Jakarta | Nilai tukar rupiah mengakhiri perdagangan Senin, 12 Oktober 2026, dengan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat. Berdasarkan data Refinitiv, rupiah turun 0,11% dan ditutup pada level Rp17.895 per dolar AS. Pergerakan tersebut membalikkan penguatan yang sempat tercatat pada awal sesi perdagangan.
Saat pembukaan, rupiah terapresiasi 0,08% ke posisi Rp17.860 per dolar AS. Namun, penguatan itu tidak bertahan hingga penutupan pasar. Dalam perdagangan sepanjang hari, nilai tukar rupiah bergerak di rentang Rp17.860 hingga Rp17.910 per dolar AS, menunjukkan adanya perubahan arah sebelum akhirnya berakhir di zona merah.
Dengan penutupan pada level Rp17.895 per dolar AS, rupiah berada lebih lemah dibandingkan posisi pembukaan. Selisih level awal dan akhir perdagangan mencerminkan pembalikan kinerja harian, dari apresiasi pada pagi hari menjadi depresiasi pada sore hari. Data tersebut juga menempatkan level tertinggi pergerakan rupiah pada Rp17.910 per dolar AS, sedangkan level terendahnya berada di Rp17.860 per dolar AS.
Perubahan arah ini menjadi catatan utama dalam perdagangan rupiah pada Senin tersebut. Meskipun sempat menguat ketika pasar dibuka, mata uang domestik kemudian kehilangan sebagian nilainya terhadap dolar AS. Pada akhir sesi, posisi Rp17.895 per dolar AS menandai pelemahan harian sebesar 0,11% berdasarkan pencatatan Refinitiv.
Tekanan terhadap rupiah tidak terlepas dari perkembangan pasar global, terutama pergerakan indeks dolar AS atau DXY. Pada pukul 15.00 WIB, DXY tercatat stabil di level 102,213. Meskipun tidak mengalami perubahan besar pada sesi tersebut, posisi ini tetap menunjukkan bahwa dolar AS berada di area yang kuat. Rupiah kembali berada di bawah tekanan ketika DXY bertahan di sekitar level tertingginya dalam 18 bulan.
Level DXY yang masih berada di atas 102 mencerminkan tingginya permintaan investor terhadap aset berdenominasi dolar. Dalam situasi seperti ini, pelaku pasar cenderung meningkatkan kepemilikan terhadap mata uang dan instrumen keuangan AS karena dianggap lebih aman ketika ketidakpastian meningkat. Penguatan dolar kemudian membuat mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, menghadapi tekanan tambahan. Pergerakan tersebut dapat memengaruhi arus modal, terutama ketika investor melakukan penyesuaian portofolio dan mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.
Sentimen global juga dipengaruhi meningkatnya kehati-hatian investor setelah eskalasi konflik di Timur Tengah. Serangan kelompok Houthi terhadap Arab Saudi, serta serangan terhadap dua kapal pada akhir pekan, kembali memunculkan kekhawatiran mengenai keamanan pasokan energi. Risiko terhadap jalur distribusi dan fasilitas energi berpotensi meningkatkan volatilitas harga minyak serta memperbesar ketidakpastian terhadap prospek ekonomi global. Kondisi itu mendorong investor mencari aset perlindungan, sehingga permintaan terhadap dolar AS tetap terjaga.
Selama kekhawatiran geopolitik belum mereda dan DXY bertahan di level tinggi, ruang penguatan rupiah dapat menjadi lebih terbatas. Pasar akan mencermati perkembangan konflik, dampaknya terhadap harga energi, serta respons kebijakan negara-negara besar. Kombinasi dolar yang kuat dan meningkatnya permintaan aset aman menjadi faktor eksternal penting yang menjelaskan kembalinya tekanan terhadap rupiah hingga perdagangan domestik.
