Jakarta | Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menilai pembangunan ibu kota membutuhkan kerja sama dan kepercayaan di berbagai pihak. Menurutnya, upaya membangun Jakarta tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah, tetapi juga memerlukan keterlibatan masyarakat, dunia usaha, dan lembaga pendidikan. Ia menyampaikan pandangan tersebut ketika membahas tantangan pembangunan serta pentingnya mengesampingkan kepentingan pribadi demi tujuan bersama.
Pramono menyampaikan hal itu saat memberikan kuliah umum sekaligus meresmikan gedung Universitas Ciputra Jakarta di kawasan Rawa Buaya, Jakarta Barat, Kamis (15/10/2026). Dalam kesempatan tersebut, ia menceritakan pengalamannya menjalin kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk kalangan pengusaha. Ia menggambarkan kerja sama sebagai bagian penting dari upaya mencari solusi atas beragam persoalan kota dan mendorong pembangunan yang manfaatnya dapat dirasakan lebih luas.
Menurut Pramono, membangun hubungan kerja yang produktif membutuhkan kemauan untuk saling percaya. Pihak-pihak yang terlibat perlu membuka ruang komunikasi, memahami peran masing-masing, serta bersedia bekerja menuju sasaran yang sama. Tanpa kepercayaan, kolaborasi berisiko berhenti pada kesepakatan formal dan sulit berkembang menjadi tindakan nyata. Karena itu, ia menekankan pentingnya menjaga hubungan yang memungkinkan pemerintah dan mitra bekerja bersama secara berkelanjutan.
Ia juga menyoroti perlunya mengendalikan ego dan tidak menempatkan kepentingan pribadi di atas kebutuhan publik. Perbedaan latar belakang maupun pandangan, menurut pesan yang disampaikannya, tidak semestinya menjadi penghalang selama para pihak memiliki komitmen untuk bekerja sama. Dalam konteks pembangunan Jakarta, kemauan untuk mendengar dan berbagi tanggung jawab dapat membantu mempertemukan kepentingan yang beragam.
Pramono mengaitkan hal tersebut dengan tantangan mengelola ibu kota yang melibatkan banyak pemangku kepentingan. Kolaborasi yang dibangun atas dasar kepercayaan, disertai tujuan yang jelas, dapat memperkuat pelaksanaan program pembangunan. Pesan itu ia sampaikan di hadapan sivitas akademika Universitas Ciputra Jakarta, sekaligus menandai peresmian gedung baru kampus tersebut. Ia menempatkan kerja sama sebagai salah satu unsur penting agar berbagai upaya pembangunan kota dapat berjalan dengan dukungan yang lebih luas.
Dalam pembahasan mengenai tantangan kepemimpinan, Pramono menyinggung ego sebagai salah satu persoalan yang dapat muncul ketika seseorang menjalankan tugas publik. Ia menyampaikan bahwa dirinya berusaha untuk tidak lagi mempersoalkan serangan yang datang selama menjabat sebagai gubernur. Pernyataan tersebut menggambarkan sikap yang ia pilih dalam menghadapi kritik atau serangan, tanpa menjadikannya pusat perhatian saat menjalankan pekerjaan. Bagi Pramono, hal yang utama adalah tetap bekerja untuk Jakarta.
Ia mengungkapkan sikap itu dengan mengatakan, “kalau saya, mungkin udah nggak punya ego, jadi saya nyantai aja. diserang juga oke, nggak diserang juga nggak apa-apa,” ujarnya. Kutipan tersebut menunjukkan bahwa ia berupaya menempatkan serangan yang diterima sebagai sesuatu yang tidak perlu terus dipersoalkan. Baik ada serangan maupun tidak, ia menyatakan akan tetap bersikap santai. Pernyataan itu disampaikan dalam konteks cara menghadapi tekanan selama menjalankan tugas sebagai gubernur, bukan sebagai uraian mengenai hal lain di luar pengalaman tersebut.
Dengan menyinggung ego, Pramono mengarahkan perhatian pada pilihan sikap seorang pemimpin ketika berhadapan dengan serangan. Ia menekankan bahwa urusan itu tidak menjadi hal utama baginya. Fokus yang ia sampaikan adalah pekerjaan untuk Jakarta. Sikap tersebut dapat dipahami sebagai penegasan mengenai prioritasnya dalam menjalankan tugas: tidak larut mempersoalkan serangan, dan tetap memberi perhatian pada tanggung jawab sebagai gubernur. Dalam keterangannya, ia tidak memperluas penjelasan itu menjadi klaim tentang bagaimana semua pemimpin seharusnya bersikap. Pernyataannya tetap merujuk pada sikap pribadi yang ia upayakan di tengah tantangan kepemimpinan. Dengan demikian, inti pesannya terletak pada upaya mengesampingkan ego dan tidak menjadikan serangan sebagai hal yang mengalihkan perhatian dari pekerjaan bagi Jakarta.
