Jakarta | Kawasan Tugu Tani, Menteng, Jakarta Pusat, mulai terlihat dijaga menjelang rencana aksi mahasiswa Universitas Indraprasta PGRI (Unindra) pada Rabu, 28 Oktober 2026. Sejak pagi, sejumlah personel kepolisian tampak berada di sekitar lokasi. Kehadiran mereka menjadi perhatian di tengah persiapan menuju aksi yang dijadwalkan berlangsung siang hari. Situasi tersebut terpantau di area sekitar Tugu Tani, salah satu titik yang disebut dalam rencana kegiatan mahasiswa.
Pada pukul 09.50 WIB, sejumlah personel terlihat berdatangan dan berkumpul di trotoar tepi jalan. Mereka mengenakan kaus putih dan rompi hitam bertuliskan “Polisi”. Para petugas tampak berada di sisi jalan, berkumpul di kawasan tersebut menjelang waktu pelaksanaan aksi. Kehadiran personel dengan atribut itu memperlihatkan bahwa kepolisian telah menempatkan anggota di sekitar titik yang direncanakan menjadi lokasi kegiatan.
Pengamatan pada pagi hari tersebut mencatat keberadaan petugas, waktu kedatangan, serta pakaian yang dikenakan. Belum ada keterangan lebih lanjut mengenai jumlah personel, susunan pengamanan, atau pengaturan lalu lintas di sekitar lokasi. Karena itu, kondisi yang terpantau terbatas pada sejumlah anggota yang berkumpul di trotoar. Belum dapat dipastikan pula apakah seluruh personel yang terlihat akan tetap berada di titik tersebut hingga aksi dimulai.
Rencana aksi mahasiswa Unindra dijadwalkan berlangsung pada siang hari, sementara persiapan di lapangan telah terlihat sejak pagi. Keberadaan kepolisian di sekitar Tugu Tani mendahului waktu tersebut. Perkembangan situasi selanjutnya, termasuk kemungkinan perubahan posisi petugas maupun kondisi kawasan saat aksi berlangsung, belum tercatat dalam pengamatan pada pukul 09.50 WIB. Informasi yang tersedia pada saat itu menunjukkan personel sudah berada di sekitar lokasi, dengan kaus putih dan rompi hitam bertuliskan polisi sebagai ciri yang tampak.
Arus lalu lintas di sekitar kawasan Tugu Tani terpantau ramai lancar menjelang aksi mahasiswa Unindra yang dijadwalkan berlangsung siang ini. Kendaraan masih bergerak di area tersebut, sementara petugas kepolisian bersiaga untuk memantau situasi. Kondisi yang terpantau itu menunjukkan bahwa aktivitas lalu lintas tetap berlangsung, meskipun perhatian tertuju pada rencana kegiatan mahasiswa.
Hingga waktu pengamatan yang disebutkan dalam sumber, petugas belum menerapkan rekayasa lalu lintas di sekitar Tugu Tani. Dengan demikian, belum ada informasi mengenai pengaturan khusus arus kendaraan di kawasan tersebut. Situasi ramai lancar menjadi gambaran kondisi saat itu, dan tidak perlu ditafsirkan sebagai adanya penutupan jalan maupun gangguan perjalanan.
Kehadiran petugas di lokasi berkaitan dengan kesiapan mengamankan kegiatan yang direncanakan. Pemantauan dilakukan di tengah arus kendaraan yang masih bergerak. Namun, berdasarkan keterangan yang tersedia, belum ada perubahan pola lalu lintas yang diumumkan atau diberlakukan. Pengendara yang melintasi sekitar Tugu Tani dapat mencermati kondisi di lapangan tanpa menganggap adanya pembatasan yang belum dinyatakan.
Situasi lalu lintas dapat berubah mengikuti perkembangan kegiatan dan keputusan petugas. Karena itu, informasi mengenai kondisi terkini sebaiknya merujuk pada laporan resmi atau pembaruan langsung dari pihak berwenang. Untuk saat ini, keterangan yang tersedia hanya menyebut arus ramai lancar dan belum adanya rekayasa lalu lintas. Tidak ada dasar untuk menyimpulkan bahwa akses jalan telah ditutup, dialihkan, atau mengalami hambatan khusus.
Pengguna jalan tetap dapat menjaga kewaspadaan dan mengikuti arahan petugas apabila terdapat perkembangan di lokasi. Jika pengaturan lalu lintas nantinya diperlukan, informasi tersebut perlu disampaikan secara jelas agar masyarakat dapat menyesuaikan perjalanan. Sampai pengamatan dalam sumber, kondisi di sekitar Tugu Tani masih terpantau ramai lancar, sementara petugas bersiaga dan belum memberlakukan rekayasa lalu lintas.
Aliansi Mahasiswa Universitas Indraprasta PGRI (Unindra) dijadwalkan menggelar aksi di kawasan Tugu Tani pada siang ini. Berdasarkan jadwal yang dihimpun, kegiatan tersebut direncanakan mulai pukul 13.00 WIB. Perkiraan jumlah peserta yang akan hadir mencapai sekitar 100 orang. Informasi waktu dan jumlah itu menggambarkan rencana aksi yang disampaikan untuk kegiatan mahasiswa tersebut, bukan angka kehadiran yang telah dipastikan setelah peserta berkumpul.
