Palembang | Provinsi Sumatra Selatan mulai memasuki periode puncak suhu maksimum utama pada Oktober 2026. Pada fase ini, suhu udara rata-rata diperkirakan berada pada kisaran 35–37 derajat Celsius, terutama di sejumlah wilayah dataran rendah dan kawasan yang lebih rentan mengalami peningkatan panas. Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian masyarakat karena cuaca panas dapat meningkatkan risiko kekeringan serta mempercepat munculnya titik api.
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel, Wandayantolis, menyampaikan informasi tersebut pada Senin, 12 Oktober 2026. Ia menjelaskan bahwa periode suhu maksimum utama merupakan bagian dari pola iklim musiman yang terjadi di Sumatra Selatan. Kenaikan suhu dapat dirasakan lebih kuat pada siang hingga sore hari, khususnya ketika tutupan awan terbatas dan hujan relatif jarang terjadi.
Wilayah dengan potensi suhu tertinggi berada di Kabupaten Ogan Komering Ilir dan Banyuasin. Suhu di kedua daerah tersebut diperkirakan berkisar 35 hingga 37 derajat Celsius. Karakteristik wilayah yang luas dan didominasi dataran rendah turut memengaruhi tingginya suhu udara maksimum.
Sementara itu, suhu di Musi Banyuasin, Ogan Ilir, Muara Enim, dan Kota Palembang diperkirakan berada pada rentang 25–35 derajat Celsius. Perbedaan suhu di setiap daerah dipengaruhi kondisi geografis, ketinggian wilayah, tutupan lahan, serta dinamika cuaca harian. Masyarakat di wilayah tersebut tetap perlu mengantisipasi dampak paparan panas, terutama saat beraktivitas di luar ruangan.
Adapun Pagaralam memiliki kondisi yang berbeda karena berada di wilayah dataran tinggi. Suhu udara di daerah ini diperkirakan berkisar 15–36 derajat Celsius. Rentang tersebut menunjukkan adanya perbedaan suhu yang cukup besar malam atau pagi hari dan siang hari. Informasi mengenai variasi suhu ini penting sebagai dasar kewaspadaan masyarakat terhadap cuaca panas dan potensi kekeringan selama periode maksimum utama berlangsung.
Periode suhu maksimum di Sumatera Selatan berkaitan dengan gerak semu tahunan matahari. Dalam pergerakan semu tersebut, posisi matahari telah melintasi garis ekuator dan bergerak menuju belahan bumi selatan. Perubahan posisi ini memengaruhi pola penerimaan penyinaran matahari di wilayah yang berada di selatan ekuator, termasuk Sumatera Selatan.
Namun, suhu maksimum tidak selalu langsung mencapai puncaknya pada saat penyinaran matahari berada pada tingkat paling tinggi. Peningkatan suhu permukaan bumi memerlukan waktu untuk merespons energi matahari yang diterima. Karena itu, periode dengan penyinaran maksimum dan periode ketika suhu udara mencapai nilai tertinggi dapat berlangsung pada waktu yang berbeda.
Jeda tersebut dikenal sebagai thermal lag, yaitu selang waktu periode penyinaran matahari maksimum dan respons suhu permukaan bumi terhadap energi tersebut. Istilah ini menjelaskan mengapa puncak suhu dapat terjadi beberapa minggu setelah matahari melewati atau mencapai posisi yang menghasilkan penyinaran maksimum. Dengan demikian, perubahan posisi semu matahari tidak serta-merta membuat suhu mencapai nilai tertinggi pada hari yang sama.
Menurut keterangan narasumber, kondisi suhu maksimum yang terjadi pada periode ini merupakan bagian dari proses tersebut. Matahari telah bergerak melintasi ekuator menuju belahan bumi selatan, tetapi permukaan bumi masih merespons energi yang sebelumnya diterima. Respons yang tertunda itu membuat kenaikan suhu berlangsung setelah periode penyinaran maksimum berlalu. Oleh sebab itu, suhu hingga 37 derajat Celsius dapat dipahami sebagai dampak dari adanya jeda respons permukaan bumi, bukan sebagai kenaikan yang langsung bersamaan dengan puncak penyinaran matahari.
