyediaan ruang ekspresi, kolaborasi, dan promosi. Komitmen itu menggambarkan dukungan terhadap kebutuhan pelaku untuk menampilkan karya, menjalin kerja sama, serta memperkenalkan hasil kreativitasnya.
Baca juga: Pentingnya Penggantian Oli bagi Driver Ojol di Jakarta | Jakarta Masuk Daftar 50 Destinasi Belanja Terbaik 2026 | Penertiban Reklame Mengganggu Pejalan Kaki di Jakarta





