Jakarta | Jakarta menempati peringkat ke-15 dalam daftar 20 kota dengan transportasi umum terbaik dunia untuk 2026. Dalam penilaian tersebut, tingkat kepuasan warga Jakarta tercatat sebesar 79,2 persen. Hasil ini menempatkan ibu kota Indonesia di kota-kota yang masuk dalam daftar, yang disusun dengan melihat penilaian penduduk terhadap layanan transportasi umum di tempat mereka tinggal. Dengan demikian, posisi Jakarta dan angka kepuasan warganya menjadi bagian utama dari hasil pemeringkatan tahun ini.
Daftar tersebut tidak semata-mata menyajikan urutan kota, tetapi juga mencantumkan persentase kepuasan penduduk terhadap layanan transportasi umum di masing-masing kota. Untuk Jakarta, angka 79,2 persen menunjukkan tingkat kepuasan yang dicatat dalam penilaian tersebut. Peringkat ke-15 merupakan posisi Jakarta di 20 kota yang tercakup, sementara dasar penyusunannya adalah pandangan warga yang tinggal di kota-kota itu. Informasi ini mengaitkan hasil pemeringkatan dengan pengalaman penduduk setempat, bukan dengan uraian terpisah mengenai karakteristik layanan.
Pengumuman hasil untuk 2026 tersebut memberi gambaran tentang posisi Jakarta dalam daftar berdasarkan penilaian penduduknya. Jakarta berada di bagian tengah daftar 20 kota, pada urutan ke-15, dengan skor kepuasan 79,2 persen. Kedua angka itu menggambarkan hasil yang dilaporkan bagi kota ini: satu menunjukkan peringkat, dan satu lagi mencatat persentase kepuasan warga. Daftar disusun melalui penilaian penduduk atas transportasi umum di kota tempat mereka tinggal, sehingga hasil Jakarta dibaca sebagai bagian dari penilaian tersebut. Informasi yang tersedia berfokus pada urutan dan persentase itu, tanpa merinci jenis layanan atau faktor yang membentuk penilaian. Dengan demikian, kabar utama dari pemeringkatan ini adalah bahwa Jakarta masuk dalam 20 kota yang dinilai dan berada pada peringkat ke-15 untuk 2026. Skor kepuasan penduduk yang dicatat dalam daftar mencapai 79,2 persen. Penyajian kedua data tersebut memungkinkan pembaca melihat posisi Jakarta sekaligus angka penilaian warganya dalam satu pemeringkatan internasional. Penilaian itu merujuk pada penduduk di kota masing-masing, termasuk warga Jakarta.
Peringkat transportasi umum dunia 2026 disusun berdasarkan survei tahunan yang melibatkan lebih dari 24 ribu warga di berbagai kota. Pendekatan ini menempatkan pengalaman penumpang sebagai ukuran utama, bukan hanya data teknis seperti panjang jaringan, jumlah armada, atau besarnya investasi. Responden diminta menilai layanan yang tersedia di kota tempat mereka tinggal, sehingga hasilnya mencerminkan persepsi masyarakat terhadap perjalanan sehari-hari.
Penilaian mencakup moda transportasi umum yang digunakan warga, termasuk bus, kereta, dan trem. Setiap responden memberikan skor pada skala satu sampai lima, dengan pilihan yang bergerak dari “sangat buruk” hingga “luar biasa”. Skala tersebut memungkinkan peserta membedakan tingkat kepuasan mereka secara bertahap, mulai dari pengalaman yang dinilai tidak memadai sampai layanan yang dianggap sangat baik. Dengan demikian, penilaian tidak hanya menunjukkan apakah suatu sistem tersedia, tetapi juga bagaimana mutu layanan dirasakan oleh penggunanya.
Setelah jawaban dikumpulkan, peringkat ditentukan berdasarkan persentase penduduk yang menilai transportasi umum di kota mereka “baik” atau “luar biasa”. Artinya, posisi sebuah kota bergantung pada proporsi penilaian positif di responden, bukan semata-mata pada jumlah orang yang menggunakan angkutan umum. Perbedaan kecil dalam persentase dapat memengaruhi urutan, terutama ketika kota-kota memperoleh skor yang berdekatan. Karena hasil berasal dari survei, angka tersebut merepresentasikan pendapat warga yang berpartisipasi dan perlu dibaca sebagai ukuran persepsi, bukan audit menyeluruh atas kinerja operasional.
