Kota Palembang | Kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Asia Tenggara dapat menghasilkan kabut asap tebal yang bergerak melintasi batas negara. Selain mengurangi jarak pandang, polusi partikel halus menimbulkan kekhawatiran kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, dan wisatawan yang beraktivitas di luar ruangan. Destinasi alam, taman kota, serta kawasan pesisir pun berisiko kehilangan daya tarik ketika langit tertutup asap dan kualitas udara memburuk. Dampaknya tidak berhenti pada masyarakat yang tinggal dekat titik kebakaran; pelancong dan pelaku usaha wisata di berbagai negara turut merasakan ketidakpastian.
Gangguan perjalanan dapat muncul ketika jarak pandang yang rendah memengaruhi operasi bandara dan penerbangan. Penundaan atau pembatalan jadwal membuat wisatawan harus mengubah rencana, memperpanjang masa tinggal, atau membatalkan kunjungan. Di Indonesia, kondisi kabut dapat menghambat perjalanan menuju destinasi alam, termasuk kawasan yang mengandalkan akses udara dan tur luar ruang. Singapura dapat terdampak sebagai pusat transit regional, sementara di Malaysia, termasuk Johor, wisatawan mungkin meninjau ulang perjalanan lintas batas. Perubahan rencana tersebut ikut melemahkan pemesanan kamar hotel, paket tur, dan layanan transportasi setempat. Operator menghadapi kesulitan memperkirakan permintaan, sedangkan usaha kecil berpotensi kehilangan pendapatan ketika pengunjung memilih menunggu hingga situasi lebih aman.
Catatan pemantauan IQAir pada 20 Oktober 2026 menempatkan Jakarta, Singapura, dan Kuala Lumpur dalam daftar 10 kota dengan tingkat polusi udara tertinggi di dunia. Peringkat tersebut memberi gambaran tentang luasnya tekanan kualitas udara yang dihadapi sejumlah pusat perjalanan kawasan pada saat itu. Bagi wisatawan, informasi polusi dapat memengaruhi keputusan sebelum keberangkatan maupun aktivitas selama berada di destinasi. Bagi industri, kabut asap menambah risiko operasional di tengah kebutuhan menjaga keselamatan pengunjung dan kepercayaan pasar. Dengan demikian, gangguan penerbangan, pembatalan perjalanan, dan melemahnya pemesanan bukan persoalan yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari tekanan lebih luas terhadap pariwisata Asia Tenggara saat kebakaran hutan dan lahan meluas.
Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Indonesia tidak hanya mengganggu kehidupan warga, tetapi juga menekan kegiatan pariwisata. Sebaran asap di sejumlah wilayah membuat jarak pandang berkurang dan menghambat penerbangan domestik maupun internasional. Gangguan tersebut dapat mempersulit wisatawan mencapai tujuan, mengubah jadwal perjalanan, bahkan membuat rencana liburan dibatalkan. Sejumlah operator tur merespons dengan membatalkan perjalanan atau mengalihkan wisatawan ke destinasi alternatif yang dinilai tidak terdampak separah wilayah berasap. Bagi industri wisata, kondisi ini menambah ketidakpastian karena akses transportasi dan kelayakan kunjungan dapat berubah seiring perkembangan kebakaran.
Dampaknya terlihat di Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah, yang dikenal sebagai tujuan untuk melihat orang utan di habitat alaminya. Perjalanan ke kawasan ini bergantung pada pengalaman wisata luar ruang dan akses menuju taman nasional, sehingga kabut yang semakin pekat dapat mengurangi kenyamanan maupun keamanan kunjungan. Direktur Panorama Destination, Ricky Setiawanto, menyatakan bahwa dua rombongan wisatawan membatalkan kunjungan dalam kurun satu pekan akibat kabut asap yang makin parah. Pembatalan tersebut menggambarkan bagaimana dampak kebakaran dapat menjangkau destinasi alam, termasuk lokasi yang menjadi daya tarik utama bagi wisatawan mancanegara. Ketika tur dihentikan, pelaku perjalanan juga perlu mencari pilihan lain dan menata ulang agenda yang telah disusun.
Untuk menekan dampak kebakaran, upaya penanggulangan dilakukan melalui pengerahan tim pemadam darat serta operasi pemadaman dari udara guna mengendalikan titik panas di Sumatra dan Kalimantan. Kedua pendekatan itu ditujukan untuk menjangkau kebakaran di wilayah yang berbeda, meskipun luas dan kondisi medan dapat menyulitkan pemadaman. Selain operasi tersebut, pemerintah menggelar modifikasi cuaca dengan menyemai 3,2 ton es kering di atas Palembang untuk memicu hujan. Hujan diharapkan membantu membasahi lahan dan mengurangi risiko api meluas, sekaligus mendukung upaya pemadaman. Penanganan titik panas dan penurunan kabut menjadi penting bukan hanya bagi kesehatan masyarakat, tetapi juga bagi pemulihan akses perjalanan. Selama asap masih mengganggu penerbangan dan aktivitas di destinasi, operator tur kemungkinan tetap perlu memantau situasi serta menyesuaikan rencana kunjungan.
