Bisnis  

Saham Grup Prajogo Pangestu Tertekan Serentak, CUAN Turun Paling Dalam

Saham Grup Prajogo Pangestu Tertekan Serentak, CUAN Turun Paling Dalam

Jakarta | Seluruh saham emiten yang terafiliasi dengan konglomerat Prajogo Pangestu kompak bergerak di zona merah pada perdagangan Senin, 12 Oktober 2026. Berdasarkan data Stockbit hingga pukul 14.30 WIB, tidak ada satu pun saham dalam kelompok tersebut yang mampu bertahan di area positif. Tekanan jual terlihat merata, meskipun tingkat koreksi masing-masing emiten berbeda. Pergerakan ini menunjukkan pelemahan serentak pada saham-saham yang memiliki keterkaitan dengan sejumlah bisnis utama Prajogo Pangestu, mulai dari energi, petrokimia, pertambangan, hingga investasi.

PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) mencatat penurunan paling dalam. Saham CUAN terkoreksi 12,99% atau 100 poin menjadi Rp670 per saham. Setelah itu, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) melemah 12,59% atau 340 poin ke level Rp2.360. PT Petrosea Tbk (PTRO) juga mengalami tekanan signifikan dengan penurunan 12% atau 570 poin, sehingga harganya berada di Rp4.180 per saham.

Pelemahan berikutnya terjadi pada PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), yang turun 9,25% atau 155 poin menjadi Rp1.520. Sementara itu, PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) terkoreksi 7,21% atau 40 poin ke Rp515 per saham. Besaran penurunan tersebut menempatkan sebagian besar saham terkait Prajogo dalam tekanan dua digit, sekaligus menjadi perhatian pelaku pasar pada sesi perdagangan hari itu.

Adapun PT Barito Pacific Tbk (BRPT) menjadi saham dengan pelemahan paling terbatas di emiten-emiten tersebut. Saham BRPT turun 4,98% atau 70 poin ke posisi Rp1.335 per saham. Meski koreksinya lebih rendah dibandingkan saham lain dalam kelompok yang sama, BRPT tetap mengakhiri perdagangan di zona merah. Data hingga batas waktu tersebut menggambarkan tekanan yang berlangsung secara luas pada seluruh saham emiten terafiliasi Prajogo Pangestu.

Pelemahan saham-saham yang terafiliasi dengan Prajogo Pangestu berlangsung ketika pasar saham domestik berada di bawah tekanan kuat. Pada penutupan sesi I, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 117,98 poin atau 1,94% ke level 5.975. Sebelumnya, indeks sempat menyentuh titik terendah intraday di 5.971, yang mencerminkan pelemahan sekitar 2% dibandingkan posisi penutupan sebelumnya.

Pergerakan IHSG pada perdagangan tersebut dimulai dari level pembukaan 6.109,32. Pada awal sesi, indeks masih mampu naik dan mencapai level tertinggi 6.128,72. Namun, arah perdagangan kemudian berbalik setelah tekanan jual menguat. IHSG terus bergerak turun hingga menjelang pukul 10.00 WIB, sebelum bertahan di area pelemahan sampai penutupan sesi I. Kondisi ini menunjukkan bahwa sentimen negatif tidak hanya menekan saham tertentu, tetapi juga menyebar ke berbagai kelompok industri.

Seluruh sektor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) tercatat melemah. Penurunan terdalam terjadi pada sektor energi, infrastruktur, dan barang baku, yang sekaligus mencakup sejumlah emiten dalam kelompok usaha Prajogo Pangestu. BREN dan CDIA berada di sektor infrastruktur, sedangkan CUAN dan PTRO masuk sektor energi. Adapun TPIA dan BRPT tercatat sebagai emiten sektor barang baku. Dengan demikian, tekanan sektoral turut memperbesar penurunan pada saham-saham tersebut, khususnya ketika pelaku pasar mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.

Beberapa saham terkait Prajogo juga masuk dalam jajaran penekan utama IHSG pada sesi I. BREN dan TPIA tercatat bersama PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), serta PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) sebagai saham yang memberikan kontribusi negatif terhadap pergerakan indeks. Situasi tersebut memperlihatkan bahwa pelemahan CUAN, BREN, CDIA, PTRO, TPIA, dan BRPT terjadi dalam konteks koreksi pasar yang lebih luas, bukan semata-mata akibat sentimen individual masing-masing emiten.

