Rekor Gas Rumah Kaca Memperkuat Risiko Pemanasan Global

Rekor Gas Rumah Kaca Memperkuat Risiko Pemanasan Global

Jakarta | Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) PBB melaporkan pada 2025 bahwa konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer telah mencapai tingkat tertinggi yang pernah tercatat. Data pemantauan global terbaru yang dirangkum dalam laporan tersebut menunjukkan bahwa akumulasi gas penahan panas terus bertambah, memperkuat tekanan terhadap sistem iklim. Angka-angka ini menggambarkan tren dunia, bukan kejadian atau pengukuran yang secara khusus dilaporkan terjadi di Indonesia.

Rata-rata konsentrasi karbon dioksida (CO₂) di permukaan atmosfer mencapai 423,9 bagian per juta (ppm). Angka ini setara dengan 153 persen dari kadar pra-industri sebelum 1750. Metana (CH₄), gas rumah kaca yang juga sangat kuat, tercatat sebesar 1.942 bagian per miliar (ppb), atau 267 persen dibandingkan tingkat pra-industri. Sementara itu, konsentrasi dinitrogen oksida (N₂O) mencapai 338,0 ppb, yakni 126 persen dari kadar sebelum 1750.

Perbandingan tersebut menunjukkan skala perubahan yang berlangsung sejak era pra-industri. Persentase itu bukan berarti setiap gas memiliki dampak pemanasan yang sama; masing-masing berbeda dalam kemampuan menahan panas dan lamanya bertahan di atmosfer. Namun, kenaikan ketiganya secara bersamaan menambah energi yang terperangkap dalam sistem iklim. Karbon dioksida terutama berkaitan dengan pembakaran bahan bakar fosil dan perubahan penggunaan lahan, sedangkan sumber metana mencakup kegiatan pertanian, produksi energi, dan pengelolaan limbah. Dinitrogen oksida banyak dilepaskan dari praktik pertanian serta sejumlah proses industri.

WMO menekankan bahwa peningkatan konsentrasi mencerminkan emisi yang terus berlangsung, sementara penyerapan alami oleh daratan dan lautan tidak cukup untuk mengimbangi seluruh tambahan tersebut. Karena gas-gas ini bercampur di atmosfer, dampaknya melampaui batas negara. Rekor global itu menjadi dasar penting bagi pemantauan iklim dan pengurangan emisi di berbagai wilayah. Bagi Indonesia, temuan ini relevan sebagai bagian dari tantangan bersama, tetapi tidak boleh disalahartikan sebagai laporan bahwa angka tersebut hanya berasal dari, atau terjadi khusus di, Indonesia.

Wakil Sekretaris Jenderal Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), Ko Barrett, menjelaskan bahwa konsentrasi gas rumah kaca yang mencapai rekor membuat atmosfer menahan panas dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya. Gas-gas tersebut, terutama karbon dioksida (CO₂), memerangkap sebagian panas yang seharusnya terlepas ke angkasa. Ketika jumlahnya terus meningkat, keseimbangan energi Bumi berubah: lebih banyak energi tersimpan dalam sistem iklim dan suhu rata-rata global terdorong naik. Dampaknya tidak terbatas pada kenaikan angka suhu. Panas tambahan menyediakan energi bagi berbagai proses cuaca dan dapat memperbesar peluang munculnya kejadian ekstrem, meskipun karakter setiap peristiwa juga dipengaruhi kondisi setempat dan faktor alam lainnya.

Energi berlebih dalam sistem iklim dapat memperburuk gelombang panas, memperkuat hujan lebat di sejumlah wilayah, serta meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran di wilayah lain. Perubahan pola dan intensitas cuaca tersebut dapat membebani masyarakat melalui ancaman terhadap kesehatan, keselamatan, pasokan pangan dan air, serta tempat tinggal. Infrastruktur, layanan publik, dan kegiatan ekonomi pun lebih rentan ketika bencana mengganggu transportasi, pertanian, pekerjaan, atau jaringan energi. Karena itu, rekor gas rumah kaca bukan sekadar catatan ilmiah mengenai komposisi atmosfer. Rekor tersebut menunjukkan tekanan jangka panjang yang dapat meningkatkan risiko bagi perekonomian dan masyarakat, terutama apabila paparan terhadap bahaya bertambah sementara kesiapan dan perlindungan tidak memadai.

Barrett juga mengingatkan bahwa tren peningkatan suhu selama 11 tahun terakhir kemungkinan besar akan berlanjut. Gas rumah kaca yang telah dilepaskan tidak segera menghilang, sehingga pengurangan emisi hari ini tidak serta-merta menghapus pemanasan yang sudah terbentuk. CO₂ memiliki umur panjang di atmosfer: sebagian darinya bertahan selama puluhan tahun, sementara sebagian lainnya memengaruhi iklim selama ratusan tahun. Dengan demikian, dampak emisi dapat dirasakan jauh melampaui masa ketika emisi itu dihasilkan. Penjelasan ini menegaskan pentingnya menekan emisi secara cepat sekaligus menyiapkan masyarakat menghadapi dampak yang tidak dapat dihindari dalam waktu dekat. Pilihan kebijakan dan tindakan saat ini akan memengaruhi besarnya pemanasan tambahan, tingkat bahaya cuaca ekstrem, serta beban yang diwariskan kepada generasi mendatang.

