Andien Perluas Sekolah Anak Percaya hingga Kampung Apung Jakarta

Andien Perluas Sekolah Anak Percaya hingga Kampung Apung Jakarta

Jakarta | Andien Aisyah meresmikan cabang kelima Sekolah Anak Percaya di kawasan Kampung Apung, Jakarta. Kehadiran cabang baru ini menandai perluasan inisiatif sosial yang selama ini dikembangkan Andien melalui bidang pendidikan. Sekolah tersebut ditujukan sebagai ruang belajar tanpa biaya bagi anak-anak yang tinggal di kawasan setempat.

Pembukaan fasilitas ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan akses pembelajaran yang lebih dekat dengan masyarakat. Melalui Sekolah Anak Percaya, anak-anak Kampung Apung memperoleh ruang untuk belajar dan mengembangkan diri tanpa dibebani biaya pendidikan. Kehadiran ruang belajar tersebut juga menunjukkan perhatian terhadap kebutuhan anak-anak di lingkungan yang memiliki karakter sosial dan ekonomi tersendiri.

Kampung Apung dikenal sebagai kawasan dengan sebagian besar penduduk bekerja sebagai pengupas kerang. Aktivitas tersebut menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat setempat sekaligus menggambarkan kondisi lingkungan tempat anak-anak penerima manfaat sekolah ini tumbuh. Di tengah rutinitas keluarga yang bergantung pada pekerjaan tersebut, tersedianya ruang belajar gratis memberikan dukungan bagi pendidikan anak-anak di kawasan itu.

Peresmian cabang kelima ini memperluas jangkauan aksi sosial Andien Aisyah dalam mendorong kesempatan belajar yang lebih inklusif. Langkah tersebut tidak hanya menghadirkan sekolah di lokasi baru, tetapi juga memperlihatkan kesinambungan kepedulian terhadap pendidikan anak. Kampung Apung kini menjadi bagian dari upaya tersebut, dengan ruang belajar yang ditujukan bagi anak-anak setempat dan dapat diakses tanpa biaya.

Inisiatif Sekolah Anak Percaya bermula pada 2022, ketika Andien mendirikan ruang belajar bagi anak-anak di Kampung Pemulung, Pondok Kopi, Jakarta Timur. Kehadiran sekolah ini berangkat dari perhatian terhadap akses pendidikan anak-anak yang tinggal di lingkungan tersebut. Program itu tidak hanya menghadirkan kegiatan belajar, tetapi juga menjadi upaya untuk membuka kesempatan yang lebih luas bagi anak-anak agar dapat tumbuh dan berkembang melalui pendidikan.

Menurut penjelasan Andien, gagasan tersebut muncul pada masa Covid-19, ketika berbagai persoalan sosial dan pendidikan semakin terlihat. Pada periode itu, ia mencari cara agar karya musiknya dapat terhubung dengan dukungan nyata bagi masyarakat. Pendanaan awal Sekolah Anak Percaya berasal dari penjualan royalti aset digital karya musik berjudul “Percaya” melalui NFT. Hasil penjualan royalti tersebut kemudian digunakan sebagai modal untuk mendirikan sekolah.

Pemanfaatan royalti lagu sebagai sumber pendanaan menunjukkan hubungan yang berkelanjutan karya kreatif Andien dan aksi sosialnya. Musik “Percaya” tidak berhenti sebagai karya untuk dinikmati, tetapi turut menjadi dasar bagi lahirnya sebuah inisiatif pendidikan. Dengan demikian, pesan yang disampaikan melalui musik memperoleh bentuk lain melalui kegiatan yang mendukung anak-anak secara langsung.

Sekolah yang dimulai dari Kampung Pemulung menjadi tahap awal perjalanan Sekolah Anak Percaya. Berangkat dari lingkungan komunitas di Pondok Kopi, program tersebut memperlihatkan bagaimana gagasan sosial dapat dibangun melalui kolaborasi karya seni, pemanfaatan aset digital, dan kepedulian terhadap pendidikan. Pengalaman itu kemudian menjadi landasan bagi pengembangan gerakan tersebut ke wilayah lain, termasuk Kampung Apung Jakarta. Sejarah awal ini menegaskan bahwa perluasan Sekolah Anak Percaya berakar pada inisiatif yang dirintis Andien sejak masa pandemi, dengan dukungan pendanaan awal dari royalti karya musiknya.

