Jakarta | Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa pemerintah sedang berupaya menjaga ketersediaan minyak mentah untuk kebutuhan Indonesia. Langkah tersebut dilakukan dengan menghubungi sejumlah negara guna memastikan pasokan tetap tersedia di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global.
Gejolak politik dan keamanan di berbagai kawasan berpotensi mengganggu jalur distribusi energi, termasuk arus perdagangan minyak mentah. Gangguan tersebut dapat memengaruhi kelancaran pengiriman, meningkatkan biaya pengadaan, serta menimbulkan tekanan terhadap ketahanan energi dunia. Karena itu, pemerintah menilai Indonesia perlu menyiapkan sumber pasokan alternatif agar kebutuhan dalam negeri tidak terlalu bergantung pada kondisi di kawasan tertentu.
Bahlil menyampaikan bahwa komunikasi dengan negara-negara calon pemasok terus dilakukan sebagai bagian dari langkah antisipasi. Pendekatan tersebut mencakup negara-negara di Afrika, yang dipertimbangkan sebagai salah satu alternatif sumber minyak mentah bagi Indonesia. Upaya ini bukan semata-mata untuk menambah pilihan impor, melainkan juga untuk memperkuat fleksibilitas pemerintah dalam merespons perubahan situasi global.
Pencarian sumber pasokan baru menjadi penting karena kebutuhan energi nasional harus tetap dipenuhi, sementara dinamika geopolitik dapat berubah dengan cepat. Dengan membangun hubungan dan komunikasi yang lebih luas, pemerintah berupaya mengurangi risiko gangguan pasokan serta menjaga keberlangsungan aktivitas ekonomi. Kebijakan tersebut juga mencerminkan perlunya strategi energi yang lebih adaptif, terutama ketika pasar minyak dunia menghadapi ketidakpastian distribusi dan ketersediaan.
Langkah Bahlil menghubungi banyak negara menunjukkan bahwa pemerintah mulai memperkuat diplomasi energi sebagai bagian dari upaya menjaga ketahanan nasional. Ketersediaan minyak mentah diharapkan tetap terjamin melalui diversifikasi sumber impor dan pemantauan perkembangan geopolitik secara berkelanjutan.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menceritakan pengalamannya melakukan pendekatan kepada sejumlah pihak di Afrika untuk membuka peluang impor minyak bumi ke Indonesia. Kisah tersebut disampaikan Bahlil dalam acara di Djakarta Theatre, Jakarta, pada Senin, 12 Oktober 2026. Menurut dia, upaya menjaga pasokan minyak tidak hanya mengandalkan perhitungan bisnis, tetapi juga membutuhkan kemampuan membangun komunikasi yang sesuai dengan karakter mitra.
Bahlil menyebut pendekatan yang digunakannya sebagai pendekatan humanis. Dalam proses lobi, ia menekankan kesamaan identitas dan rasa persaudaraan dirinya dan pihak yang ditemui. Cara itu dipilih untuk menciptakan kedekatan sebelum pembahasan mengenai kerja sama energi dilakukan. Ia berupaya menunjukkan bahwa hubungan Indonesia dengan negara-negara Afrika dapat dibangun berdasarkan rasa saling memahami, bukan semata-mata transaksi ekonomi.
Pengalaman tersebut menggambarkan cara Bahlil memanfaatkan hubungan personal dalam diplomasi energi. Di tengah gejolak geopolitik dan ketidakpastian pasar minyak, pemerintah perlu memperluas sumber pasokan serta menjajaki kerja sama dengan berbagai negara. Bagi Bahlil, pendekatan yang humanis dapat membantu membuka ruang dialog dan memperkuat peluang kerja sama impor minyak bumi dari Afrika, sekaligus mendukung upaya Indonesia menjaga ketahanan energi.
Bahlil menilai ketegangan yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel membawa risiko besar terhadap stabilitas pasokan energi global. Menurutnya, setiap eskalasi di kawasan tersebut dapat memicu gangguan pada jalur pelayaran, meningkatkan biaya pengangkutan, serta memperpanjang waktu distribusi minyak. Ia juga menyinggung keterlibatan Haiti dalam situasi yang disebutnya berkaitan dengan Arab Saudi. Rangkaian perkembangan itu membuat arah krisis semakin sulit dipetakan, terutama karena keputusan politik dan keamanan dapat berubah dalam waktu singkat.