Rata-rata konsentrasi karbon dioksida (CO₂) global meningkat 2,8 ppm dari 2024 ke 2025. Angka ini lebih rendah dibandingkan kenaikan 3,6 ppm yang tercatat pada tahun sebelumnya, sehingga laju pertambahan CO₂ tampak melambat. Namun, perbedaan tersebut tidak berarti akumulasi gas rumah kaca telah berhenti atau risiko pemanasan global berkurang secara mendasar. CO₂ tetap bertahan lama di atmosfer, dan setiap tambahan konsentrasi memperkuat pemanasan. Karena itu, angka tahunan perlu dibaca sebagai perubahan laju, bukan sebagai bukti bahwa masalah emisi sudah teratasi. Kenaikan yang lebih kecil sekalipun tetap menambah beban atmosfer dan memperbesar tantangan untuk menahan perubahan iklim.

Oksana Tarasova, pejabat ilmiah senior Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), menjelaskan bahwa penurunan kenaikan tahunan itu mencerminkan pemulihan penyerapan karbon di darat serta berkurangnya emisi karbon akibat kebakaran hutan pada 2025. Kondisi tersebut terjadi setelah periode El Niño yang kuat pada 2023–2024, ketika tekanan iklim dapat mengurangi kemampuan ekosistem daratan menyerap karbon dan memperburuk kebakaran. Dengan membaiknya penyerapan di darat dan menurunnya kontribusi kebakaran, lebih sedikit karbon tambahan dilepaskan atau tertinggal di atmosfer dibandingkan periode sebelumnya. Faktor-faktor alam ini membantu menjelaskan selisih 3,6 ppm dan 2,8 ppm, tetapi tidak menghapus pengaruh aktivitas manusia terhadap tren jangka panjang.

Tarasova menegaskan bahwa kenaikan CO₂ pada 2024–2025 tetap terutama didorong oleh pembakaran bahan bakar fosil. Batu bara, minyak, dan gas yang digunakan untuk energi, transportasi, serta kegiatan industri terus menjadi sumber utama pelepasan karbon dioksida. Dengan demikian, perubahan penyerapan alami maupun kebakaran hutan dapat memengaruhi besarnya kenaikan dari satu tahun ke tahun berikutnya, tetapi bukan pengganti pengurangan emisi fosil yang berkelanjutan. Tarasova juga mengingatkan bahwa tambahan 2,8 ppm masih signifikan. Angka tersebut menandakan konsentrasi CO₂ terus meningkat, meskipun kenaikannya lebih kecil daripada tahun sebelumnya. Pemantauan emisi dan tindakan untuk menekan penggunaan bahan bakar fosil tetap penting agar pertumbuhan gas rumah kaca dapat dikendalikan.

Metana memiliki masa hidup di atmosfer yang lebih pendek daripada karbon dioksida (CO₂), tetapi sifat tersebut tidak menghilangkan perannya dalam pemanasan iklim. Gas ini tetap berkontribusi besar terhadap efek pemanasan yang ditimbulkan oleh gas rumah kaca. Menurut laporan yang menjadi dasar bagian ini, metana menyumbang 16% dari efek pemanasan iklim akibat gas rumah kaca. Angka tersebut menunjukkan bahwa metana merupakan bagian penting dari gambaran keseluruhan, meskipun waktu keberadaannya di atmosfer berbeda dari CO₂. Karena itu, pembahasan mengenai pemanasan global perlu memperhitungkan metana bersama gas rumah kaca lainnya, bukan hanya berfokus pada karbon dioksida.

Metana yang dilepaskan ke atmosfer berasal dari sumber alami maupun aktivitas manusia. Laporan tersebut menyebutkan bahwa sekitar sepertiga dari emisi metana berasal dari sumber alami, termasuk lahan basah. Bagian lainnya berasal dari sumber antropogenik, yaitu sumber yang berkaitan dengan kegiatan manusia. Perbedaan ini membantu menjelaskan bahwa emisi metana tidak seluruhnya muncul dari aktivitas manusia, tetapi porsi yang lebih besar dalam pembagian yang dilaporkan memang berkaitan dengan kegiatan tersebut. Dengan demikian, asal emisi metana dapat dibedakan berdasarkan proses yang menghasilkannya, tanpa mengubah fakta bahwa kedua kelompok sumber sama-sama menyumbang pelepasan gas ini ke atmosfer.

Contoh sumber antropogenik yang disebutkan dalam bahan.

Baca juga: Kedewasaan Politik dalam Munas X AMPI: Calon Tunggal Memperkuat Konsensus