Udara Makassar Memburuk, Pemerintah Siapkan Imbauan Penggunaan Masker

Udara Makassar Memburuk, Pemerintah Siapkan Imbauan Penggunaan Masker

MAKASSAR, SULAWESI SELATAN — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 5 Oktober 2026, Kualitas udara di Kota Makassar dan sejumlah wilayah di sekitarnya dilaporkan memburuk dalam beberapa hari terakhir. Perubahan kondisi tersebut menjadi perhatian karena masyarakat tetap menjalankan berbagai kegiatan, termasuk aktivitas di ruang terbuka, ketika kualitas udara belum sepenuhnya mendukung kesehatan. Situasi ini mendorong pemerintah daerah mempertimbangkan langkah perlindungan bagi warga sebagai bagian dari upaya mengurangi risiko paparan polutan.

Berdasarkan pemantauan BMKG Wilayah IV Makassar pada Minggu (4/10), indikator PM2,5 di Maros, wilayah sekitar, dan Makassar berada pada kategori kurang sehat hingga sedang. Informasi tersebut menunjukkan bahwa kondisi udara tidak seragam di seluruh kawasan, tetapi terdapat wilayah yang memerlukan kewaspadaan lebih besar. BMKG menyampaikan hasil pemantauan itu sebagai gambaran kondisi atmosfer dan kualitas udara yang perlu menjadi perhatian masyarakat serta pemangku kebijakan.

Pemerintah daerah mempertimbangkan imbauan penggunaan masker, terutama bagi warga yang harus beraktivitas di luar ruangan. Langkah tersebut diarahkan sebagai tindakan pencegahan sederhana, khususnya ketika masyarakat melakukan perjalanan, bekerja, berolahraga, atau menjalankan kegiatan lain di kawasan yang terpapar udara kurang baik. Imbauan ini juga diharapkan membantu meningkatkan kesadaran publik mengenai pentingnya menyesuaikan aktivitas dengan perkembangan kualitas udara.

Perhatian khusus perlu diberikan kepada kelompok yang lebih rentan, seperti anak-anak, lansia, serta warga dengan gangguan pernapasan. Masyarakat juga diharapkan mengikuti informasi resmi mengenai perkembangan kualitas udara dan memperhatikan arahan pemerintah daerah maupun BMKG. Dengan pemantauan yang berkelanjutan, kebijakan perlindungan dapat disesuaikan dengan kondisi di Makassar, Maros, dan wilayah sekitarnya tanpa menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat.

Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman menyampaikan bahwa pemerintah sedang menyiapkan surat edaran mengenai penggunaan masker menyusul memburuknya kualitas udara di Makassar. Pernyataan tersebut menunjukkan adanya rencana untuk memberikan arahan kepada masyarakat, tetapi belum dapat dipahami sebagai ketentuan resmi yang sudah berlaku. Surat edaran masih berada dalam tahap persiapan dan memerlukan dasar informasi yang memadai.

Sebelum menetapkan ketentuan dalam edaran tersebut, pemerintah akan melakukan analisis terhadap tingkat bahaya kualitas udara. Proses ini mencakup penelaahan kondisi udara dan pendataan yang diperlukan untuk mengetahui dampaknya terhadap kesehatan masyarakat. Hasil analisis dan pendataan itu akan menjadi pertimbangan dalam menentukan bentuk arahan, termasuk sejauh mana penggunaan masker perlu dianjurkan atau diwajibkan.

Menurut arahan yang disampaikan gubernur, penggunaan masker terutama ditujukan bagi warga yang beraktivitas di luar ruangan. Masyarakat yang bekerja, bepergian, atau menjalankan kegiatan lain di area terbuka berpotensi lebih sering terpapar udara dengan kualitas buruk. Karena itu, imbauan nantinya diharapkan dapat membantu mengurangi risiko gangguan kesehatan, khususnya bagi kelompok yang lebih rentan terhadap paparan polusi.

Pemerintah masih perlu memastikan data kualitas udara dan tingkat risikonya sebelum menerbitkan surat edaran. Dengan demikian, masyarakat sebaiknya membedakan rencana kebijakan yang sedang disiapkan dan keputusan yang telah ditetapkan secara resmi. Informasi mengenai isi edaran, cakupan wilayah, serta ketentuan penggunaan masker akan diketahui setelah proses analisis dan pendataan selesai dilakukan. Sementara itu, warga dapat mengikuti perkembangan informasi dari pemerintah dan mempertimbangkan perlindungan diri ketika berada di luar ruangan, terutama apabila kondisi udara terlihat atau terukur memburuk.

Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin mengimbau masyarakat untuk memperhatikan perlindungan diri ketika beraktivitas di luar ruangan. Dalam kondisi udara yang dinilai kurang baik, penggunaan masker atau perlindungan lain dipandang penting untuk membantu mengurangi dampak paparan terhadap kesehatan. Imbauan tersebut terutama ditujukan kepada warga yang perlu melakukan kegiatan di luar rumah dan berhadapan langsung dengan kondisi udara yang sedang berlangsung.

Munafri menyampaikan bahwa masyarakat sebaiknya tidak mengabaikan keadaan tersebut. Pemakaian masker menjadi salah satu langkah perlindungan yang dapat dipertimbangkan saat berada di ruang terbuka. Selain masker, warga juga dapat menggunakan perlindungan lain yang sesuai ketika menjalankan kegiatan di luar. Imbauan ini disampaikan sebagai bentuk perhatian terhadap kondisi kesehatan masyarakat di tengah kualitas udara yang belum mendukung.

Menurut Munafri, keadaan udara di Makassar saat ini sangat kering. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan masyarakat perlu lebih berhati-hati, khususnya ketika harus berada di luar ruangan dalam waktu tertentu. Udara yang sangat kering dikhawatirkan menimbulkan dampak yang lebih serius apabila terus berlangsung, terutama terhadap saluran pernapasan. Karena itu, perlindungan selama beraktivitas di luar dinilai perlu menjadi perhatian bersama.

Pemerintah Kota Makassar masih akan mempertimbangkan langkah lanjutan apabila kondisi udara yang kurang baik tersebut berlanjut. Pemerintah belum menyampaikan tindakan tambahan di luar imbauan perlindungan saat ini, tetapi perkembangan keadaan akan tetap menjadi pertimbangan. Masyarakat diharapkan mencermati kondisi udara dan mengikuti imbauan yang disampaikan, terutama saat melakukan kegiatan di ruang terbuka. Dengan kewaspadaan tersebut, risiko dampak kesehatan dari udara yang sangat kering dan kurang baik diharapkan dapat dikurangi.

Prakirawan BMKG Makassar, Asriani Idrus, menyampaikan bahwa memburuknya kondisi udara di Sulawesi Selatan diduga berkaitan dengan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari Kalimantan. Asap tersebut berpotensi terbawa oleh pergerakan angin menuju wilayah Sulawesi Selatan. Namun, dugaan ini tetap perlu ditempatkan sebagai hasil pengamatan meteorologis, bukan kepastian mengenai sumber pencemaran udara. BMKG menggunakan sejumlah indikator, termasuk pola angin dan perubahan kondisi atmosfer, untuk menilai kemungkinan pergerakan asap antardaerah.

Berdasarkan keterangan tersebut, kualitas udara cenderung memburuk pada tengah malam hingga pagi atau dini hari. Pada periode ini, kondisi atmosfer dapat membuat partikel asap bertahan lebih dekat dengan permukaan sehingga dampaknya lebih mudah teramati. Udara biasanya mulai membaik pada siang hingga sore, ketika perubahan suhu dan pergerakan atmosfer membantu mengurangi konsentrasi partikel di suatu wilayah. Dalam pemantauan pada hari itu, kondisi udara disebut kembali membaik sekitar pukul 12. Pola tersebut menjadi salah satu aspek yang diperhatikan dalam membaca perubahan kualitas udara harian.

Arah angin juga menjadi indikator penting untuk memperkirakan kemungkinan asal asap. Angin yang bergerak dari barat hingga barat laut berpotensi membawa asap dari Kalimantan menuju Sulawesi Selatan. Sebaliknya, apabila angin dominan berasal dari timur, terdapat kemungkinan masuknya asap dari wilayah Papua dan Maluku. Arah angin tidak berdiri sendiri sebagai penentu sumber asap, tetapi perlu dibandingkan dengan hasil pemantauan kualitas udara, kondisi cuaca, serta perkembangan kebakaran di wilayah lain.

Pada saat pemantauan berlangsung, arah angin yang tercatat berasal dari barat. Kondisi ini memperkuat dugaan bahwa asap dari Kalimantan berpotensi bergerak menuju Sulawesi Selatan. Meski demikian, BMKG tetap menyampaikan informasi tersebut secara hati-hati karena perubahan arah dan kecepatan angin dapat memengaruhi jalur perpindahan asap. Pemantauan berkala diperlukan untuk mengetahui apakah kondisi udara membaik atau kembali menurun pada waktu berikutnya.