Jakarta | Radja Nainggolan pernah mencatat pengalaman bermain di Indonesia ketika memperkuat Bhayangkara FC. Kehadirannya di kompetisi sepak bola nasional menjadi perhatian karena ia memiliki reputasi panjang di Eropa, termasuk pengalaman membela klub-klub besar Italia dan tim nasional Belgia. Bagi Bhayangkara FC, kedatangan gelandang tersebut bukan hanya menambah kualitas teknis, tetapi juga menghadirkan daya tarik tersendiri bagi kompetisi domestik.
Sebelum bergabung dengan Bhayangkara FC, Nainggolan lebih dahulu datang ke Indonesia dalam kapasitas yang berbeda. Ia hadir sebagai duta Piala Dunia U-17 yang ketika itu sedang berlangsung di Indonesia. Turnamen tersebut menjadi kesempatan bagi penyelenggara untuk memperkenalkan sepak bola Indonesia kepada dunia, sekaligus menghadirkan sejumlah figur internasional yang memiliki rekam jejak kuat dalam olahraga tersebut.
Dalam peran sebagai duta, Nainggolan terlibat dalam rangkaian kegiatan yang berkaitan dengan promosi dan dukungan terhadap turnamen. Kedatangannya juga dikaitkan dengan Erick Thohir, tokoh yang pernah memimpin Inter dan saat ini menjabat sebagai Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI). Hubungan dalam konteks sepak bola internasional dan Indonesia itu turut membuat kehadiran Nainggolan memperoleh perhatian luas sebelum ia akhirnya mengambil keputusan untuk bermain di tanah air.
Nainggolan mengaku menikmati masa kunjungannya tersebut. Ia menyebut sempat menghabiskan waktu selama dua minggu yang menyenangkan di Indonesia ketika menjalankan tugas sebagai duta Piala Dunia U-17. Pengalaman itu memberinya kesempatan untuk mengenal suasana, masyarakat, serta perkembangan sepak bola lokal secara lebih dekat. Karena itu, ketika kemudian menerima kesempatan membela Bhayangkara FC, Indonesia bukan lagi tempat yang sepenuhnya asing baginya. Pengalaman awal sebagai duta menjadi bagian penting dari cerita kedatangannya sebelum menjalani babak baru sebagai pemain di kompetisi Indonesia.
Radja Nainggolan mengungkapkan bahwa dirinya sempat memiliki rencana untuk berhenti bermain sepak bola. Rencana tersebut muncul setelah ia menyelesaikan tugas sebagai duta Piala Dunia U-17. Pada saat itu, ia membayangkan akan mengakhiri perjalanan profesionalnya di lapangan dan menjalani aktivitas lain di luar pertandingan. Keputusan tersebut tampak menjadi pilihan yang sudah dipertimbangkannya sebelum muncul kesempatan baru.
Namun, rencana itu berubah setelah Nainggolan menerima telepon yang menawarkan kesempatan untuk bermain di Indonesia. Tawaran tersebut datang ketika ia masih berada dalam tahap untuk menutup kariernya sebagai pesepak bola. Komunikasi itu kemudian membuka kemungkinan bagi Nainggolan untuk kembali tampil dalam kompetisi dan melanjutkan kiprahnya di dunia sepak bola.
Nainggolan menyatakan bersedia menerima tawaran tersebut. Meski demikian, ia menyampaikan syarat mengenai lokasi klub yang akan dibelanya. Ia hanya ingin bermain di Jakarta atau Bali. Syarat itu menjadi bagian dari kesepakatan yang ia ajukan sebelum memutuskan untuk menerima kesempatan bermain di Indonesia.
Dengan demikian, keputusannya untuk bergabung bukan merupakan rencana yang telah disusun sejak awal. Ia semula berniat berhenti setelah menjalankan peran sebagai duta Piala Dunia U-17, lalu mempertimbangkan kembali pilihan tersebut setelah mendapat tawaran melalui sambungan telepon. Kesediaan untuk bermain akhirnya diberikan dengan ketentuan bahwa aktivitas sepak bolanya berlangsung di Jakarta atau Bali.