Pramono menggambarkan dinamika yang ia hadapi dalam pekerjaannya di Jakarta melalui seloroh tentang banyaknya “suhu” dan “pesilat”. Ia mengatakan, “tetapi memang jakarta ini lucu. apa, suhunya banyak banget, pesilatnya banyak banget. untung saya ini pesilat lama juga,” ucapnya. Ungkapan tersebut disampaikan dengan nada ringan, tetapi merujuk pada situasi yang menurutnya dipenuhi beragam pihak dan dinamika. Dengan menyebut dirinya sebagai pesilat lama, Pramono menempatkan pengalaman sebagai bagian dari cara menghadapi keadaan di lingkungan kerja.
Perumpamaan itu memberi gambaran singkat tentang suasana yang ia temui dalam menjalankan tugas. Istilah “suhu” dan “pesilat” digunakan secara kiasan untuk menyebut banyaknya orang dengan pengaruh, pandangan, atau cara bergerak yang berbeda. Namun, keterangannya tidak perlu dibaca lebih jauh daripada seloroh yang ia sampaikan. Inti ucapannya adalah bahwa Jakarta memiliki dinamika tersendiri, sementara dirinya merasa telah cukup lama berhadapan dengan berbagai keadaan dalam pekerjaan pemerintahan.
Pramono juga menyatakan bahwa ia telah lama menghadapi beragam dinamika dalam pekerjaannya di dunia pemerintahan. Pengalaman itu menjadi konteks terbatas bagi pernyataannya mengenai “pesilat lama”. Ia tidak menguraikan secara rinci bentuk tekanan yang dimaksud dalam kutipan tersebut, sehingga penjelasan mengenai hal itu tetap berpijak pada keterangan yang tersedia. Pernyataannya memperlihatkan bahwa ia memandang dinamika sebagai bagian dari pekerjaan, bukan sesuatu yang sepenuhnya baru baginya. Melalui candaan tersebut, ia menyampaikan pengakuan atas keragaman situasi di Jakarta sekaligus menegaskan bahwa pengalaman panjangnya di pemerintahan telah membuatnya terbiasa menghadapi berbagai dinamika pekerjaan.
Pramono menekankan bahwa kepercayaan merupakan unsur penting dalam penyelenggaraan pemerintahan, termasuk dalam membangun hubungan pemerintah dan pihak swasta. Menurutnya, kerja sama untuk memajukan Jakarta akan lebih mudah dijalankan apabila para pelaku usaha memahami aturan dan dapat mengandalkan proses yang terbuka. Pemerintah, pada saat yang sama, perlu memastikan kebijakan diterapkan secara konsisten sehingga hubungan dengan dunia usaha tidak bergantung pada kedekatan atau perlakuan khusus.
Salah satu contoh yang ia soroti adalah transparansi dalam proses perizinan, termasuk pengurusan ketentuan koefisien lantai bangunan (KLB). Prosedur yang jelas dapat membantu pemohon memahami persyaratan, tahapan, serta dasar keputusan yang diberikan. Keterbukaan juga dinilai penting untuk mempersempit ruang bagi praktik yang tidak semestinya dan mengurangi ketidakpastian yang dapat menghambat kegiatan usaha. Dengan proses yang lebih mudah ditelusuri, pemerintah dan pemohon memiliki acuan yang sama dalam menjalankan kewajiban masing-masing.
Untuk mendukung tujuan tersebut, Pramono menyatakan telah menerbitkan Pergub Nomor 11 Tahun 2026 guna membuat proses perizinan lebih transparan. Ia menggambarkan langkah itu sebagai bentuk pembatasan atas kewenangan yang dapat digunakan dalam proses tersebut. “saya sebenarnya memotong tangan saya sendiri, saya memotong kewenangan saya sendiri,” tuturnya. Pernyataan itu menjelaskan bahwa, dalam pandangannya, pembenahan tata kelola perlu disertai kemauan untuk mengurangi ruang diskresi yang berpotensi menimbulkan persoalan.
Bagi Pramono, kepercayaan merupakan modal penting dalam kerja sama membangun Jakarta. Pemerintah perlu memberikan kepastian melalui aturan dan layanan yang terbuka, sementara pihak swasta diharapkan menjalankan kegiatan sesuai ketentuan. Hubungan yang sehat tidak hanya ditentukan oleh kebijakan, tetapi juga oleh komunikasi dan kesediaan kedua pihak untuk bekerja berdasarkan aturan yang sama. Ia berharap hubungan pemerintah dan pengusaha dapat berlangsung setara, tanpa hambatan yang tidak perlu. Dengan demikian, proses perizinan dapat mendukung kegiatan pembangunan sekaligus menjaga akuntabilitas, sehingga kolaborasi pemerintah dan dunia usaha berlandaskan keterbukaan serta kepercayaan bersama.
Baca juga: Persija Jakarta Hadapi Tantangan Tanpa Stadion di Jakarta | Duel Epic: Persija Jakarta vs Persib Bandung di Gelora Bung Karno | Rallycross World Cup 2026: Kevin Hansen Jadi Duta Olahraga di Jakarta






