Bandung | Persib Bandung mengawali perjalanan di Super League 2026/2027 dengan catatan yang patut mendapat perhatian. Dalam empat pertandingan pertama, Maung Bandung selalu kebobolan lebih dahulu sebelum berusaha mengejar ketertinggalan. Pola tersebut muncul ketika Persib tengah memikul tanggung jawab besar untuk mempertahankan gelar juara Liga Indonesia. Status sebagai juara bertahan membuat setiap hasil dan performa awal musim menjadi sorotan, termasuk cara tim mengantisipasi tekanan sejak menit-menit pembuka.
Catatan serupa juga terlihat jika seluruh kompetisi yang diikuti Persib diperhitungkan. Dari tujuh pertandingan resmi yang telah dimainkan, tim asuhan Bojan Hodak tercatat lima kali berada dalam posisi tertinggal lebih dahulu. Artinya, persoalan tersebut bukan hanya terjadi dalam persaingan Super League, melainkan mulai membentuk pola pada awal musim secara keseluruhan. Persib perlu menemukan cara untuk tampil lebih solid agar tidak terus memberikan keuntungan awal kepada lawan.
Di sisi lain, ketertinggalan itu belum selalu berujung pada hasil buruk. Persib menunjukkan mentalitas untuk bangkit dengan meningkatkan intensitas permainan, menciptakan peluang, dan berusaha mengubah arah pertandingan. Kemampuan merespons tekanan tersebut menjadi salah satu kekuatan penting bagi skuad yang sedang mempertahankan gelar. Karakter pantang menyerah dapat menjadi modal berharga sepanjang kompetisi, terutama dalam menghadapi jadwal padat dan pertandingan dengan tingkat persaingan tinggi.
Meski demikian, kebiasaan kebobolan lebih dahulu tetap merupakan catatan mengkhawatirkan. Jika terus berulang, situasi tersebut dapat menguras energi pemain, memaksa tim mengambil risiko lebih besar, serta menyulitkan Persib mengendalikan tempo pertandingan. Perbaikan koordinasi lini belakang, konsentrasi sejak awal, dan kemampuan menjaga struktur pertahanan menjadi pekerjaan penting. Persib masih memiliki waktu untuk membenahi kelemahan tersebut, tetapi evaluasi perlu dilakukan segera agar mentalitas comeback tidak berubah menjadi ketergantungan pada situasi tertinggal.
Persib kembali harus menjalani laga dengan tekanan besar setelah Dewa United mencetak gol lebih dahulu pada pekan keempat Super League 2026/2027. Pertandingan yang berlangsung di Stadion Si Jalak Harupat, Minggu, 11 Oktober 2026, tersebut memperlihatkan persoalan serupa yang mengiringi perjalanan Persib pada awal musim. Alih-alih tampil sebagai tim yang mengendalikan permainan sejak menit pertama, Maung Bandung justru tertinggal dan dipaksa mengejar ketertinggalan.
Dewa United membuka keunggulan melalui Egy Maulana Vikri. Gol tersebut membuat Persib harus meningkatkan intensitas serangan, tetapi upaya untuk menyamakan kedudukan belum menghasilkan gol hingga mendekati akhir babak pertama. Situasi semakin sulit menjelang turun minum ketika Noah Sadaoui menggandakan keunggulan Dewa United. Persib pun memasuki jeda dengan defisit dua gol, kondisi yang menuntut perubahan pendekatan pada babak kedua.
Persib merespons setelah pertandingan kembali berlangsung. Balsa Sekulic memperkecil ketertinggalan dan menghidupkan peluang tuan rumah untuk menghindari kekalahan. Gol itu memberikan dorongan bagi Persib untuk terus menekan pertahanan Dewa United. Tekanan tersebut kemudian menghasilkan gol penyama kedudukan melalui Marc Klok. Skor 2-2 bertahan hingga pertandingan berakhir, sehingga Persib harus puas berbagi angka setelah bangkit dari situasi yang sangat sulit.
Hasil imbang ini menunjukkan daya juang Persib, tetapi sekaligus menegaskan catatan yang belum terselesaikan. Dalam setiap pertandingan Super League musim ini, Persib selalu gagal mencetak gol pembuka. Mereka kembali memulai laga melawan Dewa United dengan posisi tertinggal, sebelum menunjukkan respons pada paruh kedua. Kemampuan melakukan comeback menjadi modal penting, namun kebiasaan kebobolan lebih dulu dapat menjadi persoalan serius apabila terus berulang. Persib perlu memperbaiki konsentrasi dan efektivitas permainan sejak awal agar tidak selalu bergantung pada perjuangan mengejar skor.
