Jakarta | Pemerintah Italia berencana mengerahkan 500 tentara tambahan untuk menjaga Milan setelah kota tersebut dilanda kerusuhan selama dua hari. Rencana itu disampaikan Wakil Perdana Menteri Matteo Salvini di tengah meningkatnya perhatian terhadap keamanan publik dan perlindungan warga maupun fasilitas kota. Penambahan personel militer diperkirakan menjadi bagian dari paket langkah keamanan yang akan dibahas dalam rapat kabinet. Dengan demikian, keputusan akhir mengenai pengerahan pasukan masih menunggu pembahasan pemerintah, sementara rencana awalnya telah diumumkan kepada publik.
Salvini mengatakan pengerahan tersebut dimaksudkan untuk “mempertahankan Milan”. Pernyataan itu menggarisbawahi tujuan pemerintah menambah penjagaan di kota setelah rangkaian gangguan yang berlangsung selama dua hari. Kehadiran 500 tentara tambahan juga menjadi salah satu respons yang dipertimbangkan untuk mendukung upaya keamanan di tengah situasi yang memicu kekhawatiran. Rencana ini tidak berdiri sendiri, melainkan akan dibahas bersama sejumlah langkah lain dalam paket keamanan kabinet. Pembahasan tersebut diharapkan menentukan bentuk dan pelaksanaan kebijakan, termasuk bagaimana pengamanan tambahan akan diterapkan di Milan.
Latar keputusan itu adalah bentrokan pengunjuk rasa dan polisi, disertai penjarahan toko serta perusakan properti. Insiden-insiden tersebut menyebabkan gangguan di sejumlah bagian kota dan menambah tekanan terhadap aparat untuk mengendalikan keadaan. Kerusuhan selama dua hari itu menjadi alasan utama pemerintah mempertimbangkan penguatan penjagaan. Di tengah perkembangan tersebut, rencana pengerahan pasukan menempatkan keamanan dan ketertiban sebagai fokus pembahasan kabinet. Pemerintah belum dapat dianggap telah menuntaskan seluruh keputusan sebelum rapat berlangsung; yang telah disampaikan Salvini adalah rencana untuk menambah 500 tentara dan maksud pengerahan itu. Perkembangan selanjutnya akan bergantung pada hasil pembahasan langkah keamanan yang disiapkan pemerintah Italia.
Pada Senin, pusat Milan masih menunjukkan dampak kerusuhan yang berlangsung selama dua hari. Sejumlah pemilik usaha memilih menutup toko lebih awal, karena khawatir kekerasan kembali pecah dan merusak bangunan maupun barang dagangan. Di beberapa etalase, papan kayu atau lembaran kardus dipasang sebagai pelindung. Toko lainnya mengosongkan bagian depan dan memindahkan barang-barang yang sebelumnya dipajang agar tidak mudah dijarah atau rusak.
Kawasan Via Montenapoleone, salah satu area perbelanjaan mewah di kota itu, turut terdampak suasana tegang. Jalan yang dikenal dengan deretan butik dan merek internasional, termasuk Chanel, Tiffany, dan Dior, dijaga polisi yang berpatroli. Namun, aktivitas pengunjung tampak jauh berkurang. Hanya segelintir wisatawan terlihat melintas, sementara sebagian toko memilih membatasi kegiatan atau menutup lebih cepat daripada biasanya.
Sejumlah gerai yang disebut dalam laporan terkait kerusuhan mencakup Decathlon, Arc’teryx, Vodafone, Levi’s, dan Under Armour. Penting untuk membedakan laporan tentang toko yang dijarah dari tindakan pengamanan yang dilakukan pemilik usaha. Penjarahan merujuk pada pengambilan atau perusakan barang secara paksa, sedangkan pemasangan papan, pengosongan etalase, dan penutupan lebih awal merupakan langkah pencegahan. Tidak setiap toko dengan etalase tertutup berarti telah menjadi sasaran penjarahan; sebagian mengambil tindakan antisipatif karena situasi belum sepenuhnya kembali normal.
Keberadaan patroli polisi dan perlindungan sementara pada jendela toko menunjukkan bahwa pelaku usaha masih menilai risiko keamanan secara serius. Bagi kawasan komersial pusat kota, ketidakpastian tersebut berdampak langsung pada jam operasional dan jumlah pengunjung. Pada Senin, suasana yang biasanya ramai di ruas belanja Milan pun tampak lebih lengang, dengan banyak toko berupaya menjaga barang dan bangunannya sampai keadaan dinilai lebih aman.