Metode ini juga menerapkan aturan cakupan geografis agar satu negara tidak mendominasi daftar melalui beberapa kota sekaligus. Setiap negara hanya memperoleh satu tempat dalam peringkat, yang diberikan kepada kota dengan penilaian tertinggi dari negara tersebut. Jika beberapa kota di negara yang sama dinilai, hanya kota dengan persentase respons positif terbaik yang mewakili negara itu. Aturan tersebut membuat daftar membandingkan kota dari lebih banyak negara, sekaligus menjelaskan mengapa kota lain dengan hasil baik mungkin tidak tercantum. Karena itu, posisi Jakarta perlu dipahami dalam kerangka perbandingan berbasis penilaian warga dan ketentuan keterwakilan negara yang sama.Dalam penilaian transportasi umum dunia 2026, Taipei menempati posisi pertama dengan 95 persen penilaian positif. Capaian tersebut memberi konteks penting bagi posisi Jakarta, sekaligus menunjukkan kuatnya apresiasi responden terhadap layanan MRT di ibu kota Taiwan. Penilaian positif ini secara khusus berkaitan dengan pengalaman menggunakan MRT Taipei, bukan ukuran yang otomatis mewakili seluruh aspek kehidupan kota atau semua moda transportasi. Tingkat kepuasan tinggi itu dikaitkan dengan sejumlah hal dalam operasional sehari-hari: kondisi stasiun yang bersih, antrean penumpang yang tertib di peron, serta ketepatan waktu kereta. Ketiga unsur tersebut membantu membentuk pengalaman perjalanan yang dinilai baik oleh pengguna.
Singapura berada di posisi kedua dengan 93,5 persen penilaian positif. Selisihnya dari Taipei adalah 1,5 poin persentase, sementara kedua kota itu menempati dua urutan teratas dalam daftar global. Angka tersebut merujuk pada penilaian positif terhadap layanan transportasi umum yang dinilai, dan tidak dengan sendirinya membuktikan keunggulan pada aspek lain. MRT Singapura memiliki 146 stasiun dan melayani sekitar 3,5 juta perjalanan setiap hari. Skala jaringan serta jumlah perjalanan ini memberi gambaran mengenai jangkauan operasional sistem MRT di negara tersebut, tetapi bukan dasar untuk menafsirkan penilaian positif sebagai klaim tentang seluruh pengalaman pengguna atau semua layanan di Singapura.
Posisi Taipei dan Singapura menjadi tolok ukur untuk membaca hasil penilaian kota-kota lain, termasuk Jakarta yang berada di urutan ke-15. Perbandingan peringkat menunjukkan posisi relatif berdasarkan hasil penilaian dalam daftar, sedangkan persentase positif menggambarkan bagian penilaian yang masuk kategori positif. Kedua hal itu perlu dibaca sesuai cakupannya. Untuk Taipei, bahan penilaian menautkan kepuasan tinggi terhadap MRT dengan kebersihan stasiun, keteraturan antrean di peron, dan ketepatan waktu kereta. Untuk Singapura, informasi yang tersedia mencatat jumlah stasiun dan perjalanan harian MRT. Dengan demikian, capaian dua pemimpin daftar memberi konteks, tanpa mengubah fakta spesifik mengenai layanan atau memperluasnya menjadi kesimpulan yang tidak tercantum.
Daftar berikut memuat 20 kota berdasarkan persentase penilaian positif terhadap transportasi umum, sesuai urutan dalam bahan sumber. Angka tersebut membantu menempatkan capaian Jakarta di berbagai kota dunia, sekaligus memperlihatkan rentang penilaian dari posisi teratas hingga urutan ke-20. Jakarta berada di peringkat ke-15 dengan nilai 79,2%, di Stockholm dan Riyadh.
1) Taipei, Taiwan, 95%; 2) Singapura, 93,5%; 3) Hong Kong, 92,8%; 4) Edinburgh, Skotlandia, 92,4%; 5) Seoul, Korea Selatan, 91,1%.
6) Zurich, Swiss, 90,7%; 7) Wina, Austria, 90,3%; 8) Tallinn, Estonia, 85,3%; 9) Helsinki, Finlandia, 83,6%; 10) Medellín, Kolombia, 83%.
11) Shanghai, China, 82,7%; 12) Warsawa, Polandia, 81,9%; 13) Osaka, Jepang, 81,6%; 14) Stockholm, Swedia, 80,3%; 15) Jakarta, Indonesia, 79,2%.
16) Riyadh, Arab Saudi, 78,2%; 17) Hamburg, Jerman, 77%; 18) Amsterdam, Belanda, 76,9%; 19) Vancouver, Kanada, 76,7%; 20) Oslo, Norwegia, 75,9%.
Posisi Jakarta memperlihatkan bahwa penilaian positif terhadap layanan transportasi umum di ibu kota Indonesia melampaui sejumlah kota lain dalam daftar, termasuk Riyadh, Hamburg, Amsterdam, Vancouver, dan Oslo.
Baca juga: Kesempatan Kerja Melalui Jakarta Pusat Job Connect 2026 | Pergerakan Harga Emas Perhiasan di Jakarta 14 September 2026 | Kegiatan Menarik di Jakarta Pusat Bulan September 2026






