Jakarta | Rinso berkolaborasi dengan label mode Othman untuk menghadirkan The Stained Drop Collection, koleksi busana edisi terbatas yang menempatkan noda sebagai bagian dari konsep desain. Peluncuran ini memperkenalkan cara pandang berbeda terhadap elemen yang selama ini kerap disembunyikan atau dianggap mengurangi tampilan pakaian. Dalam koleksi tersebut, noda tidak diperlakukan semata-mata sebagai tanda yang harus dihilangkan, melainkan diolah menjadi detail visual yang memiliki karakter.
Melalui motif, tekstur, dan perpaduan warna, jejak noda diterjemahkan sebagai unsur kreatif pada busana. Setiap detail dirancang untuk membentuk tampilan yang khas, sekaligus memperlihatkan bahwa karakter personal dapat hadir melalui sesuatu yang tidak selalu seragam atau sempurna. Pendekatan ini menjadikan pakaian bukan hanya sebagai benda yang dikenakan, tetapi juga sebagai media untuk menampilkan ekspresi dan identitas pemakainya.
The Stained Drop Collection menyasar generasi muda yang dekat dengan eksplorasi gaya serta keberanian untuk tampil berbeda. Kolaborasi Rinso dan Othman tersebut mengajak mereka melihat noda dari sudut pandang baru: bukan sekadar cacat pada pakaian, tetapi bagian dari bahasa visual yang dapat diolah dalam busana. Gagasan ini selaras dengan kampanye “Berani Kotor Itu Baik”, yang menempatkan keberanian bereksplorasi sebagai bagian dari pengalaman berpakaian. Dengan demikian, koleksi edisi terbatas ini menghadirkan noda sebagai elemen yang terlihat, terarah, dan bernilai dalam rancangan mode.
Koleksi hasil kolaborasi Rinso dan Othman menempatkan luaran sebagai bidang utama untuk mengeksplorasi noda, bentuk, dan karakter visual. Pada sejumlah busana, pola geometris tersusun dari garis zigzag yang bergerak dinamis, berdampingan dengan bentuk menyerupai wajik. Motif tersebut tampil di atas warna dasar gelap, sehingga garis dan bidang dekoratif terlihat lebih tegas. Kontras ini memberi kesan modern sekaligus struktural, sementara potongan luaran mempertahankan siluet yang kuat dan mudah dikenali sebagai bagian dari gaya Othman.
Eksplorasi lainnya menghadirkan motif abstrak dengan tekstur yang mengingatkan pada sapuan warna atau permukaan marmer. Perubahan kepadatan warna membuat setiap bidang kain tampak memiliki kedalaman dan gerak. Nuansa hijau, pink, dan biru digunakan untuk memperluas kemungkinan ekspresi desain, bukan sekadar sebagai aksen. Hijau menghadirkan kesan segar dan eksperimental, pink menambahkan energi yang lebih berani, sedangkan biru memberi keseimbangan melalui karakter yang lebih tenang. Ketiganya memperkaya pembacaan terhadap noda sebagai elemen visual yang dapat diolah menjadi bahasa busana.
Suasana area pameran turut memperkuat hubungan motif dan material. Perpaduan hitam serta abu-abu dengan krem, beige, dan pink membentuk latar yang kontras, tetapi tetap terukur. Palet ini memungkinkan busana menjadi pusat perhatian tanpa kehilangan konteks ruang. Pencahayaan magenta, ungu, dan biru kemudian menonjolkan tekstur kain, membangun bayangan pada permukaan, serta memperjelas perbedaan motif dan warna dasar. Co-founder Othman, Oby Reza, di Jakarta pada Jumat, 9 Oktober 2026, menyatakan bahwa eksperimen desain tetap mengikuti pedoman Rinso. Namun, karakter Othman yang manly dipertahankan sebagai pernyataan label, sehingga hasil kolaborasi tetap mencerminkan identitasnya di tengah pendekatan visual yang lebih eksperimental.
Dalam kolaborasi Rinso dan Othman, noda tidak semata-mata dipandang sebagai sesuatu yang harus segera disembunyikan atau dihilangkan. Noda dapat menyimpan cerita personal yang melekat pada sebuah pakaian. Ia mungkin muncul saat seseorang menikmati waktu bersama teman, mencoba kegiatan baru, atau menjalani momen spontan yang tidak sepenuhnya dapat direncanakan. Karena itu, setiap bekas pada busana berpotensi menjadi penanda pengalaman, bukan sekadar gangguan terhadap penampilan.