Demonstrasi di Milan pada Sabtu awalnya berlangsung damai. Aksi tersebut dipicu oleh keluhan warga mengenai buruknya layanan publik dan meningkatnya biaya hidup. Para peserta menyuarakan ketidakpuasan atas kondisi yang mereka hadapi, sementara jalannya unjuk rasa pada tahap awal tidak diwarnai kerusuhan. Namun, suasana kemudian berubah sepanjang akhir pekan. Ratusan pengunjuk rasa yang mengenakan penutup kepala terlibat dalam aksi kekerasan di pusat kota. Banyak di mereka diduga masih berusia di bawah umur, meskipun dugaan tersebut tidak dengan sendirinya memastikan usia setiap orang yang ikut dalam kerusuhan.
Dalam rangkaian kerusuhan itu, sejumlah tempat sampah dibakar dan beberapa toko di pusat Milan dijarah. Peristiwa tersebut menandai perubahan dari demonstrasi yang semula damai menjadi gangguan ketertiban yang lebih luas. Aksi pembakaran dan penjarahan berlangsung selama akhir pekan, setelah keluhan mengenai layanan publik dan biaya hidup menjadi latar awal demonstrasi pada Sabtu. Rangkaian kejadian yang tersedia menunjukkan adanya perbedaan tujuan awal aksi dan tindakan yang kemudian dilakukan sebagian peserta. Meski demikian, informasi yang dilaporkan tidak merinci urutan setiap insiden secara lebih spesifik, sehingga kronologi perlu dipahami berdasarkan gambaran umum tersebut tanpa menambahkan waktu atau detail yang tidak tersedia.
Kerusuhan di Milan menyusul bentrokan pada Sabtu di kota itu serta beberapa kota lain di Italia utara, yakni Bologna, Brescia, Bergamo, dan Turin. Dengan demikian, insiden di Milan berlangsung dalam konteks ketegangan yang juga terlihat di sejumlah pusat kota lain pada hari yang sama. Menurut laporan kepolisian yang dirilis pada Minggu, sebanyak 28 pengunjuk rasa ditangkap dalam peristiwa tersebut. Angka itu merujuk pada laporan mengenai penangkapan dalam rangkaian peristiwa yang disebutkan, bukan data terpisah tentang penindakan di Milan pada Minggu. Pembedaan ini penting agar jumlah 28 orang tidak keliru dipahami sebagai angka khusus untuk tindakan kepolisian di Milan pada hari Minggu. Informasi tersebut menjadi catatan resmi yang tersedia mengenai penangkapan setelah bentrokan dan kerusuhan akhir pekan.
Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni mengecam kekerasan yang terjadi di Milan dan menyatakan pemerintah akan menanggapi situasi tersebut. Pada Senin, ia memimpin rapat bersama para menteri dan pimpinan aparat keamanan untuk membahas kerusuhan serta langkah yang dapat diambil. Pertemuan itu berlangsung setelah kekerasan selama dua hari mendorong pengerahan 500 tentara tambahan, sekaligus memusatkan perhatian pada penanganan para pelaku dan pencegahan gangguan lanjutan.
Menteri Luar Negeri sekaligus Wakil Perdana Menteri Antonio Tajani mengatakan pemerintah akan merespons secara tegas serangan terhadap negara. Ia juga menyinggung perlunya langkah untuk menekan kekerasan yang dilakukan anak di bawah umur. Pernyataan tersebut menempatkan isu keterlibatan remaja sebagai salah satu pokok pembahasan pemerintah, di samping upaya menjaga keamanan dan ketertiban umum.
Data kepolisian terkait kerusuhan Milan pada Minggu mencatat 271 anak muda ditahan. Sebanyak 32 orang ditangkap secara resmi; di mereka terdapat 23 anak di bawah umur dan 13 warga negara asing. Angka-angka tersebut menggambarkan kategori yang dilaporkan aparat, bukan kelompok yang harus dijumlahkan sebagai kategori terpisah. Selain itu, 28 orang lainnya dilaporkan kepada otoritas kehakiman untuk diproses lebih lanjut.
Menurut laporan Corriere della Sera, Meloni mempertimbangkan perpanjangan masa penahanan preventif bagi anak di bawah umur dan tindakan terhadap kelompok pemuda. Surat kabar itu juga menyebut pemerintah dapat mempercepat sejumlah ketentuan dalam rancangan undang-undang keamanan yang tengah dibahas parlemen. Langkah-langkah tersebut masih berupa pertimbangan sebagaimana diberitakan, sehingga belum dapat diperlakukan sebagai keputusan yang telah diberlakukan.
Kerusuhan di Milan juga berlangsung dalam konteks keresahan sosial yang lebih luas di Eropa. Di Prancis, ratusan ribu orang menggelar protes pada Sabtu menentang kenaikan biaya hidup dan memburuknya layanan publik. Aksi di Prancis merupakan perkembangan tersendiri dan bukan bagian dari peristiwa di Milan; keduanya hanya menunjukkan adanya ketegangan sosial di masing-masing negara.





