Jakarta | Kondisi ekonomi keluarga berkaitan erat dengan peluang anak perempuan dalam menentukan masa depan, termasuk risiko mengalami perkawinan sebelum berusia 18 tahun. Temuan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Badan Pusat Statistik (BPS) 2018 menunjukkan bahwa risiko tersebut tidak terbagi secara merata di kelompok masyarakat. Anak perempuan dari keluarga dengan tingkat pengeluaran rendah menghadapi kemungkinan yang lebih besar untuk menikah pada usia anak dibandingkan mereka yang berasal dari keluarga dengan tingkat pengeluaran tinggi.
Data Susenas BPS 2018 memperlihatkan bahwa perempuan berusia 20–24 tahun dari rumah tangga dengan tingkat pengeluaran terendah hampir tiga kali lebih berisiko mengalami perkawinan anak dibandingkan perempuan dari rumah tangga dengan tingkat pengeluaran tertinggi. Perbandingan ini menunjukkan adanya kesenjangan yang jelas berdasarkan tingkat pengeluaran rumah tangga. Dengan demikian, latar belakang ekonomi keluarga berhubungan dengan perbedaan peluang anak perempuan untuk menunda perkawinan hingga mencapai usia dewasa.
Kesenjangan juga terlihat berdasarkan tempat tinggal. Anak perempuan yang tinggal di perdesaan tercatat dua kali lebih berisiko mengalami perkawinan anak dibandingkan anak perempuan yang tinggal di perkotaan. Perbedaan tersebut menegaskan bahwa risiko perkawinan anak tidak dialami secara seragam oleh seluruh anak perempuan. Kelompok yang berada dalam rumah tangga dengan tingkat pengeluaran terendah serta anak perempuan yang tinggal di perdesaan tercatat menghadapi risiko yang lebih tinggi.
Temuan ini memperlihatkan bahwa ketimpangan ekonomi dan perbedaan tempat tinggal berkaitan dengan ketidakmerataan risiko perkawinan anak. Bagi anak perempuan, kondisi tersebut dapat memengaruhi ruang untuk menentukan pilihan mengenai masa depan dan waktu perkawinan. Data ini penting untuk menunjukkan bahwa pembahasan mengenai perkawinan anak perlu memperhatikan perbedaan kondisi ekonomi rumah tangga dan lingkungan tempat tinggal, karena tingkat risikonya tidak terbagi secara sama di kelompok masyarakat.
Keterbatasan ekonomi dapat memengaruhi cara keluarga memandang masa depan anak perempuan. Ketika pendapatan tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari, biaya sekolah, transportasi, buku, seragam, dan akses internet sering dianggap sebagai beban tambahan. Dalam situasi tersebut, anak perempuan mungkin diminta mengurangi kegiatan belajar, bekerja untuk membantu keluarga, atau berhenti sekolah lebih awal. Hambatan ini bukan hanya berkaitan dengan kemampuan membayar biaya pendidikan, tetapi juga dengan tuntutan pekerjaan domestik dan perawatan anggota keluarga yang lebih sering dibebankan kepada anak perempuan.
Tekanan finansial juga dapat mengurangi peluang untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang menengah atas atau perguruan tinggi. Keputusan yang semula direncanakan berdasarkan minat dan kemampuan anak dapat bergeser menjadi pertimbangan jangka pendek, seperti mengurangi pengeluaran keluarga atau memperoleh dukungan dari pihak lain. Dalam keadaan tertentu, perkawinan dipandang oleh keluarga sebagai salah satu jalan keluar dari persoalan ekonomi, meskipun pilihan tersebut belum tentu menjamin keamanan, kesejahteraan, atau masa depan anak perempuan. Karena itu, hubungan kemiskinan dan perkawinan anak perlu dipahami secara hati-hati: kondisi ekonomi dapat mempersempit pilihan, tetapi tidak secara otomatis menyebabkan perkawinan sebelum dewasa.
Menikah sebelum usia 18 tahun berpotensi menghentikan atau mengganggu pendidikan. Tanggung jawab rumah tangga, kehamilan, pengasuhan anak, serta keterbatasan waktu dan dukungan dapat membuat anak perempuan sulit kembali ke sekolah. Kesempatan untuk mengikuti pelatihan, membangun keterampilan kerja, dan memperoleh pengalaman yang mendukung kemandirian ekonomi juga menjadi lebih terbatas. Akibatnya, ketergantungan finansial dapat berlanjut, terutama apabila pasangan atau keluarga tidak memiliki penghasilan yang stabil.
Investasi pada pendidikan dan pengembangan diri memberi anak perempuan lebih banyak pilihan untuk menentukan masa depan. Dukungan berupa bantuan biaya, lingkungan belajar yang aman, konseling, dan informasi mengenai jalur pendidikan dapat membantu keluarga mempertahankan rencana sekolah ketika menghadapi kesulitan. Perlindungan sosial dan kesempatan kerja bagi orang dewasa juga penting agar perkawinan tidak dipertimbangkan sebagai solusi atas tekanan finansial. Dengan memperluas pilihan tersebut, anak perempuan memiliki ruang lebih besar untuk mempersiapkan kehidupan yang mandiri, sehat, dan sesuai dengan potensi mereka.