Perhatian pelaku pasar kini tertuju pada agenda ekonomi Amerika Serikat berikutnya, terutama rilis data inflasi konsumen yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu pekan tersebut. Publikasi ini menjadi salah satu indikator utama yang dinantikan karena dapat memberikan gambaran terbaru mengenai arah tekanan harga di negara tersebut. Perubahan inflasi akan menjadi bahan pertimbangan penting bagi investor dalam menilai kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve.
Data tersebut juga disebut sebagai salah satu indikator ekonomi utama terakhir sebelum Federal Reserve menggelar rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pada akhir Oktober. Karena itu, angka inflasi yang keluar berpotensi memengaruhi pergerakan pasar keuangan, termasuk nilai tukar dolar AS dan mata uang negara berkembang. Investor akan mencermati apakah tren penurunan inflasi berlanjut atau justru muncul tekanan baru yang dapat mengubah perkiraan kebijakan suku bunga.
Saat ini, pasar memperhitungkan peluang sebesar 81 persen bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga pada pertemuan Oktober. Angka tersebut meningkat cukup tajam dibandingkan sebulan sebelumnya, ketika probabilitas penahanan suku bunga berada di sekitar 51 persen. Perubahan ekspektasi ini menunjukkan bahwa pelaku pasar semakin menilai kebijakan moneter AS kemungkinan tetap berada pada tingkat restriktif, meskipun keputusan final masih bergantung pada perkembangan data ekonomi.
Risiko terhadap prospek tersebut tetap terbuka apabila inflasi konsumen AS tercatat lebih tinggi daripada perkiraan. Hasil semacam itu dapat mendorong pasar memperkirakan kenaikan suku bunga lanjutan kembali diperlukan untuk meredam tekanan harga. Penguatan ekspektasi tersebut berpotensi meningkatkan permintaan terhadap dolar AS, sekaligus menambah tekanan terhadap rupiah dan mata uang lainnya. Oleh sebab itu, rilis inflasi akan menjadi pemicu penting bagi arah pasar menjelang rapat FOMC.
Bank Indonesia menegaskan kesiapan untuk merespons tekanan eksternal yang terus membebani pergerakan rupiah. Sikap tersebut menunjukkan bahwa stabilitas nilai tukar tetap menjadi perhatian utama otoritas moneter, terutama ketika gejolak pasar lebih banyak dipengaruhi oleh perkembangan global di luar kendali langsung perekonomian domestik.
Dalam kondisi tekanan yang meningkat, BI menyatakan dapat mengambil langkah intervensi yang lebih agresif apabila diperlukan. Penegasan ini disampaikan sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas nilai tukar dan meredam dampak gejolak global terhadap rupiah. Namun, langkah tersebut akan disesuaikan dengan perkembangan situasi serta kebutuhan untuk menjaga stabilitas.
Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menyampaikan pernyataan itu dalam program Central Banking yang dikutip pada Senin, 12 Oktober 2026. “Kalau diperlukan, kami akan melakukan intervensi yang lebih berani, karena sumber utama gejolak saat ini lebih banyak berasal dari faktor global,” ujar Destry. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa BI memandang tekanan terhadap rupiah saat ini terutama berkaitan dengan dinamika eksternal.
Dengan demikian, pelemahan rupiah di tengah tekanan global tidak hanya menjadi perhatian dari sisi pergerakan pasar, tetapi juga mendorong kesiapan kebijakan untuk mempertahankan stabilitas. Komitmen BI untuk bertindak lebih tegas apabila keadaan memerlukan menjadi sinyal bahwa otoritas terus memantau perkembangan secara cermat. Respons tersebut tetap berfokus pada stabilitas nilai tukar, tanpa mengabaikan fakta bahwa sumber tekanan utama berasal dari kondisi global.
Baca juga: Rupiah Melemah: Dampak Sentimen Ekonomi Global dan Domestik | Rupiah Menguat ke Level Rp17.562 per Dolar AS