Arus dana asing keluar dari pasar saham pada sesi I perdagangan. Berdasarkan data Stockbit Sekuritas, investor asing mencatat jual bersih sebesar Rp166,22 miliar di seluruh pasar. Nilai transaksi asing mencapai Rp3,33 triliun, yang terdiri atas pembelian senilai Rp1,58 triliun dan penjualan sebesar Rp1,75 triliun. Dengan demikian, nilai penjualan tercatat lebih besar dibandingkan nilai pembelian sepanjang sesi pertama perdagangan.

Analis Phintraco Sekuritas Desy Erawati menyampaikan bahwa isu terkait MSCI masih menjadi perhatian pelaku pasar. Perhatian tersebut mencakup risiko penurunan klasifikasi Indonesia menjadi pasar frontier. Perkembangan kebijakan MSCI menjadi salah satu hal yang terus dicermati investor karena berhubungan dengan peninjauan terhadap status pasar Indonesia serta saham-saham yang masuk dalam indeks yang dikelola penyedia indeks global tersebut.

Dalam konteks kebijakan yang tersedia, MSCI membekukan kenaikan foreign inclusion factor (FIF) dan number of shares (NOS). MSCI juga menghentikan penambahan saham baru serta menunda kenaikan status saham dalam indeks. Kebijakan tersebut akan dievaluasi menjelang peninjauan indeks pada November 2026. Pengumuman hasil evaluasi diperkirakan keluar pada akhir Oktober. Sambil menunggu agenda tersebut, pelaku pasar tetap memantau arus dana asing dan perkembangan kebijakan MSCI sebagai bagian dari perhatian terhadap kondisi pasar saham Indonesia. Data jual bersih pada sesi I menunjukkan adanya tekanan dari transaksi investor asing, sementara keputusan dan pengumuman MSCI berikutnya masih menjadi agenda yang diperhatikan oleh pelaku pasar.

Tekanan terhadap saham-saham grup Prajogo Pangestu berlangsung ketika pasar domestik turut dibayangi perkembangan geopolitik dan agenda ekonomi global. Salah satu perhatian utama berasal dari laporan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump mempertimbangkan pemberian bantuan kepada Arab Saudi untuk menyerang kelompok Houthi di Yaman, menyusul serangan mematikan di Bandara Riyadh. Rencana tersebut dinilai berpotensi membawa Amerika Serikat ke front baru dalam perang Iran, sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan, harga energi, serta arah aliran modal global.

Pelaku pasar juga menantikan sejumlah data ekonomi penting pada Rabu, 14 Oktober 2026. Amerika Serikat dijadwalkan merilis data inflasi, sementara China akan mengumumkan data inflasi dan neraca perdagangannya. Angka-angka tersebut dapat memengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan moneter, prospek pertumbuhan ekonomi, dan sentimen risiko di pasar keuangan. Perhatian berikutnya tertuju pada pertemuan IMF dan Bank Dunia yang berlangsung pada 12–18 Oktober 2026, serta rangkaian pidato sejumlah pejabat Federal Reserve pada 14–16 Oktober.

Rangkaian agenda itu berpotensi meningkatkan volatilitas karena investor akan mencermati sinyal mengenai inflasi, suku bunga, dan ketahanan ekonomi global. BRI Danareksa Sekuritas menilai prospek IHSG dalam jangka pendek cenderung negatif, sejalan dengan tekanan jual yang masih berlangsung dan ketidakpastian geopolitik yang belum mereda. Risiko terhadap pasar saham domestik dapat meningkat apabila inflasi Amerika Serikat tercatat lebih tinggi daripada perkiraan. Kondisi tersebut berpotensi memperkuat dolar AS, menekan nilai tukar rupiah, serta mendorong keluarnya dana asing dari pasar saham Indonesia.

Baca juga: Koreksi IHSG dan Pergerakan Saham Prajogo Pangestu | Indeks Harga Saham Gabungan Ditutup Turun Signifikan