Jakarta | Bursa Efek Indonesia (BEI) menargetkan 25 perusahaan baru melantai di pasar modal melalui penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) sepanjang 2027. Sasaran tersebut menjadi bagian dari rencana kerja bursa untuk memperluas jumlah emiten dan menjaga kesinambungan aktivitas penghimpunan dana melalui pasar saham. Target itu tidak hanya menggambarkan angka yang hendak dicapai, tetapi juga menjadi salah satu tolok ukur perencanaan BEI pada tahun mendatang.
Angka 25 IPO tercantum dalam asumsi utama Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan (RKAT) BEI untuk 2027. Dengan demikian, sasaran tersebut disusun dalam kerangka perencanaan resmi lembaga, bersama asumsi lain yang mendasari program kerja dan penganggaran. Pencantuman di RKAT menunjukkan bahwa bursa telah memasukkan aktivitas pencatatan saham baru sebagai salah satu fokus dalam rencana operasionalnya.
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menyampaikan informasi mengenai target tersebut dalam konferensi pers Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) BEI. Konferensi pers itu berlangsung secara virtual pada Rabu, 28 Oktober 2026. Keterangan tersebut memberikan gambaran mengenai arah sasaran bursa untuk 2027, sekaligus memperkenalkan salah satu asumsi yang digunakan dalam penyusunan RKAT.
Target pencatatan 25 perusahaan perlu dipahami sebagai sasaran yang direncanakan, bukan jumlah IPO yang sudah dipastikan akan terealisasi. Pencapaian akhirnya bergantung pada kesiapan calon emiten dan proses yang harus ditempuh sebelum perusahaan dapat menawarkan saham kepada publik. Oleh sebab itu, perkembangan menuju target tersebut akan terlihat melalui persiapan perusahaan, tahapan penawaran, serta keputusan pencatatan yang berlangsung sepanjang tahun.
Penambahan emiten dapat memperluas pilihan investasi yang tersedia bagi masyarakat dan menambah pelaku dalam ekosistem pasar modal. Bagi perusahaan, IPO merupakan salah satu jalur untuk memperoleh pendanaan dari publik, dengan tetap memenuhi ketentuan yang berlaku. Dalam konteks itu, sasaran BEI untuk membawa 25 perusahaan ke bursa pada 2027 menempatkan pencatatan saham baru sebagai agenda penting dalam rencana tahunan, meski realisasinya baru dapat dinilai setelah periode tersebut berjalan.
BEI menargetkan penerbitan 905 efek baru pada 2027, meningkat 13,1 persen dibandingkan target dalam RKAT 2026 revisi yang berjumlah 800 efek. Sasaran ini mencakup beragam instrumen yang akan dicatatkan atau diterbitkan melalui pasar modal. Dengan demikian, angka 905 tidak hanya merujuk pada saham baru, tetapi juga meliputi efek bersifat utang dan sukuk serta instrumen lain. Perluasan target tersebut menggambarkan rencana bursa untuk mendorong ketersediaan pilihan pendanaan dan investasi yang lebih beragam.
Dalam rinciannya, BEI membidik pencatatan 25 saham baru sepanjang 2027. Jumlah tersebut menjadi bagian dari target keseluruhan 905 efek, bukan tambahan di luar angka itu. Selain saham, bursa menargetkan 175 efek bersifat utang dan sukuk (EBUS). Kelompok EBUS mencakup instrumen yang memungkinkan penerbit memperoleh pembiayaan melalui pasar modal, sekaligus menyediakan alternatif investasi bagi pemodal. Realisasi masing-masing sasaran akan bergantung pada kesiapan penerbit dan proses yang berlaku di pasar.
Sebanyak 705 efek lainnya melengkapi target penerbitan tersebut. Kategori ini mencakup instrumen lain, termasuk waran terstruktur dan produk investasi kolektif berbentuk kontrak investasi kolektif (KIK). Komposisi itu memperlihatkan bahwa rencana BEI menjangkau lebih dari satu jenis produk, dengan porsi terbesar berada pada kelompok efek lainnya. Jika dijumlahkan, target 25 saham baru, 175 EBUS, dan 705 efek lainnya menghasilkan total 905 efek pada 2027.
Dibandingkan patokan 800 efek dalam RKAT 2026 revisi, sasaran tahun 2027 bertambah sebanyak 105 efek. Kenaikan 13,1 persen tersebut menunjukkan peningkatan target secara keseluruhan, tetapi tidak dengan sendirinya memastikan seluruh efek akan terealisasi. Angka ini merupakan sasaran yang direncanakan bursa dan mencakup berbagai instrumen dengan karakteristik berbeda. Karena itu, target saham baru sebanyak 25 perlu dibaca sebagai satu komponen dari agenda yang lebih luas, bersama penerbitan EBUS serta pencatatan produk-produk lainnya.
