Jakarta | Seorang mahasiswa asal Papua yang menempuh pendidikan di Universitas Trisakti menyampaikan tuntutan kepada Binbin Firman Tresnadi, Staf Khusus Menteri Sekretaris Negara, dalam sebuah unjuk rasa di Jakarta pada Kamis, 29 Oktober 2026. Peristiwa tersebut menjadi inti aksi yang berlangsung di ibu kota, dengan mahasiswa itu menyampaikan tuntutannya secara langsung kepada pejabat yang hadir. Informasi yang tersedia menempatkan pertemuan mahasiswa dan staf khusus tersebut sebagai pokok kejadian, tanpa merinci isi tuntutan yang disampaikan ataupun tanggapan dari pihak penerima.
Aksi ini mempertemukan seorang mahasiswa Papua dengan perwakilan di lingkungan Kementerian Sekretariat Negara. Keterangan mengenai peristiwa itu menyebut identitas mahasiswa berdasarkan asal daerah dan perguruan tinggi, serta menyebut nama dan jabatan pihak yang dituju. Tanggal dan lokasi juga tercatat secara spesifik: Kamis, 29 Oktober 2026, di Jakarta. Dengan demikian, konteks yang dapat dipastikan adalah penyampaian tuntutan dalam unjuk rasa, bukan rincian agenda lain atau tujuan tambahan yang tidak dijelaskan dalam informasi mengenai kejadian tersebut.
Dalam pemberitaan tentang aksi itu, penting untuk membedakan fakta yang telah disebutkan dari hal-hal yang belum tersedia. Diketahui bahwa mahasiswa Universitas Trisakti asal Papua menyampaikan tuntutan kepada Binbin Firman Tresnadi saat demonstrasi berlangsung. Namun, isi tuntutan, latar belakang lengkap penyelenggaraan aksi, jumlah peserta, serta respons Staf Khusus Menteri Sekretaris Negara tidak tercantum dalam keterangan yang menjadi dasar uraian ini. Karena itu, peristiwa tersebut dapat dijelaskan secara terbatas sebagai penyampaian tuntutan oleh seorang mahasiswa dalam aksi di Jakarta, tanpa mengaitkannya dengan tuntutan lain. Informasi yang terbatas ini membantu menjaga gambaran peristiwa tetap akurat, sekaligus memberi ruang bagi keterangan lanjutan apabila tersedia.
Dalam pertemuannya dengan Staf Khusus Menteri Sekretaris Negara, Binbin, seorang mahasiswa Papua mengangkat sebuah noken ketika menyampaikan tuntutannya. Tindakan itu membuat tas tradisional tersebut hadir bukan sekadar sebagai benda yang dibawa dalam pertemuan, melainkan sebagai lambang yang menjelaskan pengalaman hidup masyarakat Papua. Dengan memperlihatkan noken secara langsung, mahasiswa itu mengajak lawan bicaranya melihat hubungan tradisi, keluarga, dan keberlangsungan kehidupan.
Ia menjelaskan bahwa noken dibuat oleh ibu-ibu di Papua. Proses pembuatannya melekat pada pengetahuan dan keterampilan yang diwariskan, sekaligus mencerminkan kerja serta peran perempuan dalam kehidupan keluarga dan komunitas. Noken juga digunakan untuk menggendong anak sejak lahir. Karena itu, tas tersebut menyertai manusia sejak awal kehidupannya: bukan hanya membantu membawa barang, tetapi juga menjadi tempat anak diasuh dan dijaga.
Dalam pernyataannya, mahasiswa itu menyampaikan makna noken sebagai penjaga kehidupan. “Noken ini memelihara kehidupan, karena sejak lahir anak-anak digendong di dalam noken,” ujarnya. Pernyataan tersebut menghubungkan fungsi noken dengan tindakan merawat. Isi dan makna yang ia tekankan berangkat dari pengalaman konkret: ibu membuat noken, lalu noken dipakai untuk membawa dan melindungi anak. Bagi mahasiswa itu, hubungan tersebut menjadikan noken simbol kehidupan yang tumbuh dari praktik sehari-hari.
Momen mengangkat noken di hadapan Binbin juga memberi konteks pada tuntutan yang disampaikan mahasiswa Papua. Ia menggunakan benda yang akrab dalam kehidupan masyarakatnya untuk menerangkan nilai yang ingin didengar dan dipahami. Noken menjadi cara untuk menghadirkan pengalaman Papua dalam percakapan dengan pejabat negara, bukan sekadar ornamen budaya. Melalui simbol itu, ia menegaskan bahwa pembicaraan tentang masyarakat Papua perlu memperhatikan kehidupan, pengasuhan, dan pengetahuan lokal yang telah lama dijaga.
Makna noken, sebagaimana disampaikan mahasiswa tersebut, tidak berhenti pada bentuk atau bahan pembuatannya. Nilainya terletak pada hubungan antargenerasi dan perannya dalam merawat kehidupan sejak seorang anak dilahirkan. Dengan mengangkatnya saat berbicara, mahasiswa itu menjadikan noken sebagai pesan yang mudah dikenali sekaligus sarat arti: kehidupan dipelihara melalui kerja ibu, tradisi, dan perhatian terhadap generasi berikutnya.