Kisah tersebut menunjukkan bahwa langkah Nainggolan menuju sepak bola Indonesia berawal dari perubahan rencana. Setelah sempat bersiap meninggalkan lapangan, ia mendapatkan tawaran yang membuatnya tetap melanjutkan karier. Akan tetapi, ia tetap menetapkan batasan yang jelas terkait lokasi bermain, yaitu hanya Jakarta atau Bali, sebelum menerima tawaran tersebut.
Klub yang kemudian membutuhkan jasa Radja Nainggolan adalah Bhayangkara FC, tim yang kerap disebut sebagai klub kepolisian di Indonesia. Setelah meninggalkan kompetisi sebelumnya, mantan pemain tim nasional Belgia itu akhirnya ditempatkan di Bhayangkara FC untuk menjalani masa kerja selama enam bulan. Periode singkat tersebut tetap menjadi bagian penting dalam perjalanan kariernya, terutama karena nilai bayaran yang diterimanya menjadi perhatian publik.
Nainggolan mengungkapkan bahwa dirinya mendapatkan bayaran sebesar 400 ribu euro untuk enam bulan membela Bhayangkara FC. Berdasarkan kurs yang digunakan pada saat itu, nominal tersebut disebut setara dengan lebih dari Rp6 miliar. Nilai kontrak itu menunjukkan bahwa kedatangannya bukan sekadar transfer pemain berpengalaman, melainkan juga investasi besar bagi klub yang menginginkan kontribusinya di kompetisi domestik.
Dalam ceritanya, Nainggolan menilai jumlah tersebut sangat tinggi jika dibandingkan dengan standar biaya hidup di Indonesia. Ia menggambarkan perbedaan itu melalui contoh sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, sepiring besar nasi goreng di Indonesia dapat diperoleh dengan harga sekitar dua euro. Perbandingan tersebut memperlihatkan betapa besar nilai 400 ribu euro ketika ditempatkan dalam konteks pengeluaran harian masyarakat setempat. Bagi Nainggolan, bayaran selama setengah tahun di Bhayangkara FC bukan hanya angka dalam kontrak, tetapi juga cerminan dari perbedaan daya beli dan biaya hidup Indonesia serta negara-negara Eropa. Pengakuan itu kemudian kembali menarik perhatian karena membuka gambaran mengenai besarnya kompensasi yang dapat diterima pemain dengan reputasi internasional, bahkan ketika masa baktinya bersama sebuah klub berlangsung relatif singkat.
Catatan penampilan Radja Nainggolan bersama Bhayangkara FC dapat dirangkum melalui tiga angka utama. Selama memperkuat klub tersebut, ia tampil dalam 10 pertandingan. Dari keseluruhan penampilan itu, Nainggolan mencetak satu gol dan menghasilkan tiga assist. Data tersebut menjadi gambaran statistik kontribusinya di Bhayangkara FC setelah pembahasan mengenai proses kedatangannya serta bayaran yang diterima selama membela klub.
Jumlah 10 pertandingan menunjukkan keterlibatan Nainggolan dalam perjalanan Bhayangkara FC pada periode tersebut. Kontribusinya tidak hanya tercatat melalui satu gol, tetapi juga melalui tiga assist yang menjadi bagian dari catatan penampilannya. Dengan demikian, statistik yang tersedia mencakup 10 penampilan, satu gol, dan tiga assist.
Rangkaian angka itu menjadi catatan akhir mengenai kiprah Nainggolan di Bhayangkara FC. Tidak ada rincian tambahan yang diperlukan untuk membaca kontribusi tersebut: ia tampil sebanyak 10 kali, mencetak satu gol, serta memberikan tiga assist. Catatan statistik ini melengkapi uraian tentang kedatangannya dan nilai bayaran, sekaligus memberikan gambaran singkat mengenai kontribusi yang tercatat selama memperkuat Bhayangkara FC.
