Jakarta | Gunung Semeru di Jawa Timur mengalami erupsi pada Kamis pukul 09.24 WIB. Menyusul kejadian tersebut, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau masyarakat, wisatawan, serta penambang pasir agar menjauhi kawasan rawan bencana. Imbauan ini disampaikan untuk mengurangi risiko paparan material vulkanik dan bahaya lain yang dapat muncul selama aktivitas erupsi berlangsung. Warga dan pengunjung diminta tidak mendekati zona berbahaya, sementara kegiatan di sekitar alur yang berpotensi terdampak perlu dihindari. Kondisi di kawasan gunung dapat berubah, sehingga masyarakat diharapkan mematuhi arahan petugas dan informasi resmi yang disampaikan oleh instansi terkait.
Badan Geologi melaporkan bahwa erupsi tersebut menghasilkan kolom abu tebal berwarna kelabu kehitaman dengan ketinggian sekitar 700 meter. Kolom abu teramati mengarah ke tenggara. Selain lontaran abu, laporan itu juga mencatat terjadinya awan panas guguran yang meluncur ke arah yang sama. Jarak luncur awan panas dilaporkan mencapai hingga 4.500 meter. Pergerakan abu dan awan panas tersebut menjadi salah satu alasan penting bagi masyarakat untuk tidak memasuki kawasan berisiko, termasuk area yang berada pada jalur arah luncuran. Material vulkanik dapat membahayakan siapa pun yang berada terlalu dekat, baik warga, wisatawan, maupun penambang pasir yang beraktivitas di sekitar Semeru.
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Panjaitan, menyampaikan imbauan agar masyarakat, wisatawan, dan penambang pasir menjauhi zona bahaya setelah erupsi terjadi. Pernyataan tersebut menegaskan perlunya mengutamakan keselamatan dan mengikuti pembaruan informasi dari pihak berwenang. Masyarakat sebaiknya tidak mendatangi lokasi untuk melihat aktivitas gunung atau mengambil gambar, karena kondisi erupsi dan sebaran material dapat berubah. Penambang pasir juga perlu menunda kegiatan di area yang berpotensi terdampak sampai situasi dinyatakan aman oleh petugas. Kepatuhan terhadap imbauan BNPB dan arahan instansi terkait membantu mengurangi paparan terhadap abu maupun ancaman awan panas guguran yang dilaporkan bergerak ke tenggara.
Menyusul peningkatan aktivitas vulkanik Semeru, masyarakat dan pengunjung diminta mematuhi batas keselamatan yang telah ditetapkan serta mengikuti informasi resmi dari pihak berwenang. Pembatasan berlaku pada beberapa zona dengan ukuran dan acuan yang berbeda. Karena itu, jarak-jarak tersebut perlu dipahami secara terpisah, bukan dianggap sebagai satu batas yang sama untuk seluruh kawasan.
Pada sektor tenggara, seluruh aktivitas dilarang hingga jarak 13 kilometer dari puncak. Larangan ini berlaku khusus untuk sektor tersebut. Masyarakat tidak disarankan memasuki atau melakukan kegiatan di dalam zona itu, termasuk untuk melihat kondisi gunung dari dekat. Batas sektor tenggara tidak mengubah ketentuan tersendiri yang berlaku di sepanjang aliran sungai maupun di sekitar kawah.
Ketentuan berbeda berlaku di sepanjang sungai yang berhulu dari Semeru. Area dalam jarak 500 meter dari tepi sungai harus steril dari aktivitas, dan kewaspadaan ini diberlakukan sampai sejauh 17 kilometer dari puncak. Dengan kata lain, angka 500 meter mengacu pada jarak dari tepi sungai, sedangkan 17 kilometer menunjukkan jangkauan kawasan sungai yang dimaksud dari puncak. Keduanya bukan pengganti batas 13 kilometer pada sektor tenggara.
Di kawasan kawah, masyarakat perlu menjaga jarak aman sekurang-kurangnya lima kilometer dari kawah. Batas ini merupakan imbauan khusus untuk area kawah dan harus dibaca terpisah dari zona sektor tenggara serta koridor sungai. Tidak memasuki zona berbahaya merupakan langkah penting untuk mengurangi risiko paparan material vulkanik dan ancaman lain saat aktivitas meningkat. Warga sebaiknya menunda perjalanan, pekerjaan, atau kegiatan wisata yang berpotensi membawa mereka ke area terlarang. Apabila berada di sekitar kawasan, patuhi arahan petugas, gunakan jalur yang dinyatakan aman, dan segera menjauh bila diminta. Kondisi gunung dapat berubah, sehingga batas keselamatan maupun arahan di lapangan perlu diperiksa kembali melalui pengumuman resmi terbaru sebelum beraktivitas.
