Kabupaten Deli Serdang | Tim SAR gabungan menemukan dua remaja perempuan yang terseret arus Sungai Tadukan Raga, Kecamatan STM Hilir, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, pada Sabtu (24/10/2026). Penemuan tersebut mengakhiri pencarian yang berlangsung selama tiga hari. Kedua korban, AF (17) dan FE (15), ditemukan dalam keadaan meninggal dunia. Setelah ditemukan, jenazah mereka dievakuasi dan diserahkan kepada keluarga.
Operasi pencarian dilakukan untuk menemukan kedua remaja setelah mereka dilaporkan terseret arus sungai. Pencarian berlanjut hingga hari ketiga, ketika tim gabungan akhirnya menemukan keduanya. Berakhirnya operasi ini sekaligus memastikan nasib AF dan FE setelah upaya pencarian dilakukan di kawasan Sungai Tadukan Raga. Informasi mengenai penemuan pada Sabtu tersebut menjadi perkembangan utama dalam peristiwa yang berlangsung di wilayah Kecamatan STM Hilir itu.
Proses evakuasi menjadi bagian penting setelah kedua korban ditemukan. Jenazah AF dan FE kemudian diserahkan kepada keluarga untuk penanganan selanjutnya. Penyerahan tersebut menandai berakhirnya proses pencarian oleh tim SAR gabungan, sekaligus memungkinkan keluarga menerima kedua korban. Peristiwa ini menyisakan duka bagi keluarga dan masyarakat setempat, terutama karena pencarian berlangsung selama beberapa hari sebelum kedua remaja ditemukan.
Arus sungai dapat berubah dan berisiko bagi siapa pun yang berada di sekitarnya, sehingga kewaspadaan diperlukan ketika beraktivitas di kawasan perairan. Namun, informasi yang tersedia mengenai peristiwa ini berfokus pada penemuan kedua korban dan proses evakuasi, tanpa merinci kondisi arus ataupun kronologi awal secara lebih jauh. Kepastian bahwa AF (17) dan FE (15) telah ditemukan dan diserahkan kepada keluarga menjadi penutup dari pencarian tiga hari tersebut. Tim SAR gabungan menyelesaikan upaya pencarian setelah kedua jenazah berhasil dievakuasi.
AF ditemukan sekitar pukul 03.30 WIB di aliran Sungai Tadukan Raga, setelah pencarian berlangsung selama tiga hari. Lokasi penemuan berada kira-kira satu kilometer dari titik awal kejadian. Jarak yang relatif dekat tersebut menjadi salah satu keterangan penting dalam pencatatan proses pencarian, sebab tim perlu memastikan posisi korban sebelum melakukan evakuasi. Penemuan ini terjadi pada dini hari, ketika operasi masih berjalan dan petugas terus menyisir aliran sungai serta kawasan di sekitarnya. Informasi mengenai lokasi kemudian ditindaklanjuti oleh tim di lapangan. Setelah memastikan temuan, petugas mengevakuasi AF dari sungai untuk penanganan lebih lanjut. Rangkaian kejadian itu menandai ditemukannya korban pertama dalam operasi pencarian yang telah berlangsung beberapa hari.
Tidak lama setelah AF ditemukan, tim kembali menerima petunjuk yang mengarah pada keberadaan korban kedua. Seorang penambang pasir lokal melihat jasad di sekitar aliran sungai, lalu menyampaikan informasi tersebut kepada pihak yang melakukan pencarian. Laporan warga itu menjadi petunjuk penting bagi tim untuk menentukan lokasi pemeriksaan berikutnya. Petugas kemudian bergerak menindaklanjuti informasi dan memeriksa area yang disebutkan. Pada pukul 05.55 WIB, FE ditemukan dalam keadaan mengapung di tepi sungai. Lokasinya berada sekitar tujuh kilometer ke arah utara timur laut dari titik awal kejadian. Dengan demikian, lokasi kedua korban berada pada jarak dan arah yang berbeda dari lokasi awal, sehingga pencarian mencakup rentang aliran sungai yang cukup luas.
Setelah FE ditemukan, tim melakukan evakuasi terhadap korban. Urutan penemuan kedua remaja itu berlangsung dalam rentang waktu dini hari, dengan FE ditemukan sekitar dua jam dua puluh lima menit setelah AF. Keterangan tentang waktu, jarak, dan arah lokasi menjadi bagian dari kronologi pencarian, sekaligus menjelaskan bagaimana petunjuk lapangan membantu mempersempit area penyisiran. Peran penambang pasir yang melihat jasad juga memperlihatkan pentingnya informasi dari masyarakat sekitar dalam operasi di sepanjang sungai. Tim tidak berhenti pada laporan tersebut, melainkan segera menindaklanjuti temuan dan membawa korban dari lokasi. Kedua penemuan itu mengakhiri upaya pencarian selama tiga hari, setelah AF dan FE ditemukan di titik berbeda di aliran sungai sekitar Tadukan Raga.