Bursa Efek Indonesia (BEI) menargetkan rerata nilai transaksi harian (RNTH) mencapai Rp21 triliun per hari pada 2027. Sasaran tersebut menggambarkan nilai rata-rata transaksi yang ingin dicapai dalam satu hari perdagangan. Angka ini menjadi salah satu target yang disampaikan untuk tahun 2027, bukan keterangan mengenai nilai transaksi harian yang telah terealisasi. Karena itu, pencapaiannya baru dapat dinilai berdasarkan perkembangan aktivitas perdagangan pada periode tersebut.
Sebagai pembanding, target RNTH dalam Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan (RKAT) 2026 ditetapkan sebesar Rp18 triliun per hari. Dengan demikian, sasaran untuk 2027 berada Rp3 triliun di atas target tahun sebelumnya. Perbandingan ini menunjukkan peningkatan nominal target transaksi harian BEI dari Rp18 triliun menjadi Rp21 triliun, dengan kedua angka dinyatakan sebagai nilai rata-rata per hari.
BEI menetapkan kenaikan target RNTH tersebut sebesar 16,7 persen. Persentase itu merujuk pada perubahan dari target Rp18 triliun dalam RKAT 2026 menuju target Rp21 triliun pada 2027. Penyebutan angka dasar, sasaran berikutnya, dan persentase kenaikan memberikan gambaran kuantitatif mengenai perubahan target yang direncanakan. Fokus informasi ini adalah perbandingan target antartahun, bukan klaim bahwa nilai transaksi sudah meningkat dengan persentase yang sama.
Target Rp21 triliun per hari juga perlu dibaca dalam konteks perencanaan BEI untuk 2027. RNTH merupakan ukuran rata-rata, sehingga angka sasaran tersebut tidak berarti setiap hari perdagangan harus mencatat nilai transaksi persis Rp21 triliun. Dalam pembacaan target, nilai harian dirangkum sebagai rerata sesuai periode pengukuran yang digunakan. Dengan patokan ini, perbandingan dengan RKAT 2026 tetap mengacu pada satuan yang sama, yakni rupiah per hari, serta kenaikan yang telah ditetapkan sebesar 16,7 persen.
Dengan demikian, sasaran transaksi harian BEI untuk 2027 ditetapkan lebih tinggi daripada target tahun sebelumnya: Rp21 triliun per hari dibanding Rp18 triliun per hari dalam RKAT 2026. Selisih Rp3 triliun dan kenaikan 16,7 persen menjadi ringkasan utama dari perubahan target tersebut. Angka-angka ini menyampaikan arah perencanaan RNTH, sementara realisasi transaksi nantinya dapat dibandingkan dengan sasaran untuk melihat tingkat pencapaiannya.
BEI menetapkan sasaran peningkatan jumlah investor aktif bulanan sepanjang 2027 sebagai bagian dari upaya memperluas partisipasi masyarakat di pasar modal. Bursa menargetkan jumlah tersebut mencapai 1,3 juta investor, atau tumbuh 44,4 persen. Sasaran ini menunjukkan perhatian BEI tidak hanya tertuju pada penambahan jumlah investor yang terdaftar, tetapi juga pada keterlibatan mereka dalam aktivitas pasar secara rutin. Investor aktif bulanan menjadi salah satu ukuran partisipasi yang dapat menggambarkan seberapa banyak pelaku pasar yang melakukan kegiatan investasi dalam periode tertentu.
Untuk mencapai target itu, pengembangan basis investor perlu berjalan seiring dengan peningkatan pemahaman mengenai produk dan mekanisme pasar modal. Akses terhadap informasi yang jelas, edukasi yang berkelanjutan, serta layanan investasi yang semakin mudah dijangkau dapat mendukung masyarakat dalam mengambil keputusan. Upaya tersebut juga relevan untuk memperkuat keterlibatan investor di luar kelompok yang selama ini telah akrab dengan investasi. Dengan partisipasi yang lebih luas, aktivitas pasar dapat ditopang oleh lebih banyak individu yang memahami risiko dan karakteristik instrumen yang dipilih.
Di sisi realisasi, data yang dicatat bursa per 23 Oktober 2026 menunjukkan sekitar 1.388.494 investor aktif bulanan di pasar modal. Angka tersebut merupakan catatan BEI untuk tanggal tersebut.