Pendirian cabang Sekolah Anak Percaya di Kampung Apung, Jakarta, tidak berlangsung secara instan. Sebelum kegiatan belajar mengajar diselenggarakan, tim Andien terlebih dahulu menjalani proses pendekatan dengan warga setempat. Proses tersebut diperlukan untuk membangun kepercayaan dan memastikan kehadiran sekolah dapat diterima oleh lingkungan sekitar. Dengan demikian, pembukaan cabang di kawasan itu merupakan hasil dari proses yang berlangsung secara bertahap dalam rentang waktu yang cukup panjang, bukan keputusan yang langsung diwujudkan dalam waktu singkat.

Andien menyampaikan bahwa timnya membutuhkan waktu pendekatan hingga satu tahun sebelum kegiatan pendidikan dapat dimulai. Pendekatan itu telah dilakukan sejak Oktober tahun sebelumnya dan terus berlangsung sampai warga Kampung Apung memberikan kepercayaan untuk pelaksanaan proses belajar mengajar. Keterangan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan Sekolah Anak Percaya di lokasi baru memerlukan kesabaran serta proses membangun hubungan dengan masyarakat. Namun, Andien tidak menjelaskan secara rinci tahapan, metode, maupun bentuk kegiatan yang dilakukan selama masa pendekatan tersebut.

Penjelasan mengenai proses itu disampaikan Andien saat ditemui di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, pada Minggu (11/10/2026). Dalam kesempatan tersebut, ia menegaskan bahwa waktu satu tahun menjadi bagian penting sebelum cabang Sekolah Anak Percaya di Kampung Apung dapat berjalan. Lamanya proses pendekatan mencerminkan perhatian tim terhadap penerimaan warga dan kondisi lingkungan setempat. Setelah kepercayaan terbangun, kegiatan belajar mengajar akhirnya dapat diselenggarakan di Kampung Apung sebagai perluasan akses pendidikan bagi anak-anak di kawasan tersebut.

Perluasan Sekolah Anak Percaya hingga Kampung Apung Jakarta berangkat dari keprihatinan Andien terhadap tingginya angka anak putus sekolah di wilayah perairan. Ia menemukan bahwa persoalan pendidikan di kawasan tersebut tidak dapat dipahami hanya dari keinginan anak untuk belajar. Di balik keterbatasan akses, terdapat kondisi sosial yang membuat sebagian anak lebih rentan meninggalkan pendidikan dan kehilangan kesempatan untuk berkembang.

Permukiman padat di kawasan perairan menghadirkan tantangan yang berlapis. Anak-anak mungkin memiliki kemauan belajar, tetapi dukungan yang mereka perlukan tidak selalu tersedia secara memadai. Lingkungan tempat tinggal, keterbatasan fasilitas, serta keadaan keluarga dapat memengaruhi keberlanjutan sekolah. Karena itu, upaya membantu mereka tidak cukup dilakukan dengan mendorong motivasi belajar, melainkan juga perlu memahami hambatan yang berada di sekitar kehidupan sehari-hari.

Andien juga menyoroti persoalan administrasi kependudukan dan status kependudukan warga. Dokumen yang belum lengkap atau status yang belum jelas dapat menyulitkan keluarga ketika mengakses layanan pendidikan. Masalah administratif tersebut menjadi bagian dari rangkaian kendala yang saling berkaitan, sehingga penyelesaiannya membutuhkan perhatian lebih luas daripada sekadar menyediakan ruang belajar. Pendekatan terhadap pendidikan anak perlu berjalan beriringan dengan pemahaman atas kondisi keluarga dan komunitasnya.

Dalam situasi ketika solusi belum tersedia, Andien memilih untuk terlibat langsung melalui Sekolah Anak Percaya, tanpa menyatakan bahwa satu inisiatif dapat menyelesaikan seluruh persoalan. Sikap tersebut menunjukkan kepedulian terhadap anak-anak yang berada di wilayah perairan sekaligus kesediaan untuk hadir di tengah masyarakat. Ia mengajak berbagai pihak mencari jalan keluar bersama warga, dengan mendengarkan kebutuhan mereka dan membangun dukungan yang relevan agar akses pendidikan dapat diperjuangkan secara bertahap.

Baca juga: Kembali Normal: Sekolah di Jakarta Akhirnya Dapat Beroperasi Seperti Biasa | Pergerakan Abu Vulkanik Anak Krakatau di Jakarta | Jelang Pertandingan Epic: Persija Jakarta Vs Persib Bandung