Prakiraan cuaca di Sumatera Selatan menunjukkan adanya peluang hujan di sejumlah wilayah meskipun sebagian daerah masih menghadapi periode suhu tinggi. Kondisi ini perlu diperhatikan karena hujan tidak serta-merta terjadi merata di seluruh provinsi. Warga tetap disarankan memantau perkembangan cuaca setempat, terutama ketika beraktivitas di luar ruangan atau berada di kawasan yang rentan terhadap kebakaran hutan dan lahan.
Pada pagi hari, hujan diprediksi turun di Musi Rawas Utara. Hujan pada awal hari dapat membantu meningkatkan kelembapan udara dan membasahi permukaan tanah di wilayah tersebut. Namun, kondisi tersebut bersifat lokal sehingga tidak dapat menjadi gambaran bagi seluruh wilayah Sumsel. Daerah lain masih mungkin mengalami cuaca panas atau cerah pada waktu yang sama.
Memasuki siang hingga sore, hujan ringan berpotensi terjadi di Empat Lawang, Pagaralam, Lahat, Muara Enim, Musi Rawas Utara, dan Ogan Komering Ulu Selatan. Perubahan cuaca pada rentang waktu ini perlu diantisipasi oleh masyarakat yang memiliki kegiatan di luar rumah. Selain hujan ringan, hujan dengan intensitas sedang juga berpotensi mengguyur Lahat dan Pagaralam. Pengendara sebaiknya meningkatkan kewaspadaan karena jalan dapat menjadi licin dan jarak pandang berkurang saat hujan turun.
Pada malam hari, hujan ringan diprakirakan terjadi di Musi Banyuasin dan Musi Rawas Utara. Sementara itu, wilayah lain dapat mengalami kondisi yang berbeda, termasuk cuaca yang lebih kering dan suhu yang masih terasa tinggi. Perbedaan kondisi antarwilayah tersebut menunjukkan bahwa potensi hujan berjalan bersamaan dengan periode panas di Sumsel. Masyarakat perlu menggunakan informasi cuaca sebagai acuan untuk mengatur kegiatan, menjaga kecukupan air, serta menghindari pembakaran terbuka yang dapat meningkatkan risiko karhutla ketika udara dan lahan masih kering.
Meningkatnya suhu udara hingga 37 derajat Celsius membuat kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) perlu diperkuat. Musim kemarau masih berlangsung di sejumlah wilayah Sumatera Selatan, sementara keberadaan asap tetap menjadi perhatian karena dapat mengganggu jarak pandang, aktivitas masyarakat, dan kualitas udara. Kondisi panas yang berlangsung berulang juga dapat mempercepat pengeringan permukaan tanah serta tumbuhan di area terbuka.
Kelembapan tanah yang rendah dan vegetasi yang mengering menyebabkan lahan lebih mudah terbakar. Apabila terdapat penyulutan, api dapat berkembang lebih cepat, terutama di kawasan yang memiliki banyak semak, rerumputan kering, atau tumpukan bahan mudah terbakar. Angin juga berpotensi membantu penyebaran api ke area yang lebih luas. Karena itu, masyarakat diminta tidak membakar lahan, kebun, maupun sampah, termasuk ketika pembakaran dianggap dilakukan dalam skala kecil.
Warga sebaiknya menghindari penggunaan sumber api di sekitar lahan kering, seperti puntung rokok, korek api, dan pembakaran sisa tanaman. Periksa pula lingkungan sekitar rumah atau kebun untuk memastikan tidak ada bara, sampah terbakar, maupun peralatan yang dapat memicu kebakaran. Jika melihat asap atau titik api, masyarakat perlu segera melaporkannya kepada aparat setempat agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.
Cuaca sangat panas juga perlu dihadapi dengan menjaga kondisi tubuh. Kurangi aktivitas fisik berat, terutama pada siang hari, gunakan pelindung seperti topi dan pakaian ringan, serta penuhi kebutuhan air minum secara berkala. Saat asap muncul, batasi aktivitas di luar ruangan dan gunakan masker yang sesuai untuk mengurangi paparan. Kewaspadaan bersama, pencegahan karhutla, pengurangan paparan asap, dan perhatian terhadap kesehatan dapat membantu melindungi masyarakat selama periode kemarau.
Baca juga: Tingkatkan Kesadaran Bahaya Karhutla, TNI Kembali Laksanakan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Sambas | Tragedi Di Balik Penanganan Karhutla: Kehilangan Dua Relawan di Kalimantan Tengah | Satgas Karhutla TNI Mediasi Masyarakat dan Korporasi di Melawi