Gagasan tersebut sejalan dengan harapan Senior Brand Manager Fabric Cleaning and Upro Unilever Indonesia, Aninda Fariza. Melalui kolaborasi ini, ia berharap lebih banyak anggota Gen Z dapat memandang noda secara berbeda. Noda tidak perlu selalu menjadi sesuatu yang ditakuti atau membuat seseorang ragu untuk bergerak dan berekspresi. Cara pandang ini juga menghidupkan kembali pesan “Berani Kotor Itu Baik”, yakni ajakan untuk menjalani pengalaman dengan lebih bebas tanpa terlalu dibatasi kekhawatiran akan pakaian yang terkena noda.
Bagi Creative Director Kopikalyan, Annie Gobel, makna sebuah noda dapat terasa sangat dekat dengan keseharian. Tumpahan kopi atau noda lain dapat mengingatkan seseorang pada percakapan yang pernah terjadi, pertemuan dengan orang tertentu, atau kegiatan yang dilakukan pada waktu tertentu. Bekas tersebut kemudian berfungsi seperti memento, yaitu penanda yang membawa kembali ingatan terhadap pengalaman dan suasana yang menyertainya.
Dengan pemaknaan seperti itu, noda memiliki hubungan dengan cerita yang lebih luas daripada asal-usulnya. Sebuah pakaian dapat merekam momen-momen kecil yang mungkin tampak biasa, tetapi tetap berarti bagi pemiliknya. Pandangan Annie menempatkan noda sebagai pengingat atas percakapan, pertemuan, orang yang ditemui, dan aktivitas yang pernah dijalani, sehingga busana tidak hanya berfungsi sebagai objek fesyen, melainkan juga ruang bagi kenangan personal.
Hubungan The Stained Drop Collection dan Rinso Quick Wash terlihat melalui noda yang sengaja ditempatkan pada setiap busana. Menurut Aninda, noda tersebut bukan sekadar elemen visual, melainkan cara untuk memperlihatkan kaitan fashion dan fungsi deterjen dalam merawat pakaian. Busana Othman dirancang untuk mengajak pemakainya memahami bahwa pakaian dapat menjadi ruang berekspresi, sementara noda merupakan bagian dari pengalaman sehari-hari yang dapat ditangani dengan perawatan tepat.
Karena itu, pembeli tidak hanya mendapatkan pakaian dengan tampilan yang terinspirasi oleh noda, tetapi juga dapat menemukan noda yang dibuat khusus pada busana ketika koleksi dibawa pulang. Gagasan tersebut menempatkan Rinso Quick Wash sebagai bagian dari cerita koleksi, bukan hanya sebagai produk pendamping. Pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa eksplorasi gaya tidak harus dibatasi oleh kekhawatiran pakaian menjadi kotor, sebab perawatan yang praktis dapat membantu mempertahankan penggunaannya.
Homecare Marketing Director Unilever Indonesia, Berto Kotze, menyatakan bahwa kolaborasi ini menjadi salah satu cara memperkenalkan Rinso kepada generasi baru di tengah perubahan gaya hidup konsumen. Menurutnya, pendekatan melalui fashion memungkinkan merek hadir dalam konteks yang lebih dekat dengan minat anak muda. Kolaborasi ini juga mendorong orang untuk bereksplorasi, bergerak aktif, dan mencoba pengalaman baru tanpa takut kotor.
The Stained Drop Collection pertama kali tersedia di Kopikalyan Harajuku, Jepang. Informasi mengenai peluncuran berikutnya disampaikan melalui akun Instagram Rinso dan Othman sebelum koleksi tersebut dijual melalui situs web Othman. Oby menyebut harga koleksi dimulai dari Rp1 juta. Kopikalyan sendiri telah hadir di Tokyo sejak 2020. Annie berharap keberadaan gerai ini dapat membuka peluang bagi lebih banyak brand Indonesia untuk memperkenalkan karya kepada konsumen Jepang, sekaligus memperluas akses pasar bagi kreativitas lokal.
Baca juga: Permintaan Gus Alex Hadirkan Jokowi dalam Persidangan Korupsi Kuota Haji | Kolaborasi Pariwisata Jawa Tengah dan Yogyakarta untuk Meningkatkan Kunjungan Wisatawan | Kolaborasi Pemkab Kulonprogo dan UNY dalam Peringatan HAORNAS 2026