Warga yang berada di sekitar Gunung Semeru, terutama di kawasan lembah dan sepanjang aliran sungai, diminta meningkatkan kewaspadaan setelah terjadi erupsi. Ancaman dapat berupa awan panas guguran, aliran lava, maupun lahar yang bergerak mengikuti jalur sungai. Karena itu, masyarakat perlu menjauhi kawasan rawan dan tidak beraktivitas di area yang telah dinyatakan berbahaya. Risiko dapat meningkat sewaktu-waktu, termasuk ketika kondisi cuaca berubah atau hujan turun di wilayah hulu. Warga sebaiknya tidak mendekati aliran sungai untuk melihat aktivitas gunung, mengambil gambar, atau melakukan kegiatan lain yang dapat membahayakan keselamatan. Perhatikan pula informasi resmi yang disampaikan petugas.
Perhatian khusus perlu diberikan pada lembah dan aliran Sungai Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, serta Besuk Sat. Jalur-jalur tersebut berpotensi menjadi lintasan material vulkanik, termasuk lahar yang dapat terbentuk ketika hujan mengalirkan endapan dari lereng. Masyarakat yang tinggal, bekerja, atau sedang melintas di sekitar sungai hendaknya segera berpindah ke tempat yang lebih aman apabila diminta. Jangan menerobos pembatas maupun kembali ke zona berbahaya sebelum ada pemberitahuan bahwa situasi telah aman. BNPB mengimbau masyarakat agar mengikuti arahan petugas di lapangan dan mematuhi informasi resmi mengenai zona bahaya, jalur evakuasi, serta tempat pengungsian yang disiapkan.
Jika hujan abu terjadi, warga disarankan menggunakan masker untuk mengurangi paparan abu vulkanik dan mengenakan kacamata pelindung agar mata tidak iritasi. Hindari mengucek mata, dan bersihkan abu dengan hati-hati sesuai arahan petugas. Setiap keluarga juga perlu menyiapkan tas siaga darurat yang mudah dibawa saat evakuasi. Isinya dapat mencakup air minum, makanan tahan lama, obat-obatan pribadi, dokumen penting dalam pelindung kedap air, lampu senter, baterai, pakaian, serta perlengkapan kebersihan. Pastikan seluruh anggota keluarga mengetahui lokasi tas dan rencana berkumpul. Dengan kesiapan dan kepatuhan terhadap instruksi, warga dapat merespons keadaan darurat dengan lebih tertib serta mengurangi risiko bagi diri sendiri dan orang lain.
Pendaki dan wisatawan diimbau menunda rencana mendaki Semeru serta tidak memasuki kawasan yang dinyatakan rawan. Keinginan untuk menikmati pemandangan, berwisata, atau membuat konten tidak sepatutnya menjadi alasan untuk mengambil risiko di tengah kondisi erupsi. Aktivitas di sekitar gunung dapat membahayakan keselamatan apabila dilakukan dengan mengabaikan imbauan dan batas kawasan yang telah ditetapkan. Karena itu, masyarakat diminta mengutamakan keselamatan dengan menjauh dari lokasi berbahaya dan menunggu hingga kegiatan pendakian maupun kunjungan dinyatakan aman untuk dilakukan. Menunda perjalanan bukan sekadar tindakan pencegahan pribadi, melainkan juga cara menghindari paparan bahaya yang dapat mengancam jiwa. Wisatawan sebaiknya tidak mencoba mendekati area rawan hanya demi memperoleh gambar atau pengalaman langsung, dan pendaki perlu menangguhkan perjalanan sampai kondisi memungkinkan.
Imbauan serupa ditujukan kepada penambang pasir yang beraktivitas di sekitar aliran sungai. BNPB meminta kegiatan penambangan di zona bahaya segera dihentikan. Penambang juga diminta mengevakuasi alat berat yang berada di dasar sungai, bukan membiarkannya tetap berada di lokasi berisiko. Langkah ini perlu dilakukan dengan memperhatikan keselamatan, serta mengikuti arahan petugas mengenai batas aman dan area yang harus dihindari. Aktivitas penambangan tidak boleh diteruskan apabila berada di kawasan yang telah dinyatakan berbahaya. Kepentingan untuk bekerja atau menyelamatkan peralatan tidak boleh mendorong siapa pun bertahan di zona tersebut dan mempertaruhkan keselamatan jiwa. Penambang perlu menempatkan diri di luar batas bahaya, menghentikan pekerjaan, dan memastikan alat berat dievakuasi dari dasar sungai sesuai instruksi BNPB.
Baik pendaki, wisatawan, maupun penambang di sekitar sungai diharapkan menjadikan keselamatan sebagai prioritas dan tidak mengabaikan peringatan yang disampaikan.
Baca juga: Kemenimipas Telusuri 13 Bangunan Tak Tercatat di Kawasan Lapas Cibinong | Udara Makassar Memburuk, Pemerintah Siapkan Imbauan Penggunaan Masker | Kontras Kampung Pelangi: Permukiman Padat Nyempil di Kawasan Elite Jaksel
26 kunjungan