Kesepakatan ASCOPE di Bali Dorong Kolaborasi Energi Asia Tenggara

Kesepakatan ASCOPE di Bali Dorong Kolaborasi Energi Asia Tenggara

Jakarta | Rangkaian 51st ASCOPE Council Meeting 2026 resmi ditutup di Bali, menandai berakhirnya forum tahunan yang mempertemukan negara-negara anggota untuk membahas arah kerja sama energi di Asia Tenggara. Penutupan tersebut menjadi kesempatan untuk menegaskan kembali arti penting koordinasi regional ketika sektor energi menghadapi perubahan kebutuhan, risiko pasokan, dan tuntutan pengurangan emisi. Dalam pertemuan ini, para peserta mencatat sejumlah kesepakatan strategis serta progres dalam upaya memperkuat arsitektur energi kawasan.

Hasil umum tersebut mencerminkan kebutuhan untuk membangun pendekatan bersama, tanpa mengabaikan kondisi dan prioritas masing-masing negara. Transisi energi, misalnya, berlangsung dengan kecepatan dan tantangan yang berbeda di setiap pasar. Dialog antarpemerintah dan pemangku kepentingan dapat membantu memperjelas peluang kolaborasi, mendukung pertukaran pengalaman, serta memperkuat pemahaman mengenai langkah yang dapat ditempuh bersama. Pertemuan ASCOPE menyediakan ruang bagi diskusi semacam ini, sekaligus menjaga kesinambungan komunikasi di anggota.

Keamanan rantai pasok juga menjadi konteks penting bagi kerja sama energi regional. Ketergantungan pada jaringan, sumber daya, dan jalur pasokan yang saling terhubung membuat koordinasi lintas batas relevan bagi ketahanan kawasan. Selain itu, pertukaran teknologi dan pengetahuan dapat membantu anggota mempelajari pilihan yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan energi yang terus berkembang. Forum ini berperan sebagai wadah untuk membicarakan berbagai tantangan tersebut, bukan hanya sebagai agenda pertemuan formal, tetapi juga sebagai bagian dari proses membangun kepercayaan dan pemahaman bersama.

Dengan berakhirnya pertemuan di Bali, perhatian beralih pada tindak lanjut atas kesepakatan dan kemajuan yang telah dicapai. Nilai dari hasil forum akan bergantung pada kesinambungan dialog dan kerja sama setelah para peserta kembali ke negara masing-masing. Meski rincian kesepakatan tidak menjadi pokok uraian ini, capaian umum pertemuan menunjukkan komitmen untuk memperkuat hubungan energi regional. Di tengah perubahan lanskap energi global, konsistensi kolaborasi dapat membantu Asia Tenggara merespons tantangan transisi, menjaga keamanan pasokan, dan mendorong pertukaran teknologi secara berkelanjutan.

Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri, memandang ketahanan energi sebagai kemampuan yang tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan hari ini. Ketahanan tersebut juga menuntut perhatian terhadap keberlanjutan agar generasi mendatang tetap memiliki dukungan energi yang diperlukan. Dengan demikian, pembicaraan mengenai energi perlu menghubungkan kepentingan masa kini dengan tanggung jawab untuk masa depan. Pandangan ini menempatkan ketahanan bukan sekadar ketersediaan pasokan pada satu waktu, melainkan kemampuan menjaga agar kebutuhan dapat dipenuhi tanpa mengabaikan kesinambungan bagi generasi berikutnya. Bagi masyarakat dan perekonomian, keberlanjutan menjadi bagian penting dari cara sistem energi dirancang dan dijalankan. Pembedaan kebutuhan sekarang dan tanggung jawab antargenerasi menegaskan cakupan ketahanan yang disampaikan Mantiri.

Dalam pandangan tersebut, sistem energi perlu menopang kebutuhan masyarakat sekaligus mendukung kegiatan perekonomian. Artinya, sistem itu berhubungan langsung dengan kehidupan sehari-hari dan kemampuan ekonomi untuk berjalan. Ketahanan energi karena itu mencakup kesanggupan memenuhi kebutuhan yang ada, sambil tetap memperhatikan keberlanjutan bagi masa mendatang. Keduanya merupakan bagian dari satu pemahaman: energi harus dapat memenuhi peran yang dibutuhkan sekarang dan terus menjadi penopang pada generasi berikutnya. Penekanan pada dua dimensi itu memberi makna lebih luas pada pembahasan ketahanan energi. Ukurannya tidak hanya apakah kebutuhan saat ini terpenuhi, tetapi juga apakah keberlanjutan tetap dijaga. Dengan kerangka tersebut, kebutuhan masyarakat dan perekonomian menjadi bagian dari tujuan yang perlu ditopang sistem energi, bukan unsur yang terpisah dari ketahanan.

