Bandung | Princeton Digital Group (PDG), operator pusat data yang beraktivitas di kawasan Asia Pasifik, telah menandatangani perjanjian definitif untuk menjual bisnis pusat data enterprise di Indonesia kepada PT SMPlus Digital Investama. Kesepakatan ini mencakup lima fasilitas pusat data yang selama ini menjadi bagian dari portofolio layanan PDG di Indonesia. Transaksi tersebut menandai pengalihan bisnis pusat data enterprise PDG kepada entitas yang berafiliasi dengan ekosistem Sinar Mas.
PT SMPlus Digital Investama merupakan platform investasi infrastruktur dan layanan digital yang memperoleh dukungan dari konglomerasi bisnis Sinar Mas. Melalui platform tersebut, SMPlus berfokus pada pengembangan serta pengelolaan aset dan layanan yang berkaitan dengan infrastruktur digital. Dukungan Sinar Mas memberikan konteks strategis terhadap posisi SMPlus sebagai pihak yang akan mengambil alih bisnis pusat data enterprise PDG di Indonesia.
Perjanjian yang telah ditandatangani tersebut merupakan kesepakatan definitif, tetapi transaksi belum sepenuhnya rampung. Penyelesaiannya masih menunggu pemenuhan persyaratan penutupan yang lazim dalam transaksi pengalihan bisnis. Dengan demikian, penandatanganan perjanjian menjadi langkah penting menuju penyelesaian transaksi, sementara proses pengalihan secara resmi tetap bergantung pada terpenuhinya ketentuan penutupan yang berlaku.
Dalam konteks industri pusat data, pengalihan lima fasilitas ini mempertemukan pengalaman operasional PDG dengan platform investasi dan layanan digital milik SMPlus. PDG selama ini dikenal sebagai operator pusat data di Asia Pasifik, sedangkan SMPlus hadir sebagai entitas yang didukung Sinar Mas untuk mengembangkan infrastruktur digital. Kesepakatan tersebut menjadi dasar bagi perubahan kepemilikan bisnis pusat data enterprise di Indonesia, tanpa mengubah fakta bahwa penyelesaian transaksi masih menunggu proses penutupan sesuai persyaratan yang telah ditetapkan.
Transaksi ini mencakup lima fasilitas pusat data enterprise milik PDG yang telah beroperasi dan menjadi bagian dari portofolio perusahaan di Indonesia. Kelima fasilitas tersebut dialihkan kepada entitas Sinar Mas sebagai satu kesatuan aset dalam langkah strategis yang melibatkan infrastruktur pusat data yang sudah berjalan. Karena fasilitas-fasilitas ini telah beroperasi, cakupan transaksi berfokus pada aset yang memiliki rekam jejak penggunaan serta telah menjadi bagian dari pengembangan layanan pusat data PDG di pasar domestik.
Secara geografis, lima fasilitas tersebut tersebar di sejumlah wilayah utama Indonesia. Sebagiannya berada di kawasan Jabodetabek, yang merupakan salah satu pusat kegiatan bisnis dan teknologi nasional. Portofolio itu juga mencakup fasilitas di Bandung, Surabaya, dan Pekanbaru. Persebaran tersebut menunjukkan bahwa aset yang dialihkan tidak terkonsentrasi di satu lokasi, melainkan mencakup beberapa kawasan dengan kebutuhan terhadap infrastruktur digital dan pusat data.
PDG memperoleh fasilitas-fasilitas tersebut ketika mulai memasuki pasar Indonesia pada 2019. Sejak saat itu, perusahaan membangun kehadirannya melalui pengelolaan serta pengembangan portofolio pusat data yang telah tersedia. Pengambilalihan fasilitas pada tahap awal menjadi landasan bagi PDG untuk memperluas operasinya dan melayani kebutuhan perusahaan yang membutuhkan infrastruktur digital di berbagai wilayah.
Setelah akuisisi, PDG tidak hanya mempertahankan fasilitas tersebut sebagai aset yang telah beroperasi. Perusahaan juga melakukan investasi dan peningkatan kualitas terhadap portofolio yang diperolehnya. Upaya tersebut mencerminkan proses pengembangan berkelanjutan untuk memperkuat mutu fasilitas dan mendukung tuntutan pasar pusat data enterprise. Dengan demikian, lima fasilitas yang kini menjadi bagian dari transaksi merupakan portofolio yang telah melalui kepemilikan, pengelolaan, dan peningkatan oleh PDG sejak perusahaan memasuki Indonesia, sebelum dialihkan kepada entitas Sinar Mas.
