JAKARTA – Suasana kawasan Silang Selatan Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat, pada Sabtu (27/6/2026) diwarnai aksi unjuk rasa yang digelar kelompok Mata Hati Rakyat Indonesia 08. Sekitar 65 peserta aksi berkumpul untuk menyampaikan dukungan terhadap berbagai program strategis pemerintah sekaligus menyerukan penegakan hukum yang tegas terhadap pelaku tindak pidana korupsi.
Aksi yang berlangsung mulai pukul 10.28 WIB hingga 11.10 WIB itu berjalan tertib dan mendapat pengamanan dari personel kepolisian. Sejak massa tiba di lokasi, aparat telah bersiaga untuk memastikan penyampaian pendapat berlangsung aman tanpa mengganggu aktivitas masyarakat di sekitar kawasan Monas.
Sebelum memasuki titik aksi, para peserta melakukan long march dari kawasan IRTI Monas menuju Silang Selatan. Kedatangan mereka disambut petugas dari Direktorat Samapta Polda Metro Jaya yang membentangkan spanduk bertuliskan ajakan agar aspirasi disampaikan secara tertib, sebagai bentuk pelayanan terhadap kegiatan penyampaian pendapat di muka umum.
Tepat setelah seluruh peserta berkumpul, kegiatan diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Momen tersebut kemudian dilanjutkan dengan pembacaan pernyataan sikap yang menjadi inti penyampaian aspirasi dari kelompok Mata Hati Rakyat Indonesia 08.
Dalam orasinya, sejumlah perwakilan massa secara bergantian menyampaikan pandangan mengenai pentingnya keberlanjutan berbagai program pembangunan nasional yang dinilai memiliki dampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat. Melalui pengeras suara dan megafon, mereka menekankan bahwa agenda pembangunan harus tetap mendapat dukungan seluruh elemen bangsa agar mampu menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat luas.
Salah satu poin yang paling banyak disoroti ialah dukungan terhadap program-program strategis nasional yang dijalankan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Menurut para orator, kebijakan yang berorientasi pada penguatan ketahanan pangan, hilirisasi industri, pembangunan sumber daya manusia, hingga upaya mengurangi angka kemiskinan merupakan langkah yang perlu terus dikawal bersama.
Massa menilai berbagai program tersebut menjadi bagian penting dalam memperkuat daya saing Indonesia sekaligus mendorong pemerataan pembangunan di berbagai daerah. Mereka berharap pelaksanaan setiap program dilakukan secara profesional, transparan, dan tepat sasaran sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga menjadi salah satu isu yang mendapat perhatian khusus dalam aksi tersebut. Para peserta menyatakan dukungan terhadap upaya pemerintah melakukan penyempurnaan tata kelola pelaksanaan program tersebut agar berjalan lebih efektif dan akuntabel.
Selain menyoroti sektor pangan dan pembangunan sumber daya manusia, peserta aksi juga mengangkat berbagai program pemberdayaan masyarakat yang dinilai strategis. Di antaranya pengembangan Kampung Nelayan Merah Putih yang diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir serta memperkuat sektor perikanan nasional.
Dukungan juga disampaikan terhadap pengembangan Koperasi Merah Putih sebagai instrumen pemberdayaan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah. Menurut peserta aksi, keberadaan koperasi yang dikelola secara baik dapat memperluas akses ekonomi masyarakat sekaligus memperkuat fondasi perekonomian nasional.
Selama kegiatan berlangsung, sejumlah spanduk dan poster dibentangkan peserta aksi. Beberapa di antaranya memuat pesan dukungan terhadap program Makan Bergizi Gratis, penguatan generasi sehat menuju Indonesia Emas, pengembangan Kampung Nelayan Merah Putih, serta penguatan koperasi sebagai pilar ekonomi kerakyatan.
Tak hanya menyampaikan dukungan terhadap program pemerintah, massa juga menyerukan agar aparat penegak hukum bertindak tegas terhadap seluruh pelaku korupsi tanpa memandang latar belakang maupun jabatan. Seruan tersebut menjadi salah satu tema utama yang terus disampaikan selama orasi berlangsung.
Dalam penyampaian aspirasi, peserta juga menyinggung dinamika yang berkembang di lingkungan Universitas Gadjah Mada (UGM). Mereka menyampaikan keprihatinan terhadap adanya dugaan intimidasi, tindakan mengusir, maupun makian terhadap pejabat negara dalam sebuah forum diskusi publik yang belakangan menjadi perhatian publik.
Melalui orasi tersebut, massa mengajak seluruh sivitas akademika untuk lebih mengedepankan dialog, musyawarah, serta mekanisme yang bermartabat dalam menyelesaikan setiap perbedaan pandangan. Menurut mereka, ruang akademik semestinya tetap menjadi tempat bertukar gagasan secara terbuka tanpa disertai tekanan maupun intimidasi.
Peserta aksi berpandangan bahwa kebebasan akademik harus dijaga dengan tetap menghormati etika, hukum, serta nilai-nilai demokrasi. Mereka menilai setiap bentuk intimidasi maupun tindakan yang menghambat penyampaian pendapat bertentangan dengan semangat Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Di sisi lain, aparat kepolisian terlihat terus melakukan pemantauan sepanjang jalannya aksi. Pengamanan dilakukan secara persuasif sehingga kegiatan dapat berlangsung tanpa adanya insiden yang mengganggu keamanan maupun ketertiban umum. Sebanyak 50 personel diterjunkan dalam pengamanan aksi tersebut, dipimpin oleh AKP M. Dekki, SH., MH selaku Kanit Samapta.
Kondisi di sekitar lokasi aksi tetap terkendali. Arus aktivitas masyarakat di kawasan Monas juga berlangsung normal karena peserta aksi tetap berada di area yang telah ditentukan dan mengikuti arahan petugas selama kegiatan berlangsung.
Menjelang akhir kegiatan, seluruh peserta melakukan sesi foto bersama sebagai penutup rangkaian aksi. Setelah itu, koordinator lapangan mengumumkan berakhirnya kegiatan dan mengimbau seluruh peserta membubarkan diri secara tertib.
Sekitar pukul 11.10 WIB, massa meninggalkan lokasi secara bertahap tanpa adanya gesekan ataupun gangguan keamanan. Aparat kemudian melakukan pemantauan akhir di sekitar lokasi untuk memastikan situasi kembali normal.
Secara keseluruhan, aksi unjuk rasa Mata Hati Rakyat Indonesia 08 berlangsung damai dengan fokus penyampaian aspirasi berupa dukungan terhadap program strategis nasional, penguatan tata kelola pemerintahan, pemberantasan korupsi, serta ajakan menjaga persatuan dan penyelesaian berbagai perbedaan melalui dialog yang beradab.
Pewarta: Abdul Latif








Respon (1)