Kualitas udara yang tidak sehat mulai mengubah cara wisatawan menikmati Singapura. Sebagian pengunjung menyesuaikan agenda untuk mengurangi paparan polusi, misalnya dengan mengurangi kegiatan di luar ruangan atau memilih destinasi dalam ruang. Wisatawan lain tetap melanjutkan perjalanan, tetapi mengenakan masker N95 sebagai perlindungan saat berada di luar. Respons yang beragam ini menunjukkan bahwa kabut asap bukan sekadar gangguan kenyamanan: kondisi tersebut turut memengaruhi keputusan perjalanan dan aktivitas wisata di kota itu.
Singapura mengalami kualitas udara tidak sehat selama 19 hari berturut-turut, dari 5 hingga 23 Oktober 2026. Rentang tersebut memperpanjang kekhawatiran pelaku usaha pariwisata, terutama karena dampak pada minat berkunjung telah terlihat sejak kualitas udara memburuk pada September. Six Stars Tours and Services melaporkan tren pemesanan wisatawan mancanegara menurun, sementara pembatalan meningkat. Perubahan ini memberi indikasi bahwa sebagian calon pengunjung meninjau ulang rencana perjalanan ketika kondisi udara menjadi kurang baik.
Tekanan serupa terlihat pada penjualan dan penyelenggaraan tur. VTL Travel, melalui merek Rediscover Singapore, menyatakan penjualan tiket turun 20–30 persen sejak September. Pada September–Oktober 2026, perusahaan itu hanya mampu menjalankan dua tur per bulan. Angka tersebut jauh di bawah kapasitas normal, yakni empat hingga delapan tur setiap bulan. Penurunan frekuensi tur sekaligus mencerminkan melemahnya permintaan dan menyulitkan operator mempertahankan jadwal layanan seperti biasa. Bagi pelaku usaha, situasi ini juga membuat perencanaan kapasitas dan pemasaran lebih sulit, sebab jumlah pemesanan yang lebih rendah berjalan beriringan dengan pembatalan yang bertambah. Jika kondisi berlanjut, operator perlu menyesuaikan penawaran tanpa mengabaikan kebutuhan wisatawan akan informasi yang jelas mengenai kualitas udara dan pilihan kegiatan yang lebih aman.
Data resmi memperlihatkan gambaran yang sejalan, meski perubahan jumlah kunjungan dapat dipengaruhi berbagai faktor. Singapore Tourism Board mencatat kunjungan wisatawan internasional pada September 2026 mencapai 1,23 juta, turun 2,2 persen dibandingkan September 2025. Angka itu menjadi salah satu indikator pelemahan pariwisata pada periode ketika kualitas udara memburuk dan pembatalan meningkat. Meski tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa kabut asap menjadi satu-satunya penyebab penurunan, laporan operator tur dan perubahan perilaku wisatawan memperlihatkan tekanan nyata terhadap kegiatan wisata di Singapura.
Kabut asap yang melanda Malaysia mulai tercermin pada aktivitas operator wisata dan permintaan penginapan. Sejumlah operator tur menghadapi pembatalan untuk jadwal perjalanan pada November 2026, disertai penurunan pemesanan rombongan. Situasi ini menambah tekanan bagi pelaku usaha yang mengandalkan perjalanan terjadwal maupun kunjungan kelompok. Pada saat yang sama, agen perjalanan dari luar negeri semakin rutin meminta informasi terbaru mengenai kualitas udara sebelum mengatur perjalanan. Permintaan pembaruan tersebut menunjukkan bahwa kondisi udara menjadi bagian penting dalam komunikasi agen dan operator. Meski demikian, besaran pembatalan perjalanan secara keseluruhan tidak dirinci, sehingga dampaknya lebih tepat digambarkan melalui laporan pelaku wisata dan perubahan angka pemesanan hotel di Johor.
Di Johor, Ketua Malaysian Association of Hotels cabang Johor, Ivan Teo, menyebut pemesanan kamar turun sekitar 20 persen sejak kabut asap melanda. Angka tersebut menggambarkan melemahnya permintaan kamar hotel selama periode kabut asap, tanpa menyatakan bahwa semua hotel mengalami perubahan yang sama. Penurunan pemesanan itu hadir bersamaan dengan pembatalan jadwal tur dan berkurangnya pemesanan rombongan yang dilaporkan operator.
Baca juga: Penurunan Titik Panas Karhutla di Jambi | Komandan Lanud Sjamsudin Noor Perkuat Sinergi Penanganan Karhutla Kalsel dalam Rapat Evaluasi | Lanud Sjamsudin Noor Dukung Operasi Modifikasi Cuaca, Perkuat Upaya Penanganan Karhutla Kalimantan