Strategi PDG dalam mengembangkan bisnis pusat data berangkat dari pendekatan bertahap yang berorientasi pada skala. Rangu Salgame, chairman, CEO, dan co-founder PDG, menjelaskan bahwa perusahaan biasanya memasuki suatu pasar, membangun kehadiran operasional yang kuat, kemudian memperluas bisnis untuk mencapai skala yang lebih besar. Pendekatan ini memungkinkan PDG memahami kebutuhan pelanggan secara langsung, membangun infrastruktur yang relevan, serta mengembangkan kapasitas secara terukur sesuai pertumbuhan permintaan.
Di Indonesia, langkah awal tersebut diwujudkan melalui akuisisi portofolio pusat data enterprise yang telah mapan. Akuisisi ini memberikan PDG pijakan operasional, basis pelanggan, serta aset infrastruktur yang dapat dikembangkan lebih lanjut. Setelah itu, perusahaan berinvestasi untuk memperluas kapabilitas pusat data dan membangun bisnis hyperscale, sehingga mampu melayani kebutuhan perusahaan teknologi global, penyedia layanan komputasi awan, dan pelanggan digital berskala besar.
Hasil dari strategi tersebut terlihat dalam perkembangan portofolio hyperscale PDG di Indonesia. Perusahaan kini telah mengembangkan kapasitas sebesar 400 MW yang mencakup kampus JC2, JC3, dan JC4. Ketiga kampus tersebut memperkuat posisi PDG dalam menyediakan infrastruktur digital berkapasitas tinggi sekaligus mendukung pertumbuhan ekosistem cloud dan kecerdasan buatan di dalam negeri. PDG juga berencana melanjutkan investasi untuk memperluas pusat data, mengikuti peningkatan kebutuhan kapasitas dan konektivitas.
Salgame menyebut transaksi ini sebagai langkah alami untuk terus melayani kebutuhan pelanggan hyperscale yang berkembang di Indonesia dan kawasan Asia Pasifik. Pernyataan tersebut mencerminkan kesinambungan strategi PDG, bukan perubahan arah bisnis. Secara regional, total portofolio PDG saat ini telah melampaui 1,8 GW dan tersebar di delapan negara Asia Pasifik. Dengan memperkuat aset yang sudah ada serta menambah fasilitas baru, perusahaan berupaya mempertahankan kemampuan ekspansi sekaligus memenuhi kebutuhan pelanggan secara konsisten dalam jangka panjang.
Pada Maret 2025, Sinar Mas (SM) menjelaskan rencana pembangunan pusat data SMX01 di kawasan pusat bisnis Jakarta. Fasilitas ini dirancang sebagai bagian dari pengembangan infrastruktur digital yang mampu melayani kebutuhan perusahaan, penyedia layanan teknologi, dan pengguna dengan tuntutan konektivitas serta kapasitas komputasi yang besar. Total investasi yang disebutkan mencapai lebih dari US$300 juta, atau sekitar Rp4,9 triliun berdasarkan kurs Rp16.447 per US$.
Dalam pengembangannya, anak usaha Sinar Mas tersebut menjalin kerja sama strategis dengan Korea Investment Real Asset Management (KIRA). Sementara itu, LG Sinar Mas berperan sebagai penasihat teknologi sekaligus operator fasilitas. Pembagian peran tersebut mencakup dukungan terhadap rancangan teknologi, kesiapan operasional, dan pengelolaan pusat data agar dapat memenuhi standar kebutuhan pelanggan di segmen colocation maupun skala besar.
SMX01 dirancang sebagai pusat data dengan konektivitas tinggi dan dipersiapkan untuk mendukung teknologi kecerdasan buatan (AI), termasuk aplikasi yang membutuhkan pemrosesan data dalam jumlah besar. Fasilitas ini ditargetkan mulai beroperasi pada 2026. Luas bangunannya hampir mencapai 15.500 meter persegi, dengan kapasitas keseluruhan hingga 2.400 rak yang ditempatkan dalam sembilan data hall.
Setiap data hall dapat menampung hingga 340 rak. Konfigurasi tersebut memungkinkan SMX01 melayani beragam kebutuhan infrastruktur digital, mulai dari layanan colocation hingga lingkungan hyperscale dengan kepadatan daya tinggi. Rancangannya juga ditujukan untuk mendukung aplikasi AI dan machine learning yang memerlukan daya, pendinginan, konektivitas, serta keandalan operasional yang memadai. Dengan spesifikasi itu, SMX01 diposisikan untuk menyediakan ruang dan infrastruktur bagi pelanggan dengan kebutuhan komputasi konvensional maupun beban kerja generasi baru.
Baca juga: Fasilitas Lengkap untuk Tim Tamu di FIFA ASEAN Cup 2026