Aliansi ini disebut melibatkan sejumlah unsur mahasiswa dan organisasi, yakni BEM FTIK, BEM FBS, BEM FMIPA, Kombat, FIPPS, Skema, serta GMNI Unindra. Kehadiran berbagai unsur itu menjadi bagian dari rencana aksi yang akan berlangsung di ruang publik. Jumlah peserta sekitar 100 orang merupakan perkiraan untuk keseluruhan massa, sementara rincian jumlah dari masing-masing unsur tidak disebutkan. Karena itu, tidak ada dasar untuk menyimpulkan besaran kontribusi peserta dari tiap organisasi secara terpisah.
Di sisi lain, keterangan seorang petugas yang berada di lokasi menyebut perkiraan waktu berbeda, yakni sekitar pukul 14.00 WIB. Petugas tersebut juga memperkirakan aksi berlangsung di Tugu Tani dan Bundaran HI. Keterangan ini perlu dibedakan dari jadwal yang menyebut aksi dimulai pukul 13.00 WIB di Tugu Tani. Waktu sekitar pukul 14.00 WIB merupakan perkiraan petugas, sehingga tidak dapat diperlakukan sebagai jadwal resmi atau kepastian mengenai waktu dimulainya kegiatan maupun pergerakan massa ke lokasi lain.
Dengan demikian, informasi yang tersedia memuat dua keterangan waktu: rencana aksi aliansi pada pukul 13.00 WIB dan perkiraan petugas sekitar pukul 14.00 WIB. Titik yang disebut dalam jadwal aliansi adalah Tugu Tani, sedangkan Bundaran HI muncul dalam perkiraan petugas mengenai lokasi aksi. Perkembangan situasi dapat memengaruhi waktu dan lokasi kegiatan, sehingga rincian pelaksanaan sebaiknya dipahami sesuai sumber keterangannya. Perkiraan peserta sekitar 100 orang juga tetap merupakan estimasi, bukan jumlah terverifikasi. Keterangan tersebut membantu membedakan agenda yang dijadwalkan dari perkiraan lapangan.Dalam rencana aksi yang dijadwalkan berlangsung di kawasan Tugu Tani, mahasiswa Unindra membawa sejumlah tuntutan yang berkaitan dengan kedaulatan rakyat, penanganan bencana, dan evaluasi pemerintahan. Salah satu poin yang disampaikan adalah mendorong penegakan Pasal 1 Ayat 2 Undang-Undang Dasar 1945. Ketentuan tersebut menyatakan bahwa kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar. Para peserta aksi ingin prinsip itu menjadi landasan dalam penyelenggaraan pemerintahan serta pengambilan kebijakan publik. Tuntutan tersebut menempatkan partisipasi masyarakat dan tanggung jawab penyelenggara negara sebagai pokok perhatian dalam agenda unjuk rasa.
Mahasiswa juga meminta agar kebakaran hutan dan lahan ditetapkan sebagai bencana nasional. Seruan ini menyoroti dampak kebakaran yang dapat meluas, termasuk terhadap kesehatan warga, lingkungan, kegiatan ekonomi, dan kehidupan masyarakat di wilayah terdampak. Penetapan status bencana nasional, menurut tuntutan yang tercantum dalam rencana aksi, diharapkan mendorong penanganan yang lebih terkoordinasi dan perhatian pemerintah yang memadai. Selain itu, peserta aksi meminta evaluasi terhadap dua tahun pemerintahan Prabowo Subianto–Gibran Rakabuming Raka. Evaluasi tersebut menjadi bagian dari aspirasi politik yang hendak disampaikan kepada pemerintah, tanpa mengubah aksi menjadi sekadar penyampaian pandangan mengenai satu isu tertentu.
Rangkaian agenda pada 28 Oktober juga mencakup rencana unjuk rasa oleh Komite Selamatkan Daulat Rakyat, yang dikenal sebagai Komite Sadar. Kelompok tersebut dijadwalkan kembali menggelar aksi di Bundaran HI pada hari yang sama. Dengan demikian, kawasan Tugu Tani dan Bundaran HI menjadi dua titik yang disebut dalam agenda demonstrasi di Jakarta. Jadwal ini bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda, yang setiap tahun diperingati pada 28 Oktober. Kehadiran beberapa agenda aksi pada tanggal tersebut membuat perhatian tertuju pada penyampaian aspirasi publik di ruang terbuka. Rencana kegiatan itu memuat tuntutan yang berbeda, tetapi sama-sama mengangkat isu pemerintahan dan kepentingan masyarakat.
Baca juga: Krida Nusantara: Mahasiswa PPG UHAMKA Kenalkan Budaya melalui Bermain dan Berkarya | Kekhawatiran Mahasiswa IPB Terhadap Pria Misterius Di Jalan Bara-Balio