Pola Persib Bandung yang harus mengejar ketertinggalan sudah terlihat sejak rangkaian awal kompetisi Super League. Setelah mengalami situasi serupa pada pertandingan pembuka, Maung Bandung kembali memulainya dengan skor yang tidak menguntungkan dalam tiga laga berikutnya. Kendati demikian, respons para pemain menunjukkan ketenangan dan daya juang yang mampu menjaga perolehan poin. Setiap pertandingan menghadirkan tantangan berbeda, tetapi benang merahnya tetap sama: Persib lebih dahulu kebobolan sebelum berupaya membalikkan keadaan.
Saat menghadapi PSM Makassar pada 6 September 2026, Persib tertinggal sejak menit ketujuh setelah Kodai Tanaka memanfaatkan peluang untuk mencetak gol cepat. Situasi tersebut tidak membuat permainan Persib runtuh. Mereka meningkatkan tekanan, memperbaiki sirkulasi bola, lalu mencetak tiga gol untuk mengubah kedudukan. Pertandingan berakhir dengan kemenangan 3-1 bagi Persib, sekaligus memperlihatkan kemampuan tim merespons tekanan sejak awal laga.
Catatan berbeda muncul ketika Persib berhadapan dengan Persija Jakarta pada 12 September 2026. Alexander Jeremejeff membawa Persija unggul lebih dahulu, sehingga Persib kembali dipaksa mengejar skor. Upaya menyamakan kedudukan memang menghasilkan perlawanan sengit, tetapi Persija mampu mencetak gol penentu menjelang pertandingan berakhir. Persib pun harus menerima kekalahan 1-2 dalam pertandingan yang berlangsung ketat tersebut.
Pada lawatan ke markas Persijap Jepara, 20 September 2026, pola serupa kembali terjadi. Penalti Pirulo membuat Persib berada dalam posisi tertinggal. Namun, Thom Haye dan Uilliam Barros kemudian mencetak gol yang mengubah arah pertandingan sekaligus memastikan kemenangan 2-1. Hasil itu menegaskan bahwa Persib belum mampu menghindari kebobolan lebih dulu, tetapi tetap memiliki kapasitas untuk bangkit.
Dengan demikian, dalam empat pertandingan Super League, Persib selalu harus mengejar skor terlebih dahulu. Meski pola tersebut perlu segera dibenahi, tim tetap mengoleksi tujuh poin melalui dua kemenangan dan satu hasil imbang. Perolehan itu menjadi modal penting, sekaligus menyoroti kebutuhan untuk memperkuat konsentrasi dan organisasi pertahanan sejak menit pertama.
Catatan mengenai Persib yang kebobolan lebih dulu tidak hanya muncul dalam persaingan domestik. Kecenderungan tersebut juga terlihat ketika Maung Bandung mulai menjalani agenda di level Asia Tenggara. Pada laga pembuka Shopee Cup 2026/2027 melawan Port FC di Thailand, Kamis, 8 Oktober 2026, Persib kembali berada dalam posisi tertinggal lebih dahulu. Situasi ini memperlihatkan bahwa persoalan tersebut mulai menjadi pola yang melintasi kompetisi, bukan sekadar kejadian yang muncul pada pertandingan tertentu di liga nasional.
Perpindahan panggung dari kompetisi domestik ke turnamen regional semestinya dapat menjadi kesempatan bagi Persib untuk menghadirkan pendekatan yang lebih solid sejak awal pertandingan. Namun, catatan dari laga pembuka Shopee Cup menunjukkan bahwa tim masih perlu memperkuat aspek antisipasi pada fase awal. Ketika lawan mampu menciptakan keunggulan terlebih dahulu, Persib harus bekerja lebih keras untuk mengubah arah pertandingan dan menjaga rencana permainan tetap berjalan sesuai harapan.
Hal ini menjadi perhatian karena kalender kompetisi Persib menuntut konsistensi di lebih dari satu ajang. Tekanan untuk bangkit tidak hanya hadir dalam pertandingan liga, tetapi juga pada persaingan regional yang mempertemukan klub-klub dengan karakter dan pendekatan berbeda. Kemampuan menjaga gawang tetap aman sejak menit awal akan berpengaruh terhadap stabilitas permainan, terutama ketika jadwal padat membuat waktu pemulihan dan persiapan menjadi lebih terbatas.
Dengan demikian, kecenderungan tertinggal lebih dahulu mulai terlihat di berbagai kompetisi yang diikuti Persib. Catatan tersebut menjadi pekerjaan penting bagi tim untuk diperbaiki, agar proses comeback tidak terus menjadi kebutuhan utama dalam setiap pertandingan. Persib perlu membangun awal laga yang lebih terkontrol dan respons defensif yang lebih konsisten, sehingga peluang untuk mengendalikan pertandingan dapat diperoleh sejak fase awal, baik di kompetisi domestik maupun Asia Tenggara.