Perkawinan anak tidak dapat dipahami semata-mata sebagai keputusan pribadi anak atau pilihan yang dibuat oleh keluarga berdasarkan tradisi. Keputusan tersebut biasanya terbentuk melalui rangkaian kondisi yang saling berkaitan, termasuk keadaan ekonomi rumah tangga, norma sosial, ketimpangan gender, serta ketersediaan perlindungan bagi anak. Karena itu, menjelaskan persoalan ini hanya dengan alasan kemiskinan berisiko menyederhanakan kenyataan dan mengabaikan faktor lain yang turut memengaruhi kehidupan anak perempuan.
Kemiskinan tetap merupakan salah satu faktor penting. Keluarga dengan sumber daya terbatas dapat menghadapi tekanan untuk mengurangi beban pengeluaran, sementara anak mungkin memiliki akses yang lebih kecil terhadap pendidikan, informasi, dan kesempatan kerja. Dalam kondisi tertentu, perkawinan dipandang sebagai cara untuk memperoleh keamanan ekonomi atau sosial. Namun, hubungan tersebut tidak berarti bahwa setiap keluarga miskin akan menikahkan anaknya, atau bahwa perkawinan anak hanya terjadi dalam rumah tangga berpenghasilan rendah.
Norma sosial dan ketimpangan gender juga berperan dalam membentuk pilihan yang tersedia bagi anak. Anggapan bahwa anak perempuan harus segera menikah, menjaga kehormatan keluarga, atau menerima keputusan orang dewasa dapat membatasi kemampuan mereka untuk menyampaikan kehendak. Di sejumlah lingkungan, tekanan untuk mengikuti kebiasaan setempat bahkan dapat berlangsung ketika keluarga tidak berada dalam kemiskinan. Akses terhadap layanan perlindungan, konseling, pendidikan seksual yang sesuai usia, pencatatan kelahiran, dan mekanisme pelaporan juga menentukan sejauh mana anak dapat memperoleh dukungan.
Perbedaan risiko kelompok ekonomi dan wilayah tempat tinggal menunjukkan perlunya analisis yang lebih luas. Anak yang tinggal di daerah dengan layanan pendidikan, kesehatan, dan perlindungan yang terbatas mungkin menghadapi kerentanan berbeda dibandingkan anak di wilayah yang fasilitasnya lebih mudah dijangkau. Dengan demikian, pencegahan perlu menggabungkan pengurangan kemiskinan dengan penguatan layanan, perubahan norma yang merugikan, peningkatan kesetaraan gender, serta penciptaan lingkungan tumbuh yang aman. Pendekatan semacam ini membantu memastikan bahwa tanggung jawab tidak dibebankan kepada anak atau keluarganya saja.
Pencegahan perkawinan anak tidak cukup dilakukan melalui imbauan kepada keluarga agar tidak menikahkan anak pada usia dini. Imbauan tersebut penting, tetapi tidak akan memadai apabila anak perempuan tidak memiliki pilihan lain yang benar-benar dapat dijalani. Ketika akses terhadap pendidikan terbatas, kondisi ekonomi keluarga tertekan, dan ruang untuk menyampaikan pendapat hampir tidak tersedia, perkawinan dapat dipandang sebagai satu-satunya jalan yang mungkin. Karena itu, perhatian perlu diarahkan pada keadaan yang membentuk pilihan anak perempuan, bukan hanya pada keputusan keluarga ketika perkawinan hendak dilangsungkan.
Anak perempuan membutuhkan kesempatan bersekolah dan ruang aman untuk berbicara tentang masa depan mereka. Ruang tersebut memungkinkan mereka menyampaikan keinginan, kekhawatiran, serta pandangan mengenai pendidikan dan kehidupan yang ingin dijalani. Pendapat anak tidak semestinya dianggap sebagai hal yang belum penting hanya karena mereka masih berusia muda. Kemampuan untuk didengar dan dipertimbangkan membantu anak mengenali bahwa masa depan mereka memiliki nilai, sementara keputusan mengenai perkawinan tidak seharusnya diambil tanpa mempertimbangkan suara dan kepentingan mereka.
Pendidikan memperluas pilihan hidup dengan menyediakan pengetahuan, keterampilan, dan kesiapan untuk menentukan langkah berikutnya. Melalui proses belajar yang memadai, anak perempuan dapat memahami lebih banyak kemungkinan bagi dirinya, menilai pilihan secara lebih kritis, serta membangun keyakinan untuk merencanakan masa depan. Sekolah juga dapat menjadi bagian dari pengalaman yang menjaga kesinambungan perkembangan anak, sehingga masa remaja tidak segera dipersempit menjadi persiapan menuju perkawinan.
Baca juga: Kontroversi Desil Ekonomi Anak Menteri Keuangan | Puspsi TNI Berikan Trauma Healing bagi Anak Penyintas Gempa Bumi NTT | Rupiah Melemah: Dampak Sentimen Ekonomi Global dan Domestik