Peristiwa yang mengawali pencarian dua remaja di Sungai Tadukan Raga terjadi pada Kamis (22/10/2026), sekitar pukul 18.00 WIB. Saat itu, AF dan FE sedang mandi di sungai bersama empat rekan mereka. Aktivitas tersebut berlangsung menjelang malam, ketika kondisi sungai kemudian berubah dan menimbulkan keadaan darurat bagi kelompok itu. Informasi mengenai kejadian ini menjadi dasar bagi warga untuk segera mencari kedua remaja yang hilang terbawa arus.
Dalam kejadian tersebut, AF dan FE berusaha menyeberangi sungai bersama seorang teman. Ketika mereka berada di aliran air, arus mendadak menjadi deras. Teman yang menyeberang bersama keduanya berhasil mencapai tepian dengan selamat. Namun, AF dan FE tidak berhasil menyusul ke darat dan terseret arus. Perbedaan nasib ketiga remaja itu membuat situasi semakin mendesak, sementara keberadaan AF dan FE belum diketahui setelah mereka terbawa aliran sungai.
Setelah kejadian, warga setempat melakukan pencarian secara mandiri pada malam itu. Upaya awal tersebut dilakukan untuk menemukan AF dan FE di sekitar lokasi mereka terakhir terlihat, tetapi belum membuahkan hasil. Karena kedua remaja belum ditemukan, warga kemudian melaporkan peristiwa itu kepada Kantor SAR Medan. Laporan tersebut menjadi langkah lanjutan untuk meminta bantuan pencarian. Kronologi ini menjelaskan bagaimana kejadian bermula di sungai, bagaimana dua remaja terseret arus, serta bagaimana pencarian pertama dilakukan sebelum penanganan berikutnya melibatkan tim SAR.
Operasi pencarian di Sungai Tadukan Raga dilaksanakan secara terkoordinasi oleh tim SAR gabungan. Untuk menjangkau area yang diduga menjadi lokasi hilangnya kedua remaja, petugas menyisir jalur perairan dengan menggunakan perahu karet. Pada saat yang sama, penyisiran darat dilakukan di sepanjang bantaran sungai agar area pencarian mencakup sisi air maupun tepian. Pembagian upaya ini membantu tim memeriksa beberapa bagian lokasi secara teratur, sekaligus menyesuaikan metode pencarian dengan kondisi medan dan akses yang tersedia.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Medan, Hery Marantika, menjelaskan bahwa pencarian berlangsung sejak laporan diterima. Tim mengerahkan berbagai metode dan dukungan peralatan SAR untuk menemukan korban, dengan operasi terus dilakukan hingga hari ketiga. Upaya pencarian di perairan dan daratan menjadi bagian dari rangkaian kerja bersama personel gabungan. Setelah pencarian selama tiga hari, kedua remaja akhirnya ditemukan. Proses tersebut menunjukkan pentingnya koordinasi antarpersonel serta penggunaan peralatan yang sesuai dalam operasi di lingkungan sungai, yang dapat memiliki tantangan tersendiri bagi petugas.
Peristiwa ini juga menjadi pengingat mengenai pentingnya keselamatan saat beraktivitas di sekitar sungai. Hery Marantika mengimbau masyarakat, terutama para orang tua, untuk mengawasi anak-anak ketika berada di dekat aliran air. Pengawasan perlu dilakukan secara langsung, bukan hanya dengan mengingatkan dari kejauhan, karena kondisi sungai dapat berubah dan berisiko. Masyarakat juga diharapkan memperhatikan kuatnya arus serta kedalaman sebelum mendekati atau memasuki sungai. Jika keadaan tidak aman, jangan memaksakan diri untuk menyeberang. Menunda perjalanan atau mencari jalur lain merupakan pilihan yang lebih bijak daripada mengambil risiko. Kewaspadaan bersama, pemahaman terhadap kondisi sekitar, dan keputusan untuk menjauhi bahaya dapat membantu mencegah kejadian serupa serta melindungi keselamatan keluarga dan warga di lingkungan sekitar sungai.
Baca juga: Misteri Penemuan Bayi di Kalisuren yang Menggegerkan Warga | Penemuan Misterius Kerangka Manusia di Tangerang | Proses Pencarian Korban KM Virgo 8 Berlanjut di Laut Jawa