Mantiri juga menekankan bahwa anggota ASCOPE memiliki tantangan, peran, dan potensi yang berbeda. Perbedaan tersebut dapat menjadi dasar untuk saling melengkapi, bukan alasan untuk mengabaikan kontribusi masing-masing. Setiap negara mempunyai kapasitas khas yang dapat disumbangkan dalam kerja bersama. Karena itu, kekuatan kawasan bertumpu pada kemampuan anggota untuk membawa keunggulan dan kapasitas unik mereka menuju tujuan bersama. Gagasan ini mengakui keragaman antarnegara sekaligus menyoroti nilai kolaborasi: kontribusi yang berbeda dapat mendukung satu sama lain. Dalam konteks ASCOPE, tujuan bersama dapat dicapai dengan memahami tantangan dan potensi tiap anggota serta memberi ruang bagi peran khas masing-masing. Dengan demikian, ketahanan energi kawasan dipahami melalui kerja kolektif yang menghimpun kapasitas negara-negara anggotanya, sembari tetap mengakui bahwa kondisi dan kontribusi mereka tidak seragam.

Zeferino, perwakilan Timor-Leste, menyampaikan apresiasi atas peran ASCOPE dalam mempertemukan perusahaan energi nasional di kawasan. Ia juga mengapresiasi Pertamina sebagai tuan rumah pertemuan yang diselenggarakan di Bali. Menurutnya, forum tersebut menjadi ruang penting untuk membangun hubungan, bertukar pengalaman, dan membahas kepentingan bersama di sektor minyak dan gas bumi. Penyelenggaraan pertemuan di Indonesia dinilai menunjukkan bahwa kerja sama regional dapat didorong melalui dialog yang teratur serta keterlibatan langsung para pelaku industri. Bagi Timor-Leste, kesempatan untuk berpartisipasi dalam forum ASCOPE tidak hanya bernilai seremonial, tetapi juga membuka akses pada jejaring dan pembelajaran praktis di perusahaan anggota. Hubungan yang terbangun dapat menjadi dasar bagi pembahasan proyek maupun inisiatif yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing negara.

Keikutsertaan penuh Timor-Leste dalam ASCOPE memberi manfaat khusus bagi Timor GAP, perusahaan energi nasional yang menurut Zeferino baru berusia 15 tahun. Sebagai organisasi yang masih mengembangkan kapasitas dan pengalamannya, Timor GAP dapat memperoleh wawasan dari perusahaan minyak nasional lain di ASEAN yang telah lebih dahulu menjalankan berbagai kegiatan industri. Pertemuan tersebut menyediakan kesempatan untuk memahami pendekatan operasional, tata kelola, dan pengembangan sumber daya manusia yang diterapkan di negara lain. Pertukaran pengetahuan semacam ini dapat membantu perusahaan muda menilai pilihan dan tantangan dalam mengembangkan bisnisnya. Pada saat yang sama, keterlibatan langsung memungkinkan Timor GAP memperkenalkan prioritas Timor-Leste kepada mitra potensial, sehingga pembicaraan kerja sama dapat bertolak dari kebutuhan nyata serta kemampuan masing-masing pihak.

Menurut Zeferino, ruang kolaborasi yang terbuka mencakup kegiatan hulu dan hilir migas. Kerja sama juga dapat diarahkan pada pengembangan konten lokal, termasuk peningkatan partisipasi tenaga kerja dan pemasok setempat dalam rantai industri. Peluang pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah menjadi bagian lain yang dapat dibahas bersama, misalnya melalui penguatan kapasitas dan keterhubungan dengan kebutuhan perusahaan energi. Selain aspek bisnis, forum ini memungkinkan anggota bertukar pandangan mengenai program tanggung jawab sosial perusahaan yang berkelanjutan. Pendekatan tersebut dapat membantu memastikan bahwa inisiatif sosial memberi manfaat jangka panjang bagi masyarakat, bukan sekadar kegiatan sesaat. Dengan memanfaatkan keanggotaan penuh secara aktif, Timor-Leste dan Timor GAP berpeluang membangun kemitraan regional yang saling menguntungkan, sekaligus memperkuat kapasitas industri energi nasionalnya secara bertahap.

Penyelenggaraan Pertemuan ASCOPE ke-51 di Bali tidak hanya menjadi ruang bagi negara-negara anggota untuk membahas kerja sama energi, tetapi juga menghadirkan pengalaman penyelenggaraan yang dapat menjadi referensi bagi Timor-Leste. Negara tersebut tengah mempersiapkan diri menjadi tuan rumah KTT ASEAN pada 2029, sebuah agenda penting yang menuntut koordinasi lintas lembaga, kesiapan infrastruktur, serta pengelolaan kebutuhan delegasi dan peserta dari berbagai negara. Pengalaman Indonesia memperlihatkan bagaimana forum regional dapat menggabungkan pembahasan strategis dengan tata kelola pertemuan yang terencana.

Bagi Timor-Leste, pelajaran dari pertemuan di Indonesia dapat mencakup pentingnya persiapan sejak awal, komunikasi yang konsisten dengan para mitra, dan pembagian tanggung jawab yang jelas.

Baca juga: Kolaborasi Strategis Bank BJB dan MNC Finance dalam Pembiayaan Kendaraan