Dalam pandangan Bahlil, persoalan geopolitik tidak berhenti pada hubungan antarnegara, tetapi turut memengaruhi arus logistik dan ketahanan energi dunia. Ketika jalur perdagangan terganggu, negara-negara pengimpor harus mencari pemasok alternatif dengan harga, kualitas, dan waktu pengiriman yang belum tentu sama. Dampaknya pun tidak mudah diramalkan. Indonesia, sebagai salah satu negara yang masih membutuhkan impor untuk memenuhi kebutuhan minyak, perlu memperhitungkan perubahan sumber pasokan, termasuk minyak yang sebelumnya berasal dari kawasan Arab Saudi.
Risiko tersebut semakin relevan karena sebelumnya disebutkan bahwa 23 persen minyak mentah Indonesia berasal dari Selat Hormuz. Selat itu merupakan jalur strategis bagi lalu lintas energi, sehingga gangguan keamanan di sekitarnya dapat segera memengaruhi ketersediaan dan harga minyak. Karena itu, Bahlil menegaskan pentingnya melakukan lobi minyak di berbagai tempat. Upaya tersebut diperlukan untuk membuka pilihan pemasok, menjaga kelancaran kontrak, dan mengurangi ketergantungan pada satu jalur maupun kawasan tertentu. Situasi yang terus bergerak membuat pemerintah tidak dapat terlalu lama beristirahat. Setiap perubahan konflik berpotensi mengubah peta pasokan, sehingga diplomasi energi dan pemantauan jalur logistik harus dilakukan secara berkelanjutan.
Arab Saudi membuka peluang yang lebih menarik bagi Indonesia untuk memperoleh minyak mentah, terutama setelah negara tersebut memberikan potongan harga bagi pasar Asia untuk periode November 2026. Penurunan harga ini menjadi salah satu perkembangan yang dapat dipertimbangkan pemerintah ketika mengevaluasi sumber pasokan impor di tengah dinamika geopolitik dan perubahan harga energi global.
Bahlil menyampaikan bahwa keputusan mengenai sumber minyak impor tidak hanya ditentukan oleh harga yang terlihat paling rendah. Pemerintah akan mempertimbangkan efisiensi bagi negara serta kepatuhan terhadap aturan yang berlaku. Dengan demikian, peluang pembelian minyak mentah dari Arab Saudi masih perlu dikaji berdasarkan manfaat ekonomi, ketentuan pengadaan, serta kesesuaian dengan regulasi nasional. Pernyataan tersebut disampaikan Bahlil di lokasi dan pada tanggal yang sama sebagaimana diberitakan dalam sumber.
Data yang dikutip menunjukkan, harga jual resmi minyak mentah Arab Saudi untuk pasar Asia pada November 2026 ditetapkan sebesar 5 dolar AS per barel di bawah rata-rata harga minyak Oman dan Dubai. Angka itu turun 3 dolar AS dibandingkan harga pada bulan sebelumnya. Besaran potongan tersebut disebut sebagai yang terbesar sejak Juni 2020. Kebijakan harga itu dapat meningkatkan daya tarik minyak Saudi bagi pembeli di kawasan Asia, termasuk Indonesia, meskipun keputusan pengadaan tetap harus melalui penilaian pemerintah.
Saudi Aramco juga memangkas harga dengan besaran yang lebih besar, yakni 5 dolar AS per barel, untuk minyak mentah Arab Medium dan Arab Heavy yang dipasarkan ke Asia. Kebijakan tersebut tidak berlaku seragam di semua wilayah. Untuk pasar Eropa Barat Laut dan Mediterania, Arab Saudi justru menaikkan harga jual resminya. Perbedaan harga berdasarkan kawasan mencerminkan strategi pemasaran dan kondisi permintaan regional, sekaligus memberi Indonesia ruang untuk menilai opsi pasokan Asia secara lebih efisien dan sesuai aturan.
Baca juga: Lonjakan Harga Cabai di Jakarta: Imbas Pasokan Terbatas | Menjaga Perdamaian dalam Rivalitas Sepak Bola: Seruan Sekjen PSSI