Dalam menyampaikan tuntutannya kepada Staf Khusus Menteri Sekretaris Negara, mahasiswa Papua itu mengaitkan noken dengan alam sebagai sumber kehidupan masyarakat Papua. Noken bukan hanya benda yang digunakan dalam keseharian, tetapi juga mengandung makna tentang hubungan warga dengan lingkungan yang menopang hidup mereka. Ketika hutan dan lahan terbakar, hubungan tersebut ikut terdampak: ruang hidup berubah, udara tercemar asap, dan warga berhadapan dengan risiko kesehatan. Karena itu, pembicaraan mengenai noken dalam tuntutan tersebut turut membuka perhatian pada dampak karhutla terhadap masyarakat, terutama kebutuhan untuk memperoleh perlindungan dan layanan kesehatan yang memadai.
Dari kaitan alam, kehidupan, dan kesehatan itu, mahasiswa tersebut mempertanyakan jaminan layanan kesehatan gratis bagi warga yang terdampak kebakaran hutan dan lahan. Pertanyaan itu tidak hanya merujuk pada masyarakat Papua, tetapi juga mencakup warga di Kalimantan serta pulau-pulau lainnya yang menghadapi dampak serupa. Dengan mengangkat wilayah-wilayah tersebut, ia menyoroti persoalan yang melampaui satu daerah: bagaimana warga yang terdampak asap dan kebakaran dapat mengakses pertolongan kesehatan tanpa terbebani biaya. Isu tersebut menjadi bagian dari tuntutan yang disampaikan, bukan pernyataan bahwa suatu jaminan telah tersedia atau sudah diterapkan.
Dalam forum itu, ia secara khusus mengajukan pertanyaan kepada Binbin mengenai jaminan layanan kesehatan bagi para korban karhutla. Ia meminta kejelasan apakah warga terdampak di Papua, Kalimantan, dan pulau-pulau lain akan memperoleh layanan kesehatan gratis. Pertanyaan tersebut menempatkan kebutuhan korban sebagai pokok pembahasan, sekaligus menghubungkan makna noken dengan tanggung jawab menjaga sumber kehidupan dan kesehatan masyarakat. Informasi yang disampaikan mengenai tuntutan itu mencatat adanya pertanyaan kepada Binbin, tetapi tidak memuat jawaban darinya ataupun rincian kebijakan yang diberikan. Oleh sebab itu, persoalan jaminan layanan kesehatan bagi korban karhutla tetap dapat dipahami sebagai hal yang diminta penjelasannya dalam tuntutan mahasiswa tersebut.
Mahasiswa tersebut menegaskan bahwa jaminan yang diminta merupakan hal yang ingin ia pastikan. Penegasan itu menempatkan kepastian sebagai inti dari tuntutannya kepada Staf Khusus Menteri Sekretaris Negara, Binbin. Baginya, perkara tersebut bukan sekadar penyampaian permintaan, melainkan sesuatu yang perlu ditegaskan secara langsung di hadapan pihak yang diajak berbicara. Karena itu, ia mengarahkan pembicaraan kembali pada kesanggupan memberikan jaminan, bukan membiarkannya berhenti sebagai pernyataan tanpa penegasan.
Dalam percakapan itu, mahasiswa tersebut kemudian mengajukan bentuk pembuktian yang sederhana dan terbuka: ia menantang Binbin untuk bersalaman. Ajakan tersebut menjadi cara yang ia pilih untuk meminta tanda kesanggupan secara langsung. Salaman, dalam konteks ini, ditempatkan sebagai penanda bahwa jaminan yang sedang dibicarakan benar-benar bersedia diberikan. Tantangan itu memperjelas bahwa mahasiswa tersebut menginginkan kepastian yang dapat dinyatakan secara langsung, bukan hanya jawaban yang bersifat umum. Ia pun menyampaikan tantangannya dengan seruan, “Kalau Bapak berani, salaman sama saya, Pak!”
Seruan tersebut menutup bagian percakapan ini dengan penekanan pada permintaan jaminan yang ingin dipastikan oleh mahasiswa. Pilihan kata “kalau Bapak berani” membuat tantangan itu terdengar tegas, sementara permintaan untuk bersalaman menghubungkannya dengan bentuk kesanggupan yang ia minta. Dengan demikian, momen tersebut memperlihatkan bagaimana mahasiswa mengubah tuntutannya menjadi ajakan langsung kepada Binbin untuk menunjukkan kesediaan memberi jaminan. Batas informasi pada bagian ini berhenti pada tantangan tersebut: mahasiswa meminta Binbin bersalaman sebagai tanda kesanggupan, lalu mengucapkan seruannya. Tidak ada keterangan di sini mengenai jawaban atau tindakan Binbin setelah tantangan itu. Yang menjadi pokok adalah penegasan mahasiswa bahwa jaminan itu perlu dipastikan dan ajakan bersalaman sebagai bentuk yang ia tawarkan untuk menunjukkan kesanggupan tersebut.
Baca juga: Aksi Besar Buruh di DPR: Tuntutan untuk Kesejahteraan dan Perlindungan | Menelusuri Jejak Karir dan Kehidupan Abe Hoed | Kekhawatiran Mahasiswa IPB Terhadap Pria Misterius di Jalan Bara-Balio





